I am a Virgin

I am a Virgin
38. Keperawanan


__ADS_3

“Nggak, Om. Nggak ada orang yang berani ngerampas sesuatu dari gue. Nggak ada seorang pun yang nganggep orang kumal kayak gue bawa duit banyak.”


“Elena, Om nggak punya waktu untuk bolak-balik. Ikut sajalah! Kita bisa bicarakan soal cara pengembalian uang itu di dalam mobil.”


“Tapi Om nggak akan ngapa-ngapain gue kan?” tanya Elena polos.


Om Davin tertawa terkekeh. Ia berjalan mendekati Elena dan meletakkan kedua tangan di atas meja. Wajahnya mendekati wajah Elena.


“Elena Elena… Jangan berpikiran buruk. Realistis saja, Elena. Kamu butuh uang, dan saya bisa kasih uang yang kamu butuhkan. Lalu kenapa mesti membuang kesempatan emas ini? Dalam hitungan detik saja, saya bisa berubah pikiran, dan soal uang sebanyak itu bisa batal.”


Elena mengerutkan dahi. Gawat jika Om Davin membatalkan niatnya. Uang yang hampir diterimanya bisa hangus. Adiknya akan gagal dioperasi. Baiklah, ia harus berjuang demi kesembuhan Salva. Apapun resikonya.


“Oke,” ujar Elena setelah agak lama berpikir. Lalu ia berdiri dan mengikuti Om Davin keluar kafe setelah lelaki itu membayar di kasir.


Mereka memasuki mercedes benz. Duduk bersebelahan. Jantung Elena berdetak lebih kencang. Duduk bersebelahan dengan lelaki buaya rasanya seperti menjadi tawanan saja. Mengerikan. Mobil melaju meninggalkan kafe.

__ADS_1


“Jadi gimana itung-itungan gue ngebalikin uangnya? Berapa nominal angsuran setiap bulannya?” Elena memulai pembicaraan.


“Semampumu saja.”


Elena mengerutkan dahi. Semampunya? Namun ia tidak mau bertanya lagi. Anggap saja itu adalah bonus.


***


Mercedes benz berhenti di depan sebuah bangunan mewah. Lampu-lampu bertaburan menyala menerangi seluruh isi bangunan.


“Gue butuh duitnya,” ketus Elena mulai merasa was-was dengan gelagat buruk. “Hotel bukan tempat ngambil duit.”


Om Davin tersenyum, menggaruk dagu, lalu berkata, “Uangnya sudah saya ambil dan saya tarok di kamar hotel.”


Elena menggigit bibir bawah. Kenapa uangnya tidak dibawa saja ke kafe tadi? Kenapa mesti ditarok di hotel? Lelaki tua itu pasti telah memesan kamar sebelumnya. Dasar picik. Tapi mau bagaimana lagi? Elena sangat membutuhkan uang itu.

__ADS_1


“Bisa dibawa kesini aja? Gue tunggu di sini,” ujar Elena berusaha menghindari sesuatu yang buruk. Memang tak mudah baginya menerima uang tanpa terpenuhi hasrat lelaki buaya darat itu.


“Jadi, kamu suruh saya ke dalam sana sendirian mengambil uangnya?”


“Ya,” tegas Elena.


“Saya nggak akan keluar setelah masuk ke sana! Mengerti? Ayolah!” Om Davin menarik tangan Elena.


Yang ditarik pasrah mengikuti. Tangan kokoh Om Davin yang berotot menyentuh pergelangan tangannya. Pikiran buruk menyerbu otak Elena. Lelaki itu akan merusak kehormatannya. Lalu lepaslah mahkota berharganya sebagai wanita di tangan lelaki tua.


Sesaat perasaan ngeri menyerang. Namun ia berusaha melenyapkan perasaan itu. Membujuk hatinya agar tidak gentar, menata situasi hati senormal mungkin. Tapi sisa perasaan ngeri pada lelaki mata keranjang masih membekap.


Salva. Elena teringat Salva. Teringat tangisannya. Teringat kematian Dava yang tidak tertolong akibat lambat ditangani. Ah, biarkanlah keperawanannya lepas. Ikuti saja situasi itu seperti air mengalir asalkan uang itu didapatkannya.


Setidaknya setelah ini dia akan terlihat lebih rapi dengan penampilan yang lebih baik dan pakaian yang layak. Satu lagi, tidak lagi menerima pandangan cemeeh.

__ADS_1


TBC


__ADS_2