I am a Virgin

I am a Virgin
63. Terasa Berat


__ADS_3

Lalu, sampai kapan Revan mengarungi hidup seperti sekarang? Menumpang hidup di rumah seorang gadis. Bukankah ia masih memiliki kehidupan lain? Sungguh hatinya merasa sangat berat meninggalkan kehidupan yang sekarang. Kehidupan yang terlanjur membuatnya merasa nyaman. Merasa berada di tengah-tengah orang yang dicintai.


Elena, satu alasan itulah yang membuatnya tetap bertahan. Entah sampai kapan. Suatu saat ia pasti akan pergi, tapi tidak sekarang. Masih begitu berat meninggalkan kebersamaan yang mungkin tidak akan terjalin lagi bila sudah ditinggalkan.


Revan berkemas akan pergi. Ia ingat harus melakukan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan pada Elena. Kemudian ia meneguk air mineral dan mengembalikan gelas ke meja kecil. Lalu melangkah keluar rumah.


“Hei.. Lo mau kemana?” teriak Elena yang melihat kepergian Revan.


Revan menoleh. Tersenyum. Kakinya tetap terus melangkah. Kemudian tangannya melambai.


Elena melipat dahi. Heran. Kayu bakar masih banyak. Air dalam ember persediaan untuk mencuci piring juga masih banyak. Revan tidak membawa karung sebagai tempat menampung barang bekas. Lalu mau kemana dia? Elena terus memperhatikan punggung Revan hingga mengecil.

__ADS_1


Nyebelin, apa mau nemuin Aini? Pikir Elena mulai cemburu.


Akhir-akhir ini sikap Revan sedikit berubah. Pria itu tidak menjelaskan dari mana asal uang operasi Salva. Ia tidak mengatakan dari mana asal pakaian baru yang dipakainya. Apakah mungkin Revan meminjam uang dari Aini? Pikir Elena bertanya-tanya.


Kecemburuan Elena menepi ketika ingatannya melayang pada kejadian tempo hari, ketika Revan mengaku perduli padanya.


Lo nggak ngerti seberapa besar rasa kecewa gue atas perilaku lo ini. Lo nggak ngerti seberapa besar rasa sayang gue ke lo. Lo tau? Keperdulian gue tumbuh hanya karena gue sangat mencintai lo.


Sudahlah, ia tidak mau memikirkan banyak hal, sekarang ia harus fokus memikirkan bagaimana caranya bisa mencari uang untuk Om Davin. Jika tidak, ancaman itu pasti akan jadi kenyataan. Tidak. Ia tidak ingin mendekam di balik jeruji besi. Ancaman Om Davin berhasil membuatnya seperti dikejar pocong. Ketakutan. Tiba-tiba otaknya teringat satu nama.


***

__ADS_1


Usai mencuci piring, Elena membiarkan piring yang amsih basah berada di baskom. Sejenak ia berpikir, langkah apa yang harus ia tempuh untuk mendapatkan uang pengganti yang hilang?


Elena bangkit berdiri, mengambil uang dari bawah papan tempat tidur Salva lalu memasukkannya ke dalam kantong baju lengan panjang yang menggantung di paku. Lalu ia menyambar baju berlengan panjang itu dan mengenakannya sambil berjalan keluar. Langkahnya lebar menyusuri jalan setapak yang di kiri dan kananya ditumbuhi rerumputan hijau.


Matahari masih rendah, sengatannya belum seberapa memanas. Elena tersenyum sejenak menikmati hangatnya sentuhan cahaya murni dari sang Maha Agung, terasa begitu menenangkan. Embun sudah mongering dan langkah Elena tak lagi tersentuh kelembabannya seperti biasanya saat ia mencuci baju ke sungai di pagi buta.


Elena naik becak saat sudah berada di jalan raya. Ia menyebut sebuah alamat pada tukang becak yang sedang mengayuh. Sekilas pandangan Elena tertuju pada Bapak tua yang diprediksi usianya lebih muda dari wajahnya. Kulitnya kering mengeriput, legam terbakar matahari. Urat-urat di wajah dan lengannya yang kurus, mencuat ke permukaan kulit. Menandakan organ tubuhnya yang sering mengerahkan tenaga keras.


TBC


KLIK LIKE

__ADS_1


__ADS_2