
“Buat lo mana?” tanya Elena.
“Gue udah mkan.”
Elena kembali menatap sekilas nasi bungkus. Sama sekali tidak berselera.
“Van…” lirih Elena dengan leher tercekat.
“Ya?” Revan mengangkat alis. “Kenapa?”
Elena menatap mata Revan intens. Di mata pria itu, ia menemukan banyak harapan. Entahlah, kenapa ia harus menatap mata itu. Mata yang selalu memberinya banyak harapan.
“Gue boleh minta bantu?” tanya Elena.
“Sejak kapan sih minta bantu aja mesti minta ijin?”
“Sejak gue selalu bingung.”
“Bingung kenapa lagi?” Revan mengerutkan dahi. Menggeser duduk mendekati Elena.
“Rasanya kok gue nggak pantes bilang ini ke lo.”
__ADS_1
“Jangan anggap gue orang lain. Kita udah jalani semua ini sama-sama. Lantas kenapa mesti ada jarak diantara kita? Mana mungkin ada hal nggak pantes. Ngomong aja.”
“Revan, bantuin gue cari uang untuk ngegantiin uang Om Davin yang ilang itu,” kata Elena akhirnya. Matanya terpejam.
Revan merebahkan tubuh di lantai. Berseberangan dengan Elena, berbatas ranjang Salva.
“Oh soal itu. Iya, Elena. Kita akan cari bersama-sama,” jawab Revan santai. Ia yakin akan mendapatkan uang itu. Pasti. Dimana ada kemauan, di ditu ada jalan. Pepatah itu menjadi kekuatan untuknya.
“Van!”
“Hm.” Revan memejamkan mata.
“Ah, lo kayak ngomong sama orang asing aja mesti pake makasih segala.”
“Jadi gue nggak boleh bilang makasih, ya?”
“Enggak kalo sama gue.”
Di tengah kegundahan, Elena pun mengulas senyum.
“Gue capek banget,” keluh Elena. Bukan raganya yang terasa letih meski sebnarnya memang sangat lelah, tapi pikirannya jauh lebih lelah.
__ADS_1
“Istirahatlah! Jangan sampe sakit. Entar lo malah jadi pasien di sini.”
“Kan ada lo yang ngejagain.”
Kali ini Revan yang mengulas senyum.
Malam telah tinggi. Elena kelelahan. Sangat mengantuk. Ia tertidur pulas.
Revan kembali ke posisi semula, berbaring di lantai berseberangan dengan Elena, berbatas ranjang Salva, beralaskan kain selembar. Matanya menatap langit-langit kamar. Perlahan kelopak matanya terkulai lalu terpejam.
***
Hari ini, Salva sudah kembali memakai seragam merah putih, seragam kebanggaannya. Kerinduannya pada sekolah, pada teman-teman, pada buku pelajaran, PR dan pujian guru-guru di sekolah yang mengatakan bahwa dia siswi pintar sudah sangat berat dipikulnya. Rambutnya dibiarkan tergerai karena masih basah setelah keramas tadi. Ia keramas sendiri tanpa bantuan kakaknya. Ia memang mandiri.
Sejak usia tiga tahun, ia sudah makan sendiri. Bahkan ia juga bisa menyuapi Dava saat itu, meskipun nasinya berserakan di lantai. Keadaan rumah kembali normal setelah Salva pulang dari rumah sakit.
Salva berlari keluar setelah menjahili Revan yang sedang sarapan, mencubit lengan lelaki itu. Kali ini Revan tidak membalas. Hanya tersenyum hingga bocah itu berlalu hilang dari pandangan. Salva terlihat ceria. Tidak protes meski sudah keenakan menginap di kamar rumah sakit yang bagus. Ranjang beralas kasur, lantai porselin, lampu terang ketika malam, angin segar yang berasal dari kipas angin, dan kenikmatan lainnya yang dirasakannya di rumah sakit.
Kini ia harus kembali menikmati kesulitan hidup dengan kondisi rumah reot, tidur beralaskan papan yang keras, dan masih banyak lainnya. Perubahan itu justru membuatnya mengenal lebih banyak sisi kehidupan. Dia polos dan tidak banyak permintaan. Bahkan sepatu yang kini dikenakannya itu sudah bolong, tapi tidak pernah sekalipun ia meminta dibelikan sepatu baru. Nalurinya seakan memahami, bahwa permintaannya akan menjadi beban kakaknya. Salut, anak sekecil itu mampu berpikir positif.
TBC
__ADS_1