I am a Virgin

I am a Virgin
41. Takut Kehilangan


__ADS_3

Elena diam saja. Kepalanya tertunduk menatap tas yang dijinjing. Tubuhnya gemetar. Rasa sesal menggelayut di dadanya. Bukankah seharusnya ia gembira mendengar Salva telah dioperasi? Tapi kenapa ia justru terkejut dan menyesal? Benar, benar ia gembira mendengar kabar itu. Tapi disela kegembiraannya itu terselip rasa sesal yang meluluhlantakkan kegembiraannya dalam sekejap.


Elena merasakan seluruh organ tubuhnya menjadi lemas. Ya Tuhan, ooh… Ya Tuhan, lalu buat apa uang yang dibawanya itu? Sia-sia ia berjuang mendapatkan uang dengan cara yang sangat buruk. Sangat buruk. Bahkan ia sempat berpikir untuk dapat hidup enak dengan sisa uang itu. Hasutan apa yang sempat melintas dan mengotori pikirannya? Jika sejak awal ia tahu bahwa Revan sanggup mendapatkan uang untuk biaya operasi Salva, tentu ia tidak akan melakukan hal konyol yang menjatuhkan harga dirinya sendiri. Memang ia sendiri yang tidak mau mendengar penjelasan Revan. Dia meragukan kemampuan Revan hingga akhirnya memilih untuk menemui Om Davin. Ya Tuhan, dia telah salah mengambil langkah.


“Ada orang baik yang bersedia ngasih duit buat biaya operasi,” jelas Revan. “Dimana kita punya keyakinan, Tuhan pasti akan kasih jalan. Inilah kenyataannya. Tuhan kirimkan orang baik untuk ngebantu operasi Salva.”


Elena tidak bisa menyahut. Hatinya masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Masihkah ada manusia yang bersedia memberikan uang secara cuma-cuma tanpa meminta imbalan di tahun serba duit begini? Sedangkan Om Davin yang tajir saja tidak mau menyerahkan uangnya jika Elena tidak memberika imbalan yang setimpal. Lalu mungkinkah Revan menerima uang itu tanpa usaha? Ah, tidak mungkin. Revan pasti tidak jujur. Dia pasti menyembunyikan sesuatu. Entah dari mana dia mendapatkan uang itu. Pikir Elena curiga.

__ADS_1


“Apa itu?” tanya Revan yang mengikuti pandangan Elena pada tas hitam.


Elena diam. Penyesalan yang membekap membuatnya tak mampu berkata.


“Elena, apa itu?” ulang Revan mulai curiga melihat tas bagus ada di tangan Elena. Revan merebut tas itu dan melihat isinya. Matanya terbelalak. Jantungnya berdetak keras. “Dari mana lo dapetin uang sebanyak ini?” tanyanya dengan intonasi tinggi.


Elena menatap Revan dengan pandangan bimbang. Ragu untuk menjawab. Tak mungkin ia menjelaskan apa yang telah terjadi.

__ADS_1


Elena masih diam. Bingung harus berkata apa.


“Elena, jawab gue! Dari mana uang itu?” seru Revan mulai tak sabar.


“Lo nggak perlu tau,” lirihnya merasakan penyesalan mendalam. Suaranya bergetar.


“Nggak perlu tau?” bola mata Revan yang hitam bergerak-gerak. “Banyak hal yang udah kita lalui bersama, Elena. Kita udah bertahan dengan baik atas segala kesulitan yang ada. Dan perlu lo tau, gue nggak harus bertahan dalam kesulitan itu jika gue mau. Tapi lihatlah, sampai saat ini gue tetap bertahan. Itu karena gue perduli. Gue sangat sangat dan sangat perduli sama lo. Gimana bisa lo bilang gue nggak perlu tau?”

__ADS_1


Elena menelan dengan susah. Lehernya tercekat. Masih sudikah Revan mengenali perempuan sepertinya? Dadanya sesak oleh perasaaan takut kehilangan.


TBC


__ADS_2