I am a Virgin

I am a Virgin
74. Sebel Tapi Gemes


__ADS_3

Elena terlihat anggun mengenakan dress berwarna biru muda pilihannya. Pandangan Revan menyapu dress mulai dari bahu sampai ke lutut. Ia kemudian tertawa melihat gadis cantik mengenakan dress anggun tapi pakai sendal jepit usang.


Akhirnya Revan meminta Elena mengganti sendal bututnya itu dengan sepatu pansus. Revan sudah mencoba membelikan sendal high heels, namun Elena tampak kesulitan memakainya. Sehingga pilihannya jatuh pada pansus.


Revan memperhatikan Elena yang berdiri di depannya sambil berpikir. Pakaian sudah oke. Alas kaki juga oke. Tapi muka Elena kusam dan rambutnya juga kusut. Nggak cocok.


Revan kembali menarik pergelangan tangan Elena ke pintu sebelah butik. Tak lain sebuah salon yang disibukkan dengan kegiatan kecantikan.


“Ngapain kita ke sini?” bisik Elena sembari mengguncang lengan Revan.


Revan memegang kedua bahu Elena dan menekannya ke bawah hingga tubuh Elena terhempas duduk di sebuah kursi. Revan mendekati pemilik salon yang sedang sibuk memberi perintah pegawainya. Kemudian Revan berbicara sebentar pada si bencong. Si bencong terlihat mengangguk-angguk. Kemudian bencong itu mendekati Elena dan mulai mengobok-obok muka Elena dengan gel pembersih wajah yang diusap-usap menggunakan kapas ke wajah Elena.

__ADS_1


“Setelah sepuluh menit, Yey bisa cuci muka Yey pake ini ya.” Si bencong memberikan secrub pencuci wajah. Kemudian ia pergi.


Sesuai perintah Elena mencuci wajahnya setelah waktu yang ditentukan berlalu di wastafel dekatnya duduk.


Sialan! Dasar Revan kurang kerjaan! Dia mau bikin gue keliatan cantik. Jadi selama ini gue jelek, gitu? Elena menggerutu dalam hati. Kemudian ia mengelap wajah dengan handuk kecil yang sudah disediakan. Ia mengangkat kepala dan menatap pantulan wajahnya di cermin atas westafel.


Sumpah, mukanya menjadi kinclong dan tampak lebih bercahaya. Kekusaman dan debu tebal yang mengotori wajahnya lenyap. Ia baru sadar selama ini tidak pernah memperhatikan kebersihan wajah. Pantas saja Revan memperlakukannya begini. Mungkin Revan berusaha membuatnya sadar bahwa Tuhan menciptakan kecantikan di wajahnya. Benar apa kata Revan, ia memang cantik.


Si bencong datang lagi.


Duuuh... Rasanya Elena ingin menjitak pala si bencong mendengar cara bicaranya yang gemulai melebihi perempuan. Tapi kenyataannya ia hanya bisa mengikuti si bencong dan sekarang sudah duduk di kursi yang ditunjuk.

__ADS_1


Kemudian si bencong mulai mengobok-obok muka Elena dengan alat-alat kecantikan hingga berakhir dengan polesan bedak dan riasan seperlunya. Setelah itu tangan gemulai si bencong mengobrak-abrik rambut Elena dengan peralatan rambut hingga hasilnya membuat rambut Elena yang tadinya kayak kain pel jadi lurus berkilau.


Elena berdiri di depan Revan setelah si bencong selesai menyiksanya di kursi salon. Elena benar-benar pegel mengikuti perintah si bencong untuk tetap duduk diam selama si bencong itu bekerja.


Sempurna. Cantik. Revan berdecak kagum menatap Elena yang sekarang. Matanya tak berkedip untuk beberapa saat gara-gara terpesona. Elena mengalahkan gadis-gadis kota yang selalu berpenampilan elit.


Revan baru sadar bahwa gadis yang telah lama ia kagumi itu memiliki kecantikan yang luar biasa, hanya saja gadis itu tidak terawat sehingga selalu terlihat kusam. Tujuan Revan memasuki butik sampai ke salon hanyalah iseng tapi ia justru membuat Elena terlihat jauh lebih sempurna.


Plak! Elena memukul lengan Revan.


“Aw! Kenapa? Kok gue dipukul?”

__ADS_1


TBC


KLIK LIKE


__ADS_2