
“Elena!” panggil Revan membuat kepala Elena menoleh ke arah pria itu.
“Hm. Kenapa?”
“Aku mau bicara sesuatu, ini menyangkut hubungan kita. Tapi kamu janji, jangan pernah menyerah dengan hubungan ini meski apa pun yang terjadi.”
Elena mengernyit kaget. Ucapan Revan seakan-akan menunjukkan bahwa hubungan mereka sedang berada di ambang waspada.
“Ada apa, Van? Apa orang tua lo nggak suka sama gue? Mereka udah kenal gue sebelum ini, Van. Mereka pernah bertemu gue saat gue mendorong gerobak. Apa itu alasannya? Gue cukup sadar diri dengan posisi gue, kok. Lo nggak usah cemas. Semua kaan baik-baik aja.”
“Astaga, Elena! Lo ngomong apa?” Revan mengusap wajah frustasi. Belum sempat ia mengutarakan kasus yang menimpa, dugaan Elena sudah terlalu jauh. “Bukan itu maksud gue.”
“Lalu?” Elena mengangkat alis.
Revan meraih kedua tangan Elena dan menatap gadis itu lamat-lamat. “Ingat satu kalimat ini baik-baik, gue Cuma sayang sama lo.”
“Hm. Trus apa lagi?” Elena tidak sabar.
“Nyokap gue seneng banget kok kalau lo jadi calon pendamping hidup gue, sebab beliau katanya udah mengenal lo sebagai gadis baik. Dan beliau mengagumi lo. Hanya saja...”
“Hanya saja apa?” Elena mengernyit semakin tidak sabar mendengar penjelasan Revan.
“Mmm...”
“Plis, Van. Jangan bikin gue penasaran. Lo ngomong sepatah-patah gitu.”
“Mm... Maksudnya, kita jangan lagi pakai bahasa lo-gue, rasanya nggak cocok. Karena kita udah jadi sepasang kekasih.” Entah kenapa begitu berat Revan mengatakan segala isi kepalanya tentang Dinda. Revan takut Elena akan mundur dan bahkan menjauh dari kehidupannya jika mengetahui semua itu. Ia belum siap dengan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Elena adalah gadis yang telah mengukir banyak kisah di hidup Revan, ia tidak ingin gadis itu menghilang dari kehidupannya. Ia sangat mengenal Elena, gadis keras kepala, mudah marah, namun juga sangat istimewa. Hatinya baik dan mengagumkan. Revan tidak bisa membayangkan jika akhirnya Elena memilih untuk pergi dari kehidupannya. Jika Elena sudah marah, Revan pasti akan kuwalahan menghadapi gadis itu. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengungkap keadaan yang sebenarnya. Revan yakin akan ada waktu yang tepat, dimana Revan sudah bisa mengenalkan Elena dengan Dinda dan mengajak kedua gadis itu bicara satu sama lain, saling terbuka, dan saling meluapkan isi hati.
“Astaga, kirain apaan. Cuma mau bilang itu aja kok mesti seserius ini. bikin gue jadi panik.”
“Elena, jangan pakai lo-gue lagi.”
“Lah, jadi?”
“Aku-kamu.”
__ADS_1
Elena mengulas senyum tipis. “Lidah gue eh aku kaku rasanya, Van. Udah kebiasaan gitu sih nyebutnya “
Revan tersenyum. “Entar juga terbiasa.”
Elena mengangkat alis saja. Ia kemudian menarik mangkuk dari hadapan Revan, membawanya ke wastafel, dan mencucinya.
“Elena, kamu perlu pakaian kantor untuk bekerja.”
“Iya, gue tahu. Gue juga baru aja mikirin itu. nggak mungkin kan gue ke kantor pake kaos atau daster robek. He heee...”
“Masih nyebut ‘gue’ mulu. Sebut ‘Aku’, Elena.”
“Eh, sorry. Masa bodo ah, udah kebiasaan sih.” Elena melambaikan tangan ke hadapan wajahnya. “Ya udah deh, aku akan mulai merubah dari sekarang.”
“Nah, gitu, dong. Mau aku anterin nggak?”
“Anterin kemana?” Elena balik badan dan menatap Revan.
“Ke mol nyari pakaian, sepatu, tas, dompet, alat make up, dan keperluan lainnya.”
