
“Revan, kenapa aku yang harus tersakiti? Kenapa aku yang harus dilukai?” ucap Dinda di sela isak tangisnya. “Aku bahkan nggak bisa nyalahin siapa-siapa dalam situasi ini. Aku mencintai pria yang sekarang perasaannya udah berpaling dariku, lalu aku harus apa? Aku bener-bener nggak berguna, bisa-bisanya merasa tersakiti saat mendengar pria yang kucntai tidak mencintaiku lagi. Seharusnya aku bersyukur karena tahu di awal kalau cintaku nggak perlu diterusin karena hanya akan sia-sia, tapi kenapa sesakit ini? Aku bener-bener bodoh, kenapa harus merasa sesakit ini?”
“Dinda, jangan salahkan dirimu sendiri, kamu nggak salah. Aku yang salah karena lupa dengan perasaanku yang dulu.” Revan mendekati Dinda berusaha menenangkan tangis gadis itu.
“Revan, aku hanya ingin tetap menjadi kekasihmu, aku ingin tetap mendampingimu. Jangan katakan hal ini lagi ke aku. Aku ingin berusaha untuk membuatmu kembali mencintaiku. Berikan aku waktu untuk bisa mengubah perasaanmu, untuk bisa mengembalikan cintamu ke aku,” ucap Dinda sesenggukan.
“Apakah kamu yakin aku bisa kembali mencintaimu disaat ada gadis lain yang mengisi hatiku?”
“Jangan ucapkan itu! Jangan biarkan aku sendiri yang berjuang untuk mempertahankan hubungan kita. Kamu juga harus berjuang untuk melupakan wanita lain dalam pikiranmu, plis!”
Revan hanya bisa terdiam menatap setiap tetes air mata yang tumpah di pipi Dinda. Hatinya berdebnyut merasa menjadi pria paling egois dan kejam. Rasanya ia tak sanggup membiarkan gadis itu terbuai dalam tangisan.
__ADS_1
“Elena, apakah kamu masih mau melanjutkan hubunganmu dengan Revan? Plis, ijinkan aku untuk bisa mengembalikan Revan yang dulu, beri aku waktu untuk mengubah keadaan.” Dinda mendekati Elena dan memegang tangan gadis itu. “Aku sangat mencintai Revan. Harapan hidupku hanya kepadanya. Dan aku juga sudah merancang banyak hal untuk kehidupan kami mendatang. Tahukah kamu, bagaimana perasaanku saat Revan kembali di kehidupanku? Rasanya aku seperti terlahir kembali ke dunia baru yang terang setelah lama tenggelam di tempat yang teramat suram dan gelap. Lalu apakah kamu tega melihatku kembali ke tempat yang suram lagi?”
Elena menarik napas. Sejauh ini ia adalah gadis kuat, tabah dan teguh. Lihatlah, ia tidak menangis saat melihat gadis lain menangis dan memohon padanya supaya ia melepas cinta yang telah ia agung-agungkan selama ini, cinta yang dia harapkan akan membawanya menuju kepada keluarga yang sakinah.
“Dinda, aku…”
“Apa kamu sangat mencintai Revan?” potong Dinda.
“Aku sangat mencintainya. Dia adalah cowok yang menjadi tumpuan harapanku selama ini. Aku bahkan berpikir bahwa aku dan dia akan hidup bersama sampai maut memisahkan. Aku nggak bisa memberi keputusan, Dinda. Maaf. Aku serahkan keputusan pada Revan.”
“Maafin aku, Dinda,” ucap Revan terbata sembari menatap Dinda iba.
__ADS_1
Tangis Dinda semakin pecah, ia menoleh ke arah Elena, gadis itu sudah tidak ada di tempatnya. Dia sudah pergi.
“Revan, aku nggak bisa menerima keputusan ini. Aku nggak bisa.”
“Ajari aku untuk bisa memahami perasaanmu. Beri aku cara untuk bisa kembali mengingat perasaanku ke kamu,” bisik Revan dengan suara bergetar.
“Aku akan lakukan. Bersabarlah. Beri aku kesempatan. Dan jangan temui Elena supaya kamu bisa menguasai perasaanmu. Plis!”
“Dinda…” Lidah Revan terasa berat untuk bicara lagi. Bagaimana bisa ia terus menolak Dinda disaat keadaan begini. Permohonan Dinda benar-benar membuatnya iba.
“Jangan lukai aku, Revan. Jangan!” Dinda berlari keluar.
__ADS_1
Tinggalah Revan yang terpaku sendiri, menatap pintu yang terbuka dimana dua gadisnya menghilang. Sampai detik itu, perasaannya tidak berubah. Dia sangat mengharapkan Elena untuk menjadi wanita masa depannya. Tapi bagaimana caranya ia bisa memaksa Dinda untuk menjauh darinya? Rasanya ia menjadi pria tersadis yang tega melumpuhkan hati dan perasaan wanita.
***