
“Loh loh... Ini kenapa sih? Kenapa vonis sesuatu yang belum terjadi dengan opini lo sendiri? Gue bahkan nggak tau apa yang akan gue lakukan setelah ini. Lagian siapa yang bilang gue berasal dari orang kaya? Kalo gue berasal dari keluarga miskin, gimana? Udah deh, jangan bicara berandai-andai, kepalaku bisa pecah memprediksi apa yang akan terjadi. Hanya Tuhan yang tau kejadian di kemudian hari.”
“Memang hanya Tuhan yang tau, tapi keputusan dan tindakan, hanya kita yang menentukan,” tegas Elena tak mau kalah. “Kalo dari sekarang gue tau lo berasal dari keluarga berada, udah sejak awal gue usir elo. Karena gue tau lo bakalan nggak sudi berada satu atap bersama kami setelah lo tau siapa diri lo yang sebenernya. Itu sifat orang kaya.”
“Kenapa sih lo benci banget sama orang kaya?”
“Lo mau tau?”
Elena menarik nafas dalam-dalam. Ia memalingkan wajah. Tatapannya nanar ke depan. Lidahnya mulai mencair menceritakan kejadian setahun silam.
__ADS_1
Saat itu malam begitu gelap, gerimis.
“Tolong, pinjemin mobil plus supirnya. Adik gue sakit, harus dibawa ke rumah sakit,” pinta Elena penuh permohonan.
“Yang sakit siapa? Adik elu, kan? Kenapa gue yang repot? Makanya jangan jadi orang susah, ujung-ujungnya nyusahin orang! Melarat dipelihara!”
Elena mematung. Hanya kata-kata penolakan kasar yang ia terima. Pandangannya beralih ke wajah Dava, bocah laki-laki dalam gendongannya yang mulai memucat, matanya sayu dan terlihat sangat lemas. Pakaiannya sobek-sobek dan memprihatinkan. Seharusnya warna bajunya itu hijau, tapi jadi cokelat keabu-abuan. Bermacam rupa.
Sudah seminggu Dava yang belum genap berusia tiga tahun itu demam. Panas badannya tak kunjung turun. Selama ini hanya dikompres daun cocor bebek yang tumbuh bertaburan di belakang rumah. Semakin hari panasnya semakin tinggi. Dava sempat batuk-batuk, kemudian terakhir muntah. Sudah dibawa ke bidan terdekat, hanya diberi air putih saja. Bidan tidak mau melayani Elena yang terakhir kali berhutang karena tidak punya uang untuk membeli obat.
__ADS_1
Elena mendesah cemas. Gelisah membungkus hati. Rintik gerimis yang sejak tadi turun, kini mulai deras. Basah seluruh tubuhnya, berbaur air matanya dengan hujan. Angin yang membawa hujan menambah dingin situasi. Tubuhnya yang menggigil membungkuk demi melindungi tubuh Dava dalam gendongannya. Matanya melirik garasi yang di dalamnya berderet empat mobil dan dua kendaraan roda dua. Begitu beratkah meminjamkan salah satunya?
Jarak rumah sakit sangat jauh. Mustahil Elena berjalan kaki menggendong Dava sampai ke rumah sakit. Bisa bertambah parah sakit adiknya akibat diguyur hujan sepanjang perjalanan yang mungkin bisa memakan waktu tiga jam, empat jam atau bahkan lima jam lamanya. Tukang ojek yang biasa mengumpul di persimpangan jalan sudah pulang karena hujan.
Malang sekali nasibnya, hidup di tengah-tengah manusia tamak dan serakah yang tak mau menyisihkan sebagian harta kepada fakir miskin. Terkutuklah! Terkutuklah mereka yang tidak perduli dengan setiap tetes air yang mengaliri pipi perempuan tak berdaya sepertinya. Mereka yang menutup pintu rumah ketika ia datang. Mereka yang tak punya belas kasih.
Malam semakin larut. Elena berlari meninggalkan rumah mewah. Tertatih menelusuri jalan basah. Ditengah hujan deras yang menggila, tubuhnya kuyup. Tangannya memeluk erat tubuh yang digendong. Ia terus berlari, tidak perduli meski kakinya letih. Untung saja badan Dava kurus, tidak terlalu berat untuk digendong.
TBC
__ADS_1