
“Cara bersosialisasi orang-orang di sekitar kami sangat kontras. Terlihat jelas perbedaan mereka memandang kami yang miskin dengan yang kaya. Sepele aja, ketika kami mengadakan acara syukuran, hanya sedikit orang yang datang. Itu pun isi amplop yang mereka berikan nominalnya sangat kecil. Tapi ketika mereka mendatangi acara syukuran orang kaya, mereka mengisi amplop dengan nominal besar. Sebenarnya bukan soal isi amplop yang dipermasalahkan. Tapi memang fakta, dipandang dari cara mereka memberikan sumbangan, jelas terlihat berbeda cara pandang dan cara mereka menghargai manusia.
Parahnya, ketika salah satu diantara kami jatuh sakit, akan memakan waktu lama untuk sembuh. Sebab biaya medis sangat mahal. Satu-satunya jalan supaya bisa berobat gratis adalah dengan diakuinya kami sebagai rakyat miskin oleh pemerintah. Tapi pengakuan itu membutuhkan hitam diatas putih. Ketika kami meminta pengurus desa mengurus surat keterangan miskin agar bisa berobat dengan gratis, aparat desa selalu mempersulit, hingga akhirnya surat itu nggak bisa kami dapatkan. Sebenarnya kami tau, aparat desa akan mengeluarkan surat bila diawal permohonan, mereka diberi uang. Kotor. Memang kotor permainan mereka. Tega mempersulit orang-orang yang sedang kesusahan. Sampai-sampai kami berpikiran bahwa sehat hanyalah milik orang kaya.
Dan sekarang, saya nggak mau membuat orang sepertimu kesulitan seperti saya dulu. Itu menyakitkan. Sangat menyakitkan. Apa yang telah saya lalui itu sangat menyedihkan, dan saya nggak mau nasib yang sama terjadi pada orang lain.
Dihujat, dimaki, dihina sudah menjadi makanan sehari-hari buat saya ketika itu. Kami juga sering mendapat semprotan pedas dari pemilik warung karena hutang yang belum terbayar. Hidup kami dulu benar-benar sangat memprihatinkan.” Tante Vira menelan. Memandangi langit-langit ruangan dengan mata berkaca-kaca. Kemudian melanjutkan, “Saya hidup jaya seperti sekarang ini bukan didapat dengan mudah. Berawal dari menikah dengan Antoni. Kami merangkak bersama, merintis kehidupan bersama. Memulai dari nol. Hingga akhirnya Tuhan memberi jawaban atas usaha dan kerja keras kami. Perlahan usaha kami semakin besar. Merek pakaian buatan kami menjadi top, nomer satu di negeri sendiri.”
Elena tergugu. Cerita itu sangat menyentuh. Inilah bukti, selalu ada hasil baik ditengah perjuangan manusia yang selalu berikhtiar dan bertawakal. Ia tidak heran lagi kenapa Tante Vira bersikap manis terhadap manusia sepertinya. Pertanyaannya telah terjawab. Tente Vira memberikan hikmah penting untuknya.
“O ya, maaf nih, kalau boleh tau, uang itu untuk keperluan apa?”
__ADS_1
Pertanyaan Tante Vira membuat Elena bingung menjawab. Apakah ia akan menjawab untuk mengembalikan uang pinjaman yang telah hilang? Tentu Tante Vira akan bertanya, kenapa ia mesti meminjam uang Om Davin sebanyak itu? Jawabannya untuk operasi adiknya. Operasi apa? Operasi amandel. Bukankah operasi amandel biayanya tidak sebanyak itu? Haduuuh…
“Elena…”
Panggilan Tante Vira membuat Elena tersentak. Pikirannya buyar.
“Ya sudah, nggak usah dipikirin pertanyaan saya tadi.”
“Biiik…!” seru Vira memanggil pembantunya.
Seseorang tergopoh memenuhi panggilan majikan. Muncul dari arah dapur.
__ADS_1
“Ya, Bu!”
Elena terkejut melihat perempuan paruh baya yang mendekati Tante Vira. Ia ingat perempuan itu, Bik Nur. Ya, perempuan yang pernah memanggil Revan di pasar.
“Bik Nur, tolong bikinin minum untuk tamu saya,” perintah Tante Vira.
“Baik, Bu,” jawab pembantu.
Tak salah lagi, perempuan itu adalah Bik Nur. Elena membatin.
**TBC
__ADS_1
LIKE PLIS**