
“Davin ngajak ketemu dimana?” tanya Revan pada Elena.
“Di hotel,” jawab Elena tegas.
“Dasar otak mesum!” lirih Revan diiringi senyum kemurkaan. “Oke, kita ikuti permainannya. Dia akan terkejut ngeliat lo dateng nggak sendirian. Ayo, naik!” perintah Revan.
“Tapi gue belom pamitan sama Tante Vira.”
“Soal itu biar gue yang urus.” Revan menarik tangan Elena agar naik ke motor.
Elena menuruti.
Motor melesat meninggalkan satpam yang mengintip melalui celah pagar. Satpam tersenyum tipis mengingat masa mudanya saat pacaran.
***
Langkah Elena terburu-buru memasuki sebuah hotel dimana ia pernah ke sana bersama Om Davin. Ia sudah tak sabar ingin segera melemparkan uang itu ke muka Om Davin supaya hubungannya dengan pria buncit itu segera berakhir. Ia ingat dimana kamar yang pernah dia masuki. Disanalah Om Davin menunggunya. Revan mengiringi langkah Elena di samping. Mereka menelusuri koridor panjang di lantai pertama.
__ADS_1
Sampai di depan sebuah pintu, Elena berhenti. Revan mendekati Elena. Mereka bersitatap.
“Ini?” tanya Revan menunjuk pintu.
Elena mengangguk.
Revan mengetuk pintu.
“Masuk!” perintah suara dari dalam penuh semangat.
“Ayo, sayang. Jangan lama-lama di situ. Pijit dulu punggungku.”
Revan menatap badan pria itu dengan pandangan jijik. Ingin meludah.
“Sayangnya kulitmu akan mengelupas kalo gue yang memijit,” sahut Revan membuat Om Davin langsung membalikkan badan.
Revan tersenyum lebar menatap wajah Om Davin yang terkejut. Lelaki tengah baya itu bangun dan menatap bingung pada Revan. Ia ingat lelaki di hadapannya itu adalah orang yang pernah membantu Elena berjualan soto.
__ADS_1
“Kau…?” Om Davin bingung sembari membenahi ekspresi wajahnya agar tidak terlihat kaget. Agar tetap terlihat biasa saja.
Tapi Revan tidak bisa dibohongi. Ia tahu lelaki hidung belang itu sedang terkejut dan kecewa karena gadis yang diharapkannya tidak muncul, justru lelaki yang datang.
Elena masih berdiri di luar. Tiba-tiba ia merasa jijik untuk masuk. Rasanya ia tak sudi memasuki tempat itu. Tempat yang membuat ingatannya melayang pada saat Om Davin menimpa tubuhnya. Di spring bed itu. Di kamar itu. Hah, rasanya Elena mendadak ingin pergi jauh. Ingin muntah. Muak. Namun ia mempertahankan kakinya untuk tetap menjejak di depan pintu.
Revan mengambil tiga gepok uang dari balik kemejanya dan melemparnya ke atas spring bed.
“Lunas,” kata Revan geram.
Om Davin mengamati uang itu dengan pandangan kecewa. Marah. Kesal. Sudah melayang otaknya pada kejadian manis bersama Elena. Ketika Elena datang, ia akan langsung melontarkan bujuk rayu. Memaksa bila memang Elena menolak. Gadis miskin seperti Elena tentu tidak punya daya untuk melawannya. Tapi apa yang diharapkannya tidak terjadi. Ia terlihat sangat kesal.
Satu hal yang sejak tadi membuatnya tertawa adalah ketakukan Elena akan ancamannya. Padahal sesungguhnya itu hanyalah sekedar ancaman, ia tidak akan rela melihat gadis yang diinginkannya itu terkurung dalam penjara.
TBC
KLIK LIKE YAP
__ADS_1