“Ada ATM berjalan, namanya Revan. Jadi kamu tenang aja.” Revan tertawa setelah mengatakan hal itu.
“Aku nggak mau dinilai cewek matre karena dikira manfaatin kamu, Van. Dikit-dikit pake uang kamu. Kehidupanku selayak ini juga karena kamu, rasanya aku jadi kayak cewek matre beneran.”
Revan memutar mata. “Ini kulakukan atas kemuanku, Elena. Bukan atas permintaanmu. Bedakan itu.”
“Okelah, aku mau dibelanjain sama kamu sekarang, tapi uangnya nanti kuganti setelah aku dapet gaji.”
Revan menghela nafas. Tapi ia mengenal Elena sebagai wanita pekerja keras, ia yakin Elena mampu melakukannya. “Baiklah kalau itu maumu. Lakukan saja. Yang penting aku nggak pernah menganggap semua ini sebagai hutang.” Revan bangkit berdiri, berjalan mendekati Elena.
Elena mulai merasa tidak nyaman melihat tatapan Ervan yang tidak biasa, ia risih jadinya ditatap Revan seperti sekarang. Pria itu kini sudah berdiri di hadapannya. Elena mengalihkan pandangan ke lantai sata pandangan mereka bertabrakan selama beberapa detik lamanya.
“Elena!” panggil Revan dengan suara yang tidak pernah Elena dengar selama ini, nadanya terkesan sangat romantis.
“Hm,” jawab Elena sekenanya. Kedua tangannya pura-pura sibuk membersihkan debu yang menempel di baju dengan kepala menunduk. Jantung Elena serasa berlarian melihat kedua telapak tangan Revan mendarat di wastafel kiri dan kanan tubuh Elena. Otomatis posisi mereka kini sangat dekat. Bahkan Elena mampu mencium aroma tubuh Revan dengan sangat lekat.
__ADS_1
Revan membiarkan Elena berkutat dengan pekerjaan yang ia tahu hanyalah sebagai alasan untuk menghindari tatapannya. Ia mau tahu seberapa tahan Elena bersikap demikian di saat situasi seperti ini. Revan menatap wajah Elena yang menunduk dengan seulas senyum tipis, dan ia hanya bisa menjangkau kening gadis itu.
Tak tahan dengan posisi itu, Elena mendorong dada Revan seraya berkata, “Aku mau ke belakang, awas minggir!”
Revan menahan tangan Elena yang ada di dadanya. “Elena, kamu tahu kan kalau aku sayang banget sama kamu?”
Elena mengangkat wajah dan menatap Revan yang saat itu terlihat berbeda. Ya, tatapan Revan tidak biasa. “Iya, nggak Cuma sekali kamu bilang itu.”
“Jangan ragukan aku. Aku mau, kita tetap bersama dan menjadi pasangan bahagia.”
“Ah, kamu lebai. Yang meragukan kamu juga siapa.”
“Kalau begitu kamu janji nggak akan ninggalin aku, kan?”
“Seharusnya akulah yang mengucapkan kalimat itu.”
Revan tersenyum. Kemudian ia maju selangkah semakin mendekat. Beberapa detik keduanya saling tatap hingga akhirnya Elena tersadar wajah Revan sudah menempel di wajahnya, dan bibir itu... Elena mendorong dada Revan hingga tubuh pria itu mundur sedikit.
“Maaf,” lirih Revan sembari membuang pandangan ke samping. Ia jadi salah tingkah.
Elena menggaruk caruknya yang tidak gatal. “Aku mau ke belakang dulu. Halaman belakang belum sempat kusapu. Kamu kalau mau pulang, silahkan!” Elena beranjak pergi.
“Elena!”
“Apa lagi?” Elena menoleh.
“Kamu salah arah, pintu arah ke halaman belakang di sana!” Revan menunjuk pintu yang berlawanan dengan arah yang dituju Elena.
Muka Elena memerah seketika. Bagaimana bisa ia malah berjalan menuju ke ruangan depan sementara tujuannya kini adalah halaman belakang rumah. Astaga.
“E eh... iya ya? Aku berubah pikiran. Aku mau beresin kamar aja dulu.” Elena melenggang pergi seiring dengan senyum lebar yang tercipta di wajah Revan.
***
TBC
__ADS_1
Masih setia stay tune kan? Ayoo siapa yg masih menunggu?