
“Jadi... Sejak itu lo udah inget siapa diri lo sebenernya?”
Revan diam. Menatap saja.
“Tapi kenapa? Kenapa mesti lo sembunyiin ini dari gue? Kenapa lo nggak berterus terang? Kenapa, Revan? Kenapa lo mesti berbohong? Nggak cukupkah kebersamaan kita selama ini untuk bisa saling terbuka?”
“Butuh waktu, Elena. Semua butuh waktu.”
Elena masih belum mengerti dengan apa yang dipikirkan Revan hingga harus menyembunyikan kenyataan. Kenyataan yang seharusnya diketahui bersama, dijalani bersama. Tidak perlu disembunyikan. Elena membalikkan badan dan berjalan menuju pintu lebar. Ia kecewa, pria yang ia banggakan itu tidak jujur.
Revan mengejar dan mengikuti hingga melintasi pintu gerbang. Ia menarik pergelangan tangan Elena.
__ADS_1
Satpam yang duduk manis di pos penjagaan mengalihkan pandangan dari televisi ke majikannya yang mengejar seorang gadis.
Revan berdiri di hadapan Elena dan menatap gadis itu lekat-lekat.
“Elena, pliiiis maafin gue. Oke, gue akui gue salah karena nggak jujur sama lo.” Revan memohon. “Gue ngelakuin ini bukan tanpa alasan. Lo membenci orang kaya, itulah alasan gue kenapa nggak jujur. Kalo elo tau gue berasal dari orang kaya, gue takut lo ngejauhin gue. Gue takut lo nggak mau kenal gue lagi. Gue takut lo ngelupain gue. Gue takut lo ngusir gue.”
Sorot tajam mata Elena mulai melemah. Ya benar, dulu ia memang memandang sama semua orang kaya. Sebab tidak seorang pun orang kaya yang ia kenali, bersikap baik. Sehingga butalah pandangannya terhadap mereka yang menyandang status kaya. Tapi semenjak bertemu Tante Vira, semenjak melihat lembut senyumnya, pelan Elena mulai membenarkan perkataan Revan yang sempat menasihatinya bahwa tidak semua manusia berharta banyak itu berhati sama. Tidak boleh memandang rata. Sebab manusia memiliki iman yang berbeda-beda.
Elena menarik nafas dalam. Sesungguhnya apa yang ditakutkan Revan tidak akan terjadi, saat ini ia tidak sedang marah. Ia hanya sedang kecewa, merajuk karena merasa dikesampingkan hingga harus dibohongi. Tapi sekarang tidak ada lagi kekecewaan itu. Tidak ada lagi kekesalan itu. Rasa yang berkecamuk itu memudar, hilang berganti dengan rasa kagum, pada sesosok Revan yang terbukti masih mau tinggal dan bertahan hidup bersamanya meski ingatannya telah pulih. Bukankah seharusnya Revan bergegas pulang ke rumah megahnya setelah mengingat asal-usulnya? Agar ia bisa makan enak, bisa tidur nyaman di kasur empuk, bisa bermanja dengan banyak uang. Tapi tidak. Revan tidak melakukan itu. Revan justru memilih tetap bersamanya. Hidup dalam kesulitan. Revan tidak mau kembali di kehidupannya yang mewah hanya karena takut kehilangan Elena.
“Elena, gue sayang sama lo,” ulang Revan lirih.
__ADS_1
Hati Elena bergetar mendengar kata-kata sayang yang melintas di gendang telinga. Hatinya basah, sejuk dan damai. Pelan sudut bibir Elena tertarik hingga membentuk senyum manis.
Revan membelalakkan mata melihat senyuman di bibir gadis yang amat dicintainya itu.
“Ini artinya lo maafin gue?” tanya Revan menggebu.
Elena mengangguk.
“Thanks, Elena. Thanks.” Revan menyentuh kedua tangan Elena erat-erat.
**TBC
__ADS_1
KLIK JEMPOL YAK**