
Elena terpaku menatap senyuman Revan. Ya Tuhan, senyuman itu manis sekali. Revan terlihat jauh lebih tampan saat ekspresinya cerah seperti sekarang, tersenyum dan tatapannya kelihatan syahdu. Tuhan, ijinkan Elena untuk beberapa saat menatap senyuman yang selalu membuatnya merasa rindu di setiap malam-malamnya. Hati Elena tenang sekali di saat begini.
“Kamu lupa?”
“Lupa apa?”
“Dinda.”
Ekspresi wajah Revan langsung berubah. Sambil menggaruk caruk lehernya, Revan berkata, “Beberapa bulan lamanya aku sibuk mengurus dan menemani Dinda karena ayahnya dirawat dirumah sakit. Dan aku belum bisa mengatakan apapun pada Dinda karena dia masih bersedih atas kondisi ayahnya, nggak mungkin aku menambah tangisannya dengan mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Tapi kamu jangan cemas, ayahnya Dinda sudah keluar dari rumah sakit dan sekarang dirawat jalan di rumah. jika kondisi sudah normal, aku pasti akan jelasin semuanya ke Dinda tentang kita, tentang perasaanku, tentang semua yang udah terjadi padaku.”
Elena diam saja. Batinnya mulai berkecamuk. Betapa banyak kendala hubungannya dengan Revan. Dia takut takdir tidak menyatukannya dengan pria yang sangat dia cintai itu. dia takut kondisi akan semakin runyam dan mereka akan terpisah oleh situasi. Tuhan, bantu Elena untuk meraih cita dan cintanya. Hanya Revan, pria yang dia cintai, tidak ada yang lain.
“Elena, kamu sabar ya. aku janji akan buktikan ke kamu untuk mengatasi masalah ini dengan baik. Aku janji akan ada untukmu. apapun yang terjadi. Jangan bilang aku terllau berlebihan, faktanya aku sangat sayang sama kamu.”
__ADS_1
“Aku kan udah bilang, kamu jangan temui aku dulu sebelum urusanmu dengan Dinda selesai.”
“Elena, mana mungkin aku bisa tenang tanpa kabar darimu. Mana mungkin aku bisa diam tanpa bertemu kamu. Udah terllau lama aku menahan rindu, dan apakah aku akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu denganmu disaat aku melihatmu begini? Kita bahkan nggak jarang bertemu meski satu kantor.”
Elena mengesah. “Aku sengaja menghindarimu.”
“Oho... Mau main petak umpet sama aku?”
“Enggak.”
“Kenapa menghindariku?”
“Aku ingin bertemu kamu disaat kamu udah menyelesikan masalahmu dengan Dinda. Di sata kamu seutuhnya menjadi milikku.”
__ADS_1
“Elena, apa kamu marah padaku?” tanya Revan.
“Kenapa harus marah? Nggak ada alasanku untuk marah.”
“Tapi aku melihat ekspresi berbeda di wajahmu. Mukamu tegang dan seperti nggak bahagia sata bertemu aku begini.”
“Itu karena aku takut kehilangan kamu,” celetuk Elena kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan meja.
Revan sampai mengangkat wajah dan mengikuti gerak tubuh Elena setelah mendengar kalimat yang diucapkan Elena. Batin Revan bahagia sekali.
Elena membayar tagihan ke kasir kemudian berlalu pergi, membiarkan Revan terdiam di tempat menatap kepergiannya naik taksi.
Elena menyandarkan kepal di jendela mobil. Ia menoleh ke arah Revan hingga pandangannya terputus dan pria itu tidak lagi dapat terjangkau oleh pandangan matanya. Semakin sering bertemu Revan di saat pria itu belum sempat menyelesaikan masalahnya, Elena merasa pikirannya terkuras dan hatinya galau. Ia lebih baik tidak mendengar kabar apapun dari Revan jika hanya mendengar kabar menggantung begini. Bahkan ia merasa hubungannya dengan Revan seperti berada di ujung tanduk sekarang.
__ADS_1
Tuhan, ijinkan Elena meraih kebahagiaannya melalui cintanya. Tapi apakah Revan adalah jodohnya? Apakah Tuhan menggariskan Revans ebagai pendamping hidupnya? Akankah jalan cinta Elena dan Revan akan berakhir? Jangan pisahkan Elena dari Revan, Tuhan. Elena sangat mencintai Revan. Kemana lagi Elena akan menemukan pria seperti Revan? Tidak ada lagi pria selain dia.
***