
Elena meracik bumbu. Sambil bergurau, mereka menyelesaikan pekerjaan itu bersama-sama. Boy menumis bumbu lalu mengaduk nasi yang dituangkan ke kuali oleh tangan Elena. Setelah matang, mereka makan bersama.
Semenjak itu, malam menjadi waktu yang sangat ditunggu-tunggu. Kehadiran Boy di rumah itu benar-benar mengubah sepinya malam. Hampir setiap malam, Elena dan Boy berbincang untuk menghabiskan waktu. Dan kemudian memasak nasi goreng bila perut keroncongan. Tapi mereka selalu melakukan pekerjaan itu ketika Salva sudah bobok.
Jika Salva masih melek, bocah cilik itu merasa keberatan untuk tidur lebih awal karena ingin ikut nimbrung dan ingin merasakan suasana hangat dalam kebersamaan. Tentu ia tak mau melewatkan waktu mengobrol ditemani suara jangkrik dan hembusan angin malam. Gadis kecil itu sangat menyukai Boy. Setiap kata, elusan kepala, tatapan, dan perhatian Boy menjadikan lelaki itu seperti pelindung bagi Salva.
***
“Ye ye… Nggak kena. Nggak kena!” Salva berlari kesana-kemari. Mengelilingi talam yang tergeletak di tanah.
Boy berpura-pura menjadi jombi, dengan tangan seperti orang berenang, berjalan pelan mendekati kemana arah Salva berlari.
Gelak tawa Salva terdengar nyaring, sesekali menjerit ketika tangan Boy menjulur hampir mengenai bahunya.
__ADS_1
Elena sedang meniup kayu bakar di belakang, menggoreng ikan. Sekarang Elena sudah bisa membeli minyak goreng. Juga membeli cabe. Boy telah banyak mengubah hidupnya. Soal makan, mereka kini lebih sering menikmati makanan bergizi.
Boy giat mencari barang bekas, hingga penghasilan pun bertambah. Dia sering mencari ikan di sungai, mengubah menu meja makan menjadi lebih bervariasi. Membuat Elena jadi senang memasak.
Pagi tadi, Elena membawa setumpuk pakaian ke sungai. Boy mengikutinya berbekal tangkai kail dan ember. Boy memancing ikan setelah mencuci pakaiannya sendiri. Elena ikut memancing setelah menyelesaikan pekerjaannya mencuci pakaian. Muda mudi itu memancing bersama.
Disaat kail Elena bergerak-gerak, menegang akibat tarikan ikan, Elena menjerit kebingungan karena takut ikanya terlepas seperti yang sudah-sudah. Boy mendekati Elena dan berdiri di belakang perempuan bertubuh tinggi itu, kedua tangannya menyentuh tangan Elena. Menuntunnya pelan. Menarik kail dengan sentakan. Berhasil. Seekor ikan tersangkut di ujung pancing.
Pulang dari sungai, Elena langsung menjemur pakaian. Kemudian menggoreng ikan yang telah disiangi Boy. Sekali mendapat ikan, Elena ketagihan memancing. Ia akan sering ikut Boy ke sungai untuk memancing ikan.
Elena mengusap wajahnya yang berpeluh dengan ujung lengan baju. Meniriskan ikan yang baru diangkat dari kuali. Kemudian menaruhnya di piring. Setelah itu ia mengangkut piring berisi ikan ke ruang depan. Ia menyajikan makanan ke atas talam. Nasi tersaji di dalam priuk yang luarnya terpoles rata dengan warna hitam legam akibat api yang meninggalkan arang.
Kali ini menu hidangan menggugah selera, ada ikan goreng ditemani sambal merah, tumis tempe dan rebusan daun ubi. Aromanya yang menjalar sampai ke hidung membuat Salva segera meninggalkan Boy dan langsung menyerbu nasi. Ia memilih potongan ikan berukuran paling besar.
__ADS_1
Tak sengaja lengan Elena bersenggolan dengan tangan Salva. Elena merasakan suhu berbeda. Kulit Salva terasa hangat.
“Salva sakit?” Elena menyentuh kening Salva. Hangat. Elena mulai cemas.
“Dikit. Nggak apa-apa, kok,” jawab Salva ringan.
“Salva, kalo sakit nggak usah pergi sekolah.” Elena khawatir. Beberapa kali ia menyentuh leher dan pipi Salva yang hangat.
“Nggak pa-pa, Kak. Anget dikit. Salva ada ulangan hari ini. Salva harus pergi sekolah.”
Elena salut melihat kegigihan Salva. Tak mau meninggalkan pelajaran meski dalam keadaan tidak sehat.
TBC
__ADS_1