
“Lo itu cewek. Dan si Davin itu cowok,” lanjut Revan menggebu-gebu. “Lo pernah dijahili sama dia. Jelas banget dia doyan daun muda. Sekarang lo malah nemuin dia hanya demi duit. Apa yang lo kasih ke dia sampe-sampe dia bersedia ngasih duit sebanyak itu ke lo?” urat rahang Revan menegang.
Tak sanggup menjawab, mata Elena berkaca-kaca. Sepintas kejadian di hotel terkilas balik di ingatannya. Menjijikan. Aroma parfum lelaki hidung belang yang masih melekat di baju tersendut di hidung.
“Elena,” desah Revan semakin geram. Ia mencengkeram kedua lengan Elena kuat-kuat. Seluruh perasaan berbaur dan membuncah memenuhi kepala. Kulitnya merinding oleh perasaan kecewa, bercampur marah. Dadanya terasa panas menatap air mata yang menggenang di pelupuk mata Elena. “Bukankah gue udah bilang kalo gue akan nyariin uang itu buat Salva? Kenapa lo nggak percaya itu? Kenapa lo lebih milih duit dari si Davin? Saat ini Salva berada di rumah sakit dan dalam keadaan baik-baik aja setelah selesai dioperasi. Bolak-balik gue nyariin lo ke klinik Bu Diana, ke rumah, tapi lo nggak ada. Dan kartu nama yang terselip di gerobak itu udah nggak ada. Ternyata kecurigaan gue bener, lo nemuin dia. Pikirkanlah dengan logika, si Davin rela nyerahin duit sebanyak itu ke orang yang sama sekali nggak dia kenal. Apa mungkin lelaki hidung belang kayak dia mau ngasih duit tanpa meminta imbalan? Gue tau yang dia harapkan dari lo cuma kepuasan. Dan sekarang, lo jual harga diri lo demi sejumlah uang? Lo lepas keperawanan lo demi lembaran rupiah? Tega! Gue nggak nyangka lo serendah itu. Gue nggak nyangka lo tega mengotori harga diri lo sendiri.”
Elena menyentak lengan tangannya hingga terlepas dari pegangan Revan. Kemarahannya mulai menyembur ke permukaan wajah. “Gue nggak sekotor itu. Gue nggak seburuk yang lo pikir.”
__ADS_1
“Masihkah lo ngerasa bersih setelah menerima uang dari lelaki berdarah gatal itu?” Suaranya Revan bergetar. Matanya tertuju pada satu titik, bola mata Elena yang juga tengah menatapnya.
Kelopak mata Elena bergerak-gerak cepat, menahan emosi yang menggelinjang. Ia tak menyangka Revan begitu cepat mengambil kesimpulan dan menilainya serendah itu.
Plak!!! Akhirnya amarah itu tersalurkan lewat tangan yang melayang dan mendarat di pipi Revan. Pipi putih Revan memerah membentuk gambar tangan.
Paras wajah Revan berubah kecewa. Elena telah melukai pipinya, juga hatinya. Tamparan itu ia anggap sebagai kebencian Elena yang telah muntah. Ia merasa tak berarti di mata Elena. Pelan tangannya menyentuh pipi yang semakin memerah.
__ADS_1
Tangan Elena gemetar. Menyesal sudah mendaratkan tangan ke wajah tampan itu. Ia tidak bermaksud menyakiti Revan. Ia hanya sedang melepas emosi sesaat.
“Marahlah sepuasnya.” Suara Revan lebih seperti bisikan. “Marahlah kalo itu bisa bikin lo puas. Dengan lo nemuin si Davin, itu sama aja lo nyakitin gue. Lo nggak ngerti seberapa besar rasa kecewa gue atas perilaku lo ini. Lo nggak ngerti seberapa besar rasa sayang gue ke lo. Keperdulian gue ini tumbuh hanya karena gue sangat mencintai lo.” Revan berseru jengkel. Tak sadar, ia telah mengungkapkan isi perasaannya.
Elena tertegun. Revan mencintainya? Sekujur tubuh Elena terasa dingin oleh perasaan aneh. Menatap wajah yang begitu terluka di hadapannya, ia merasa sangat bersalah. Revan seakan kehilangan seluruh harapannya, kekecewaan memancar jelas di wajahnya. Elena merasa tertusuk seketika. Bersumpah akan membuat wajah terluka itu berubah membaik.
TBC
__ADS_1