
Elena menarik KTP. Melihat nama yang tertera, nama yang sama dengan pembeli emas, Dona Savira. Semua kartu-kartu di dalamnya beridentitas nama yang sama. Jelas, pemilik dompet itu adalah Dona Savira. Lalu pandangannya mengarah ke alamat yang tertera.
Haruskah ia mengembalikan dompet itu pada pemiliknya? Tapi, jika emas-emas itu ia jual, tentu urusannya dengan Om Davin akan selesai. Bahkan sisanya masih sangat banyak, bisa ia pakai untuk memperbaiki kehidupannya agar menjadi lebih baik. Ah, pilihan yang teramat sulit. Saat ini ia benar-benar membutuhkan uang itu. Jika dalam tiga hari uang Om Davin tidak dikembalikan, ancamannya adalah tubuhnya membeku dalam penjara. Om Davin akan menuduhnya sebagai pencuri. Busuk sekali pemikiran lelaki itu setelah keduanya mengadakan kesepakatan yang telah dirundingkan. Tapi bukankah ia baru saja berjanji pada hatinya sendiri? Berjanji untuk menjadi gadis baik.
Kenapa ia mesti menemukan dompet itu disaat seperti ini? Sehingga terbelahlah hatinya pada dua pilihan yang sulit.
Bisikan-bisikan kecil di hati Elena terus menghasut agar secepatnya menjual emas itu, agar hutangnya segera terlunasi. Jika dompet dikembalikan pada pemiliknya, kesempatan emas itu tidak akan terjadi dua kali. Memangnya Elena sanggup hidup dalam bui? Memangnya ia sanggup mencari uang banyak dalam tiga hari? Lalu apa lagi? Mungkin memang inilah satu-satunya jalan untuk mengembalikan uang Om Davin, menjual emas-emas yang ditemukan.
__ADS_1
Ya benar, Elena harus menjualnya agar ia bebas dari ancaman Om Davin. Agar ia masih bisa terus menjaga Salva.
***
Elena kembali ke rumah sakit masih dengan wajahnya yang kusut. Ia berjalan memasuki kamar Salva dengan tubuh lemas. Revan tidak menanyakan apakah Elena mendapatkan uang itu atau tidak. Jawabannya sudah terlihat dari wajah Elena yang pegel. Lebih kusut dari saat ditinggalkan di terminal tadi.
Penuh kecurigaan satpam memperhatikan penampilan gadis berpakaian kumal yang datang meminta bertemu majikannya. Tidak mungkin majikannya yang kaya memiliki tamu atau kenalan seperti yang dilihat, namun ternyata gadis di depan gerbang itu berbekal kartu nama majikannya. Satpam sempat memeriksa kartu nama yang disodorkan Elena. Asli.
__ADS_1
Satpam kembali menatap Elena.
Elena tidak heran dengan pandangan seperti itu. Sudah cemilan sehari-hari. Pandangan seperti itulah yang selalu dijatuhkan pada semua orang yang memandangnya. Penuh cemeeh. Ia tampak sangat hina di mata manusia.
Elena kemudian menyerahkan dompet branded berwarna merah pada satpam dan meminta satpam agar menyerahkan dompet itu pada majikan. Elena mengaku menemukannya di jalan.
Pandangan satpam berubah teduh saat menerima dompet yang sangat dikenalnya itu. Jelas memang dompet majikannya. Sering ia melihat majikannya menenteng dompet tersebut. Sorot tajam matanya melemah dan berubah dengan pandangan penuh kekaguman. Bangga. Terharu. Bagaimana mungkin gadis miskin seperti yang dilihatnya itu bersedia mengembalikan dompet majikannya? Bukankah Elena bisa menggunakan isi dompet itu untuk keperluannya? Bukankah dia bisa mengambil isinya untuk membuat gaya hidupnya lebih baik? Untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih layak? Untuk membuat tubuhnya menjadi lebih berisi dengan makanan lezat? Tapi tidak, gadis itu justru mengembalikannya. Ia jujur.
__ADS_1
TBC