
Revan tersenyum, kemudian mengambil botol minuman itu dari tangan Elena. Pria itu memutar tutupnya dengan tenaga kuat. Jelas saja langsung terbuka. Tenaga laku-laki dengan perempuan kan berbeda.
Elena tersenyum melihat tutup botol yang langsung terbuka.
“Buset, lo kuat banget.” Elena menyenggol lengan Revan dengan bahunya.
“Ini baru kekuatan tangan, belum yang lain.”
Elena mengalihkan pandangan dari wajah Revan ke botol minuman dengan muka memerah, salah tingkah. Maksud ucapan Revan apaan, sih? Elena mengambil botol minuman dari tangan Revan kemudian meneguknya. Disamping cairan itu mampu menghilangkan rasa haus di tenggorokan, Elena berharap cairan itu bisa membuang rasa grogi.
“Jangan salah paham, maksud gue kekuatan kaki, kek. Kekuatan lututk, kek. Jangan mikir yang macem-macem.” Revan mengusap pucuk kepala Elena.
Desiran kuat terasa mengalir sampai ke telapak kaki saat tangan Revan menyentuh pucuk kepla Elena. Dan Elena menahan rasa itu dengan menarik nafas dalam-dalam. Jantungnya terasa tidak aman. Rasanya berdebar-debar tak karuan. Kalau saja jantungnya benar-benar terlepas dari tempatnya, Revan adalah tersangka utama yang harus bertanggung jawab.
“Elena!”
__ADS_1
“Hm.” Elena tidak mau menoleh ke wajah Revan yang saat ini berada di dekat wajahnya. Dari ekor matanya, Elena dapat melihat kalau pria di sisinya itu memiringkan tubuhnya demi bisa menatap Elena dengan jelas.
“Gue nggak mau jauh dari lo.”
Kalimat apa itu? Kesannya terdengar sedikit berbeda. Tatapan Elena tertuju ke tangannya yang saat ini tengah menekan-nekan botol minuman yang isinya hanya tinggal separuh.
“Elena!” Kali ini suara panggilan Revan jauh lebih lembut dari sebelumnya.
“Hm.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Elena. Perasaannya gugup bukan main. Dan ia tidak bisa melakukan apapun kecuali diam dan menunggu kalimat berikutnya meluncur dari mulut Revan.
“Maksud lo?”
“Kita selalu dekat dan nggak akan terpisah.”
Perasaan Elena kian berbunga. Kata-kata Revan benar-benar mampu melumpuhkan hatinya. “Memangnya siapa yang bakalan misahin kita? Kita kan memang udah deket.”
__ADS_1
“Suatu saat nanti, kita akan terus bersama, kan?”
“Lo punya kehidupan lain yang sampai saat ini belum lo ketahui. Sementara gue, lo tahu sendiri kehidupan gue kayak gini. Gue juga nggak tahu apa yang akan terjadi nanti andai saja lo udah menemukan keluarga lo.”
“Gue nggak mau ninggalin lo, Elena.”
Kalimat itu membuat Elena membeku di tempat. Hampir saja ia tersenyum lebar, namun sebisa mungkin ia menyembunyikan ekspresinya yang girang. Kan malu kalau ketahuan sedang Ge Er. Muka Ge Er-nya mendadak lenyap saat air adri botol minuman yang ia pencet-pencet sejak tadi, tiba-tiba muncrat dan mengenai mukanya.
“E eeh…” Elena mengusap wajahnya yang basah.
“Ha ha haaa…” Revan malah tertawa. “Itu air tau banget kalo muka lo kusam kebanyakan debu yang nempel, makanya nyiram muka lo.”
“Iih… Jahat lo. Penderitaan orang malah dijadiin bahan ketawaan.” Elena memukul pelan bahu Revan. Gara-gara sikap Revan yang membuat hati Elena melayang-layang, Elena sampai melupakan niat awalnya mendatangi terminal itu. Pikirannya kini malah fokus kepada Revan. Kecemasannya tentang hilangnya uang mendadak memudar, berganti dengan perasaan berbunga-bunga yang Revan ciptakan.
“Elena, gue harap, lo lupain masalah uang itu.” Revan mengulang kata-kata itu. Ia tidak tahu apakah setelah ini Elena akan marah padanya atau bahkan memakinya. Tadi Elena sudah memarahinya saat ia meminta Elena untuk melupakan uang itu. Dan sekarang, Revan mengulang kalimat itu. Harapannya masih sama, ingin Elena tenang. Itu saja.
__ADS_1
TBC