I am a Virgin

I am a Virgin
15. Terharu


__ADS_3

“Ngomong, kek. Diem-diem nongol. Kayak hantu aja,” celetuk Elena.


“Belum hilang juga galaknya?” goda Boy membuat ujung bibir Elena tertarik. “Nih, gue bawain air hangat.”


Elena menatap air mineral hangat yang disuguhkan. Tak ada teh ataupun gula untuk membuat air di dalam gelas menjadi lebih nikmat untuk diseduh.


“Kenapa menyendiri?” tanya Boy.


“Di sini yang ada cuma gue, lo dan Salva. Salva udah tidur. Apa gue mesti ngajakin lo ngobrol biar nggak menyendiri, gitu?”


“Seharusnya.”


Jawaban yang begitu Pe De, membuat senyum Elena kembali merekah.


Kedatangan Boy di sisi Elena membuat suasana menjadi hangat. Seketika, Elena merasakan kenyamanan bernuansa damai. Lalu mereka berbincang. Tentang langit, tentang bintang, tentang sekolah Salva, tentang Ayah, tentang Ibu, lalu mengulang cerita tentang kematian Dava yang membuat air mata Elena menggenang di pelupuk mata, kemudian jatuh membasahi pipi. Tak ada yang bisa membuat air mata Elena berguguran selama ini. Tapi kematian, selalu saja menghadirkan air mata. Mengingatnya saja, sudah membuat rasa kehilangan itu kembali.


Spontan tangan Boy maju. Menghapus air mata di pipi Elena. Hatinya tersentuh mendengar kisah mengharukan yang bukan hanya sekali ia dengar.


Boy terharu ketika Elena menceritakan bagaimana perjuangannya mempertahankan kehidupan Dava, bagaimana Dava menghembuskan nafas terakhir. Padahal kisah Dava tak hanya sekali diceritakan Elena di malam-malam sebelumnya. Berulang. Dan selalu diulang. Kematian Dava meninggalkan luka menyayat yang sulit dilupakan sehingga Elena selalu mengulangnya.


“Hei... Jangan baper.” Elena menampik tangan Boy yang menyentuh pipinya.

__ADS_1


“Aw!” Boy mengibaskan tangannya. “Main gaplok aja. Sakit tauk.”


“Lo kan cowok, masak gitu aja ngeluh. Cowok tu harus kuat. Harus jadi jagoan. Jangan cemen.”


“Yang namanya sakit ya tetep sakit. Mana bisa ditahan-tahan.”


“Ya udah deh, sekarang gantian lo yang cerita. Dari kemarin gue mulu, mulut gue kering.”


Boy terdiam. Memangnya apa yang bisa ia ceritakan untuk berbagi kisah? Ia tidak ingat apa-apa tentang masa lalunya. Ia tidak punya satu pun kisah yang bisa dibagi-bagi. Yang ia tahu, ia mencari kayu bakar dan membantu Elena memungut barang bekas. Apa ia harus menceritakan kisah yang sama sekali tidak menarik itu?


Mata gelap Boy mengawasi wajah Elena. Cantik. Sangat cantik. Sayangnya tidak terawat sehingga terlihat apa adanya. Andai saja nasib Elena lebih baik, pasti ia menjadi perempuan istimewa yang dikagumi banyak lelaki karena penampilannya lebih terawat.


Malam berganti dini hari, angin berubah semakin dingin, bintang bergerak dan berubah dari posisi awal, Elena dan Boy masuk. Mereka saling pandang saat suara keroncongan memecah kesunyian.


“Perut lo juga.”


“Masak sih?”


“Ha haaa.....”


Keduanya tertawa serentak.

__ADS_1


Boy secepatnya menuju dapur sembari menyambar nasi dalam panci.


“Mau ngapain?” tanya Elena yang mengikuti Boy ke dapur.


“Bikin nasi goreng.”


“Emangnya lo tau cara bikinnya?”


“Gue sering ngeliat elo masak. Gue rasa, inilah saatnya gue praktikin.”


“Oke. Biar gue yang bikin bumbunya.”


“Sip. Kerja sama yang bagus.” Sesaat Boy terdiam dan mengamati sekeliling. “Dapur kecil gini masak pun berdua. Sempit.”


“Udah, nggak usah bawel. Sebentar gue juga selesai, kok.”


“Lama juga nggak pa-pa, biar bisa senggol-senggolan.”


“Jangan ambil kesempatan di tengah kesempitan ya?” ucap Elena bernada mengancam.


Boy **** senyum.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2