I am a Virgin

I am a Virgin
96. Extra Part 9a


__ADS_3

Elena berjalan memasuki rumah. Ia memutar kunci pintu rumah. Ah ya ampun, ia menepuk keningnya sendiri saat sadar bahwa kunci yang ia pegang bukanlah kunci pintu rumahnya. Bahkan ia merasa asing pada kunci yang dia genggam sekaranbg. Elena mengingat-ingat kejadian barusan, bagaimana ia bisa sampai memegang kunci tersebut. Dan ia ingat, tadi ia menyambar kunci di meja makan tanpa melihat benda yang dia sambar sesaat sebelum meninggalkan Revan.


Kini, Elena yakin dia telah salah menyambar kunci. Dan ia meyakini bahwa kunci itu adalah milik Revan. Dan tentu saja kunci rumahnya kini ada bersama Revan. Dan mungkin Revan tidak menyadarinya. Ya, kunci mereka pasti tertukar.


Kunci rumah ada dua, dan satu lagi dibawa oleh Salva. Adiknya itu tidak ada di rumah, kemungkinan sedang mengaji. Dan Elena akan membutuhkan waktu lama menunggu di teras. Ia menelepon Revan. Tiga kali teleponnya terhubung namun tidak dijawab oleh pria itu.


Akhirnya Elena memutuskan pergi ke rumah Revan. Taksi membawanya sampai ke rumah megah itu. Elena menatap rumah itu, dari satu sudut ke sudut lainnya, rumah itu benar-benar megah. Untuk kesekian kalinya kakinya menginjak rumah itu. Ia tidak menyangka bisa menjadi kekasih Revan, pria kaya raya yang berhati tulus. Entah bagaimana nasib membawanya menjadi gadis seberuntung itu. Garis Tuhan benar-benar indah.


Elena berjalan pelan mendekati pintu gerbang. Satpam tersenyum ramah melihat kedatangannya.


“Sore, Mbak! Mau ketemu siapa?” Satpam membukakan pintu gerbang yang berukuran satu meter.


“Revan.”


“Oh, Mas Revan. Silahkan masuk. Kebetulan Mas Revan baru saja pulang.” Satpam setengah menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Makasih.” Elena berjalan memasuki area pekarangan rumah. Terasa asri udara di sekitar sana, bunga-bunga dan pepohonan kecil yang ditanam benar-benar menyejukkan mata yang memandang.


Elena melintasi sebuah mobil yang terparkir di depan rumah. Ia mengenal persis mobil itu, milik Revan. Ada satu mobil lainnya yang bertengger di sisi mobil Revan, tak kalah mewah. Elena semakin merasa rendah diri, tak yakin bisa kenal dekat dengan keluarga setajir Revan.


Elena sudah berdiri di depan pintu yang terbuka. Ia tertegun dan membeku di tempat melihat sosok yang duduk di sofa ruangan. Dinda. Sekarang Elena tahu siapa pemilik mobil yang bertengger di sisi mobil milik Revan.


Dinda mengangkat wajah dan mengernyit menatap Elena yang memaku di pintu.


“Cari siapa?” Tanya Dinda sembari melangkah mendekati Elena.


Entah kenapa hati Elena selalu merasa tersisih dan berdenyut setiap kali melihat Dinda, bahkan kini ada di rumah pria yang dia cintai. Sedang apa Dinda?


“Mm… Aku hanya ingin mengembalikan kunci ini kepada Revan.” Elena memperlihatkan kunci di tangannya.


“Ooh… Ya udah, biar aku aja yang sampaikan ke Revan.” Dinda menjulurkan telapak tangannya.

__ADS_1


Elena masih diam karena memikirkan banyak hal tentang Dinda. Mau sampai kapan ia merasa was-was begini?


“Jangan cemas, aku ini tunangannya Revan, jadi pasti kuberikan ke dia.” Dinda tersenyum sangat manis.


Elena mengangguk. Kemudian ia serahkan kunci tersebut kepada Dinda. Ia tidak lagi perduli dengan kunci rumahnya yang mungkin dibawa oleh Revan. Ia ingin pergi saja secepatnya dari sana. Tempat itu kini tidak lagi membuatnya merasa nyaman, kini justru seperti meninggalkan luka di hatinya.


“Aku permisi.” Elena balik badan untuk segera pergi.


“Tunggu. Kamu nggak mau masuk dulu?”


“Enggak. Makasih.”


“Eh, kalau nggak salah aku pernah ngeliat kamu. Tapi dimana? Oooh iya, kamu yang pernah ada di jalan bersama Revan waktu itu, kan?” Dinda mengingat saat ia mendatangi Revan di jalan dan ada Elena di sana. “Kamu temennya Revan? Kok, aku baru ngeliat kamu, ya? Apa kamu…” Ucapan Dinda terputus oleh kedatangan Revan. Pandangan Dinda pun beralih kepada pria yang baru saja muncul dari lantai atas itu. “Van, ini temenmu datang, katanya mau kasih kunci ini ke kamu. Ini milikmu, ya?”


Revan menatap Elena yang ekspresinya terlihat kaku, kemudian manik matanya bergerak menatap Dinda yang tersenyum lebar.

__ADS_1


“Ooh.. Iya. Itu milikku. Tapi bagaimana bisa kuncinya ada sama Elena. Oh ya, mungkin tertukar di kafe tadi.” Revan merogoh kunci di saku celananya. Ia mendapati kunci milik Elena. Segera Revan mengambil kunci dari tangan Dinda dan mendekati Elena seraya menyerahkan kunci milik gadis itu.


TBC


__ADS_2