I am a Virgin

I am a Virgin
86. Extra Part 4.a


__ADS_3

Elena menatap dirinya di dalam cermin. Ia mengenakan kemeja dengan lengan sepanjang siku, dan rok sepan di bawah lutut. Rambutnya sudah disalon seihngga terlihat rapi dan berkilau, wajahnya baru saja dia rias minimalis, kaki jenjangnya dibalut sepatu dengan heels yang tidak terlalu tinggi. Sebuah tas jinjing menggantung di pundaknya. Ia benar-benar terlihat seperti orang kantoran sekarang.


Berkali-kali batin Elena bersyukur melihat penampilannya yang sekarang. Setelah dulu ia selalu terlihat kumuh, kini penampilannya berubah drastis. Harapannya untuk bisa menjadi wanita karier pun hampir tercapai. Tuhan tidak pernah tidur, ia selalu menunjukkan jalan terbaik untuk Hamba-Nya.


“Waow... Kakak cantik banget!” Salva memasuki kamar dan membanting tubuhnya yang sudah mengenakan seragam merah putih ke atas kasur.


“Masak, sih?” Elena ngeles.


“Serius. Hampir aja Salva nggak kenal sama Kakak. Kakak kayak orang lain.” Salva memperhatikan penampilan kakaknya yang jauh berbeda.


“Udah, kamu jangan kebanyakan muji-muji gitu, entar gede hidung kakak jadinya. Udah sarapan belum?” Elena balik badan dan menatap ke arah adiknya.


“Udah, Kak. Telur dadar buatan kaka enak banget. Sampai nambuh tadi sarapannya.”


“Ya udah, pergi sana ke sekolah.”


“Oke, siap!” Salva turun dari ranjang dan berlari keluar.

__ADS_1


Elena terduduk di sisi kasur. Ia menatap ponselnya. Ponsel pemberian Revan. Tidak ada dering masuk. Ia menunggu panggilan dari Revan. Pria itu berjanji akan menjemputnya dan membawanya ke kantor tempat pertama kali Elena akan bekerja. elena sangat bersemangat hingga jam setengah tujuh ia sudah terlihat rapi dan siap untuk berangkat kerja.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu menelepon juga. Revan meneleponnya.


Elena menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga. “Halo, Van!”


“Halo, sayang!”


Elena membelalak mendengar panggilan sayang seiring dengan degupan jantungnya yang terasa kuat.


“Kamu udah siap untuk pergi ke kantor?” tanya Revan dis eberang.


“Aku tahu kamu disiplin banget, jam segini udah siap. Tapi maaf, aku nggak bisa jemput kamu. Soalnya Papi mengajakku meninjau lokasi untuk proyek baru. Kamu jangan marah, ya. Kamu bisa kan pergi ke kantor sendirian? Kamu kan udah tahu alamat kantornya. Aku udah telepon asistenku untuk mengurus kedatanganmu di kantor nanti. Tapi tenang aja, aku bakalan cepet kembali dan menyusulmu ke kantor, kok. Oke? Nggak pa-pa, kan?”


“Nggak pa-pa.” Elena menjawab dengan semangat.


Revan tersenyum bangga. Ia yakin Elena adalah gadis mandiri, dia tidak cengeng, tidak manja, juga gigih. Dia pasti bisa menjalani semuanya sneidir tanpa harus dituntun oleh Revan.

__ADS_1


“Ya udah, aku tutup teleponnya. Kamu hati-hati!”


“Makasih, Van. Kamu juga hati-hati, ya!”


“Ehm.. Seneng banget aku tuh diperhatiin kamu begini.”


“Bisa aja kamu. Ya udah ah, selamat bekerja.”


“Good lock, sayang!”


Elena menatap ponsel yang hanya tinggal durasi saja yang terlihat. Jantungnya masih berdegup kencang mengingat setiap perkataan Revan. Rasanya bahagia sekali mendapat perlakuan seistimewa itu dari pria yang dia cintai.


Elena memasukkan ponsel ke tas. Lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar rumah. Ia berangkat ke kantor dengan menggunakan ojek online.


Sepanjang perjalanan, berbagai bayangan menyerbu benaknya. Bagaimana indahnya sata ia berada di meja kerja nantinya. Pasti sangat menyenangkan. Sungguh, cita-citanya yang ia pendam selama ini tercapai tanpa harus ia menuntut ilmu di bangku kuliah. Dengan ijazah SMA, ia sudah bisa bekerja di perusahaan besar dengan jabatan dan gaji yang menggiurkan.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2