
“Eh, maaf Pak, Bapak belum pulang? Saya kira Bapak sudah tidak di tempat, jadi say tidak mengetuk pintu,” tutur Elena sembari meletakkan setumpuk laporan ke meja atasannya.
Pak Sandi mengangguk sekilas. Ia menatap setumpuk kertas laporan itu kemudian berkata, “Saya salut sama kamu. Lihatlah, kamu selesaikan pekerjaan ini tanpa harus menunggu besok. Ck ck ck…” Pak Sandi melihat-lihat hasil laporan. “Laporanmu juga rapi dan tidak bersalahan. Bagus! Pertahankan kinerjamu! Setelah tiga bulan nanti, akan kurekomendasikan kamu supaya naik jabatan.”
Elena membelalak. Begitu mudahnya ia mendapat kepercayaan atasannya. Dengan kejujuran dan kegigihannya bekerja, ia dipandang mampu untuk meraih jabatan yang lebih tinggi. Bahkan baru beberapa bulan saja ia bekerja di sana. Luar biasa!
“Perusahaan membutuhkan orang sepertimu,” lanjut Pak Sandi penuh kekaguman.
“Makasih, Pak. Kehormatan besar bagi saya mendengar semua ini. Ya sudah, saya permisi.”
__ADS_1
“Silahkan!”
Elena melangkah keluar ruangan. Batinnya bersorak girang sekali, akhirnya usaha kerasnya membuahkan hasil. Ap yang sudah ia tanam, hasilnya akan ia tuai.
Seperti biasa, Elena pulang dengan naik taksi. Namun hari itu ia tidak langsung pulang ke rumah, ia mampir ke sebuah kafe, sebuah kafe yang menjual soto. Elena rindu dengan makanan yang namanya soto. Sudah dua bulan lebih ia tidak menyantap soto setelah sibuk bergelut di kantor. Ia bahkan sudah hampir lupa dengan rasa soto yang pernah menjadi menu jualannya. Perutnya terasa lapar sekali. Mungkin karena siang tadi Elena tidak sempat makan dan hanya makan cemilan saja sehingga perut karetnya kelaparan, ditambah sore itu ia pulang agak telat.
Sambil meneguk teh hangat pesanannya, pandangan Elena tertuju ke luar. Di luar gerimis. Rintik hujan menerpa kaca bening di sisinya duduk. Ia dapat menjangkau pemandangan di luar melalui kaca tersebut. Demikian sebaliknya, orang di luar bisa melihatnya duduk manis di sana.
Elena terkesiap melihat sosok pria turun dari mobil dan setengah berlari memasuki warung untuk menghindari rintik gerimis yang menyerangnya. Revan. Ya, Elena melihat Revan. Pria tampan berbadan atletis itu berjalan mendekati meja tempat Elena duduk. Ya ampun, dunia bagaikan sesempit daun pisang. Dimana-mana ketemu Revan melulu.
__ADS_1
Sepanjang Revan berjalan mendekat, Elena terpaku dan terdiam seribu bahasa. Menatap ketampanan Revan, serta penampilan pria itu yang rapi dengan celana kelimis, kemeja biru muda dan dasi serta sepatu mengkilap. Elena semakin tidak yakin jika pria tampan dan mapan itu memilihnya sebagai kekasih. Rasanya seperti mimpi dan Elena masih belum mengerti dengan garis kehidupan yang Tuhan ciptakan untuknya, penuh teka-teki dan tidak bisa ditebak. Hanya Tuhan yang tahu.
“Halo!” Revan tersenyum dan menarik kursi di depan Elena.
Elena balas tersenyum tipis. “Kok, kamu ke sini? ini bukan tempatmu bukan?”
Revan mengedikkan bahu. “Aku tadi pas lewat di sekitar sini, ngeliat cewek cantik duduk di kafe mini. Ya udah aku samperin aja, salah?” Lagi-lagi, Revan mengulas senyum.
TBC
__ADS_1