
“Salva kan kuat. Kakak nggak usah cemas,” ujar Salva sembari mengunyah nasi.
Elena tak lagi bisa melarang. Ia paham pendirian dan tekad adiknya itu kuat.
“Kalo gitu, kakak anterin ke sekolah. Nanti kita mampir ke klinik untuk beli obat,” kata Elena.
“Nggak usah, Kak. Kenapa mesti serepot itu?” Salva tidak mau merepotkan kakaknya. “Biar Salva mampir sendiri ke klinik. Mana uangnya?”
Elena selembar mengambil uang dari bawah papan tempat tidur yang dibungkus plastik dan menyerahkannya pada Salva.
“Tapi janji ya, Salva harus beli obat, bilang sama bidannya bahwa Salva sedang sakit. Obatnya harus diminum.” Elena tahu betul Salva sangat membenci obat. Membenci baunya.
“Pasti,” jawab Salva mantap.
“Janji?”
“Janji.”
Elena yakin Salva adalah anak yang amanah. Dia masih kecil tapi memiliki tanggung jawab. Segala sesuatu yang dipesankan padanya pasti dijalankan. Elena sudah tidak punya hutang lagi di klinik, tentu Salva akan mendapatkan obat yang diminta. Hutangnya telah dilunasi Boy.
Pandangan Elena beralih kepada Boy.
“Ayo, sarapan!” ajak Elena yang melihat Boy hanya berdiri mematung melihat Salva berselera menyantap hidangan.
__ADS_1
Boy mendekat. Duduk di sisi Elena. Dia tidak langsung menyiduk nasi tapi justru mengamati wajah Elena dengan seksama.
“Kenapa ngeliatin gitu?” sewot Elena merasa ditatap dengan pandangan aneh.
Boy malah tertawa. Ledakan tawanya semakin membuat Elena sebal.
“Kenapa, sih?” tanya Elena lagi merasa diledek.
Boy tidak menjawab.
Dengan wajah kesal, Elena menimpuk hidung mancung Boy dengan sendok.
“Aw!” Boy memegangi hidungnya. Meringis. Kesakitan. Ujung hidungnya itu langsung memerah membentuk garis.
“Sorry!” Elena meraih ujung hidung Boy, mengusapnya pelan.
Boy terdiam. Menikmati elusan tangan kecil Elena. Terbuai sejenak. Kemudian tertawa lagi.
“Mulai lagi! Ini bisa mendarat untuk kedua kalinya,” Elena mengangkat sendok lagi. Menunjukkan kekesalan. “Lo ngeledek gue? Apa yang salah sama gue?”
Boy langsung terdiam. Berusaha menahan tawa karena takut sendok yang dipegang Elena akan melayang lagi. Matanya masih terus terfokus ke wajah cantik Elena. Kemudian pelan tangannya meraih cermin retak di dekatnya dan menyodorkannya ke depan wajah Elena.
“Hah?” Elena terkejut melihat pantulan wajahnya di dalam cermin yang sudah mirip seperti monster. Hitam akibat coreng-moreng arang. Begitulah resiko memasak dengan kayu bakar. Tak lepas dari sentuhan arang.
__ADS_1
“Lagi perawatan wajah? Itu bedak apa masker? Biasanya yang namanya bedak tuh warnanya putih, ini kok item?” ledek Boy diakhiri dengan ledakan tawa panjang.
“Iiih… Nyebelin! Lo bukannya ngasih tau, malah ngeledek mulu!” Elena mencubit lengan tangan Boy geram.
Yang dicubit mengaduh. “Lucu sih. Kayak badut.”
Elena buru-buru mengelap wajahnya dengan sehelai sapu tangan yang sebelumnya sempat dicelup ke air. Beberapa kali usap, wajahnya langsung bening. Sayangnya ia lupa mengusap kening hingga coretan di kening terlihat menghias.
“Ya’elah, masih kotor kale. Tuh, kening lo masih ada hiasannya.” Boy mendekati Elena. Lalu mengusap kening gadis itu dengan jempolnya. Tapi arangnya melekat. Jempol Boy mengusap beberapa kali. Tetap tak hilang. Akhirnya ia merebut sapu tangan dari tangan Elena. Lalu diusapkannya di kening Elena.
“Udah? Bersih?” tanya Elena.
“Udah,” jawab Boy.
“Awas kalo ngetawin gue lagi!” ketus Elena.
“Enggaklah, gue ketawa kan gara-gara lo lucu. Sekarang udah cantik, apanya yang mesti diketawain?”
“Cantik? Cantik dari mananya? Mata lo belekan kali,” cibir Elena kembali merasa diledek.
“Jelas cantiklah, masak ganteng?” Boy tertawa lagi. Kemudian menyiduk nasi dan mengeruk bagian bawah priuk. Ia merasakan sesuatu yang keras ketika menggaruk dengan sendok nasi.
TBC
__ADS_1