
“Aw!” pekik Elena ketika kuah dari mangkuk Boy nyiprat ke matanya. Pedih. Ia mengucek-ngucek sebelah mata yang kecipratan.
“Kenapa?” tanya Boy cemas.
“Makan yang bener, dong! Kuah lo nyiprat ke mata gue,” jelas Elena kesal.
“Sorry sorry…!” cepat-cepat Boy meraih kedua pipi Elena. “Jangan diucek. Biar gue tiup.”
Elena nurut. Berhenti mengucek. Matanya merem, tak tahan menahan pedih. Jari telunjuk dan jempol Boy membuka kelopak mata Elena, lalu meniupnya kuat-kuat.
“Fuuuh…!”
Air mata Elena berhambur keluar. Matanya kembali terpejam. Kemudian pelan membuka matanya lagi.
“Udah mendingan?” tanya Boy cemas.
__ADS_1
“Dah,” singkat Elena kemudian melanjutkan makan setelah mengedip-ngedipkan mata.
Sekilas Boy mengedarkan pandangan saat menyadari pembeli yang lain memperhatikan tingkahnya bersama Elena sambil senyam-senyum. Boy jadi salah tingkah dikira sedang pacaran.
Usai makan, Boy dan Elena berjalan meninggalkan warung soto. Tak jauh dari sana, seorang perempuan paruh baya berteriak memanggil-manggil. Tergopoh berlari mendekati dari arah belakang. Tubuhnya gemuk sehingga larinya agak kepayahan.
“Mas Revan! Mas Revan!” panggil perempuan paruh baya.
Boy dan Elena menoleh ke sumber suara. Perempuan paruh baya dengan pakaian berlengan panjang dan rok setumit mendekat. Nafasnya terengah-engah. Di tangannya menenteng sebuah keranjang berisi perbelanjaan dapur, daging, sayur-mayur, dan buah-buahan.
Boy mengerutkan dahi menatap wajah perempuan paruh baya dengan teliti.
“Revan? Lo siapa?” tanya Boy mencoba mengingat-ingat perempuan paruh baya tersebut.
“Loh, kok Mas Revan tanya gitu? Saya Bik Nur. Masak Mas Revan lupa?” perempuan paruh baya antusias mengenalkan diri. Sorot matanya menyala.
__ADS_1
Dahi Boy masih mengerut. Bingung.
Elena merasakan jantungnya berdekup kencang. Tiba-tiba kekhawatiran membayang di benaknya. Perempuan paruh baya yang mengaku bernama Bik Nur itu mengenal Boy. Perempuan itu bisa saja membuat Boy kembali ke masa lalunya. Dan jika Boy kembali ke keluarganya, tentu Elena akan kehilangan Boy. Kehilangan orang yang berpengaruh besar di kehidupannya. Kehilangan orang yang mencarikan nafkah untuknya dan juga untuk Salva. Semenjak kedatangan Boy, kehidupannya menjadi sangat mudah. Lalu… Jika Boy pergi, apa yang akan terjadi? Akankah kembali seperti dulu lagi? Tidak. Betapa besar rasa takut kehilangannya terhadap Boy. Ia tidak mau Boy kembali ke keluarganya. Ia masih ingin bersama Boy.
Boy menggeleng-gelengkan kepala. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
“Bik Nur, Bibik kenal dia?” tanya Elena pada perempuan paruh baya itu, menunjuk Boy.
“Iya iya. Tentu. Sangat kenal. Ini Mas Revan.” Bik Nur gembira sekali. Tak terlukis dengan kata-kata betapa sumringah wajah tuanya itu. Seperti menemukan emas satu peti, atau menemukan uang satu milyar, atau… Entahlah. Ia tampak sangat bahagia. “Ya Tuhan, tapi kenapa Mas Revan jadi kumal begini? Dimana selama ini Mas Revan tinggal?” Bik Nur penasaran sembari memperhatikan penampilan Boy. Kecemasan menyemburat ke permukaan wajahnya. Tangannya menyentuh lengan tangan Boy.
Boy masih menyentuh pelipisnya, seraya menggelengkan kepala beberapa kali. Sesekali ia menatap wajah Bik Nur, kemudian dipalingkannya pandangannya ke bawah.
“Mas Revan, ayo kita pulang. Kita harus beri tau pada semuanya bahwa Mas Revan baik-baik saja,” seru Bik Nur riang.
TBC
__ADS_1