
Revan yang telah terlanjur kecewa, ia berbalik. Berjalan lemas meninggalkan Elena bersama luka yang tertanam dalam.
“Revan!!” panggil Elena keras.
Revan tak menghiraukan. Langkahnya lebar meninggalkan Elena.
Tubuh Elena terayun ke bawah dan jatuh bersimpuh. Terduduk di aspal. Menatap punggung Revan yang semakin menjauh seperti sedang melepas kepergian Revan untuk selamanya.
Ya Tuhan, akankah Revan meninggalkannya untuk selamanya? Akankah Elena kehilangan perhatian lelaki yang baru saja membuat dunianya berubah indah oleh cinta? Hatinya kebas. Ia tidak ingin berpisah dari Revan. Ia tidak ingin kehilangan lelaki itu. Kemarahan dan kekecewaan Revan atas perbuatannya membuat batinnya dipenuhi rasa sesal yang menyesakkan dada. Air matanya berguguran. Suara tangisnya membuat langkah Revan terhenti. Tapi tidak menoleh.
“Revan, jangan tinggalin gue!” teriak Elena.
__ADS_1
Revan menarik nafas dalam. Memejamkan mata sebentar, berusaha mengusir luka. Tapi hatinya perih. Langkahnya kembali melaju.
“Gue nggak ngelakuin apapun sama Om Davin,” teriak Elena lagi. Namun teriakannya tak membuat langkah Revan terhenti.
Sesungguhnya hati Revan keberatan meninggalkan Elena. Tapi kakinya tetap terus berjalan.
Mustahil Elena tidak melakukan apapun dengan Om Davin. Elena sudah membohonginya. Tak mungkin Om Davin memberikan uang kepada Elena tanpa mendapat imbalan yang dia inginkan. Pikirnya.
“Revan!” lirih Elena menatap punggung Revan. Tangisnya semakin menjadi. Rasa takut kehilangan semakin menghantui. Kepalanya tertunduk. Melepas tangis sepuasnya. Buliran air mata terus berjatuhan membanjiri pipi tiada ampun. Sebaris doa bertumpu di benaknya, Tuhan, tolong jangan jauhkan aku dari dia! Jika Kau telah ambil ayah, bunda dan Dava dari kehidupanku, sekarang jangan jauhkan aku dari dia.
Lelaki tampan itu mengulurkan tangannya. Elena malah diam tak bergerak merasa tak yakin Revan kembali untuknya. Padahal dia baru saja merasa kehilangan.
__ADS_1
Sesaat tersadar, barulah Elena meraih telapak tangan Revan dan bangkit berdiri. Harapannya kembali begitu saja. Harapan untuk mendapatkan cintanya. Lalu ia menubruk dada bidang Revan dan memeluk tubuh gagah itu erat-erat.
“Revan, gue nggak ngasih imbalan apapun sama Om Davin. Gue masih seperti semula. Nggak ada yang berubah dari gue.”
Sepintas benaknya bertanya, kenapa ia begitu berharap Revan mempercayainya? Entahlah, sejak saat kata-kata cinta itu terucap dari bibir Revan, hatinya tersentuh sebuah rasa yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Riang. Gembira. Bahagia. Rasa sayang tertanam begitu dalam di lubuk hatinya.
Revan tidak membalas pelukan Elena. Tangannya terayun di bawah. Rasanya ingin membalas pelukan, tapi berat. Ia masih menganggap Elena berbohong. Perempuan itu hanya sedang memberinya keyakinan saja. Memangnya lelaki gatal seperti Om Davin rela menyerahkan uang dalam jumlah sebesar itu kepada seorang perempuan yang tak dikenal? Pertanyaan itu terus melintas di pikirannya. Tiga puluh juta bukanlah sedikit. Revan kecewa berat.
“Revan, kita balikin aja uang ini ke Om Davin.”
Revan tidak menjawab. Beginikah cara Elena menutupi kebohongan? Rela mengembalikan uang itu demi mengambil kepercayaannya? Tapi tetap saja, semua itu tidak mengembalikan kepercayaan Revan seperti semula. Karena pandangannya tentang Om Davin tidak berubah, pasti Om Davin telah mendapatkan apa yang dia harapkan.
__ADS_1
TBC
jangan lupa klik tombol like 👍