I am a Virgin

I am a Virgin
22. Benci


__ADS_3

“Keliatannya tadi lo sempet pusing gitu. Gue kira lo inget siapa Bik Nur, dan ingatan itu mengakibatkan pala lo sakit.”


“Iya, kepala gue pusing banget tadi. Wajah Bik Nur kayak pernah gue liat, tapi nggak tau entah dimana. Semakin gue inget-inget, pala gue rasanya mau pecah.”


“Trus kenapa lo mesti kabur dari dia? Bukanknya dia kenal lo? Dia bisa ngembaliin lo ke keluarga lo.”


Revan menatap wajah didekatnya lekat-lekat. Elena balas menatap. Sejenak keduanya diam.


“Lo nggak suka banget ya gue ada di rumah lo? Lo ngusir gue?” tanya Revan merasa rendah diri. Merasa dirinya tidak diharapkan.


Elena tersentak. Ia tidak menyangka Revan salah menangkap maksud pertanyaannya.


“Gue nanya, bukan nyuruh lo pergi,” ketus Elena kesal. Ucapannya justru disalah artikan Revan. Andai saja Revan tau, Elena sungguh tidak ingin Revan pergi dari kehidupannya. Dia butuh kakak laki-laki seperti Revan. Dia butuh orang baik yang selalu melindunginya itu.


“Gue pusing. Pala gue sakit. Gue cuma pengen tenang dulu. Biarlah ingatan gue kembali secara berangsur-angsur. Tolong jangan dipaksain.”


Elena tak menjawab lagi. Takut salah ngomong.

__ADS_1


“Gimana kalo ternyata lo adalah anak orang kaya? Tentu seharusnya lo udah tidur tenang di kasur empuk, makan enak, fasilitas mewah, kemana-mana nggak kepanasan, pake mobil,” celetuk Elena tiba-tiba.


“Dari mananya lo bisa bilang gue berasal dari orang kaya?” Revan **** tersenyum.


“Dari cara Bik Nur memandang lo. Dia terheran-heran begitu ngeliat lo berpenampilan compang-camping begini. Itu artinya sebelumnya lo selalu berpenampilan keren.”


Senyuman di bibir Revan belum hilang. “Itu pendapat lo aja.”


“Lagi pula, mana ada orang miskin punya ikat pinggang bagus kayak yang lo punya. Itu pasti mahal kan? Mungkin harganya bisa buat gue makan dua bulan.”


“Tapi jujur Revan, gue benci dengan yang namanya orang kaya. Mereka sombong, mereka jahat.” Elena memasang ekspresi muak. Mengingat kekejaman mereka yang kaya, yang tak tersentuh hatinya ketika melihat Dava sekarat.


“Jangan panggil gue Revan. Nama itu belum tentu nama gue.”


“Itu jelas nama elo. Gue yakin elo adalah Revan yang dimaksud Bik Nur. Udahlah, mulai sekarang gue panggil nama lo Revan. Jangan bikin gue berbohong dengan manggil nama palsu elo.”


“Itu bukan nama palsu, tapi panggilan lo buat gue.”

__ADS_1


“Enggak. Gue tetep panggil elo Revan.”


Revan mengalah. Kemudian menarik nafas dan berkata, “Jadi, kalo gue berasal dari orang kaya, lo nggak mau kenal gue lagi?” tanya Revan dengan tatapan dalam ke mata Elena.


“Gue…” sorot mata Elena tajam menatap ke satu titik, pada awan putih yang berarak pelan tertiup angin, seperti sedang menatap semut merah yang baru saja menggigitnya. Ingin menginjaknya sampai mati. Kebencian terpendam. “Kalo memang bener lo orang kaya, jangan lagi lo temui gue. Lingkungan, gaya, dan kehidupan orang kaya itu beda sama manusia kayak gue. Mereka punya kehidupan serba tinggi. Mana mungkin cocok sama kehidupan kami. Kalopun lo bisa berteman sama gue, apa mungkin bokap, nyokap nenek, kakek, adik, kakak, paman dan semua keluarga lo bisa bergaul dengan orang kayak kami?” Diam sejenak. Kemudian dengan intonasi tinggi ia berkata, “Nggak mungkin!”


“Buanglah sedikit perasaan sensitif lo, tebelin hati lo biar keras kayak baja.”


“Heh, dengan begitu gue bisa menerima hinaan mereka? Gitu?” cibir Elena kesal. Wajahnya mulai memerah.


“Lo nggak bisa nyamain mereka yang kaya dengan satu sudut pandang. Manusia itu berbeda-beda. Nggak semua kikir, nggak semua jahat.”


**TBC


Maaf banget buat yg udah baca, ada kesalahan tekhnis dalam cerita ini, jadi terdampak revisi dan part nya berubah


🙏🙏🙏**

__ADS_1


__ADS_2