
Pagi ini di rumah kesayanganku. Akhirnya aroma masakan ibu, aroma wedang uwuh bapak bisa kuhirup lagi. Senangnya bahkan softener beraroma mawar memenuhi kamarku yang berasal dari sprei Lady Rose kesayangan ibuku (sprei pula dibawa-bawa wkwk)
Ibuku sangat menjaga kebersihan dan kerapian kamar ini meskipun tak tau kapan aku akan kembali. Aku pun menghampiri bapak yang sedang membaca koran di teras.
"Eh James Bond, anteng banget mentang-mentang sajennya udah lengkap." Ucapku, sambil melihat bapak dengan secangkir teh rempahnya itu bersama pisang goreng dan tahu bulat.
"Dasar insinyur gadungan!" Jawab bapakku tak ingin kalah.
"Ih bapak ah ! orang Luna beneran engineer tau! " Kataku kesal.
"Coba-coba benerin mesin HT bapak kalo bisa." Jawab bapakku.
"Dih ya nggak bisa dong ah!"
"Nah kan beneran insinyur gadungan." Kata bapak sambil menggigit pisang gorengnya
"Dih ya nggak gitu Bapak. Beda dong masak insinyur suruh benerin HT, mana ada?" jawabku kesal.
"Lah terus siapa dong yang bisa benerin HT?"tanya bapakku kali ini dengan mengginggit tahu bulatnya yang kopong itu.
"Ya tukang servis lah Pak, Pak!"
"Nah kan insinyurnya kalah sama tukang servis. Haha." Kata bapakku sambil tertawa.
"Ah ngeselin nih si James!" dengusku sambil membawa cangkir berisi teh bapak.
"Loh mau dibawa kemana itu tehnya belum diminum sama sekali Luna!" teriak bapak.
"Udah tutup warungnya Bang, sana pulang!" Kataku sambil tertawa.
Aku pun kembali berjalan ke arahnya masih dengan wedang uwuh di tanganku.
"Insinyurnya sekarang buka warkop ya. Wkwk" Ucap bapak dan aku pun duduk di sebelahnya.
"Pak, Mbak Ana kemana sih kok gak pulang-pulang." Tanyaku, aku sangat merindukan kakakku itu, terutama keponakanku.
"Lagi honeymoon, jangan diganggu Luna." Kata bapakku.
"Dih kemana pak?"
"Venice, Italy. Mau nyusul kamu?" tanya bapakku sambil menyeruput wedang uwuhnya.
"Boleh emang pak? Kalo Luna nyusul kesana?" tanyaku.
"Boleh, palingan suruh jadi tukang gayung gondola ntar sama ponakanmu.Haha" ucap bapak, lagi-lagi mengerjaiku.
"Luna, bulan depan bapak ibu mau menghadiri acara pertunangan anak teman bapak. Kamu ikut ya."
"Dimana pak?" tanyaku sambil menggigit pisang goreng.
"Di Jakarta. Libur masih lama kan?" tanya bapakku.
"Masih pak, orang kan bapak sama Mbak Ana yang nyuruh Luna pulang kemarin kan?" kataku
"Oh iya lupa. Jadi gimana itu kamu kok bisa terkunci di ruang guru Lun? Eh ruang mesin." Tanya bapakku dengan serius.
"Gara-gara temen pak." Jawabku, aku sebenarnya malas jika harus menjelaskan kejadian itu pada bapak.
"Kamu ditolongin kapten ya katanya Lun?" Tanya bapak, astaga bapak pun tau tentang skandal itu. Hah, Bumi menyebutnya sebagai skandal dan akupun terbawa mengikutinya sekarang.
"Iya pak."
"Ganteng gak kaptennya Lun?" tanya bapakku jail.
"Ganteng pak, matanya biru." Ucapku asal.
__ADS_1
"Wah, boleh tuh bule dijadiin mantu." Kata bapakku sambil tertawa.
"Ih bapak bencanda mulu loh!!" ucapku, aku pun pergi meninggalkannya dan masuk ke kamarku.
"Eh Lun, bulenya masih single kan??" terdengar suara bapak dari luar masih saja ingin membahas hal itu. Menyebalkan!
***
Satu bulan kemudian.
Hari ini kami akan pergi ke Jakarta, untuk menghadiri acara teman bapak itu. Sebenarnya aku malas untuk ikut tetapi apa boleh buat James Bond terus saja memaksaku untuk ikut. Tiba di Bandara aku bertanya kepada ibuku
"Buk, Luna gak bawa baju kondangan. Gimana ya?"
"Tenang udah ibu siapkan semuanya." Kata ibuku.
"Wah ibu keren banget!" ucapku sambil memcium pipinya.
"Bukan keren, ibu hanya sudah hafal akan tingkahmu Luna!" ucap Ibuku.
"Dih ibuku sayang ini, the best emang!" ucapku.
***
Tiba di Jakarta
Kami langsung menuju hotel yang ditentukan oleh keluarga penyelenggara pesta itu. Aku hanya tim penggembira di di sini, tak kenal dengan siapa keluarga itu.
Sejenak aku teringat temanku Ganis, bukankah dia juga tinggal di area ini. Aku pun menghubunginya via cacaotalk.
Lalalulunana : Halo ratu lebah. Apa kabar? 🐷
Ganis manis : Hoe kalagondang tumben ngabarin? Baik gue 💩
Lalalulunana : Ayoo meet up, gue lagi di jakardah sekarang. 😎
Lalalalulunana : Serioousaah dong daster gamis!
Ganis manis : Dih, bokis nih anak pasrty eh pasti. Coba foto kalo beneran.
Lalalulunana : Dih gak percayee diee. Ini gue lagi di depan monas.
Ganis manis : Serius Lun?😱
Lalalulunana : Buruan kesini..
Ganis manis : Wah gue lagi sibuk Lun, ada acara nih di rumah, lusa deh ya gue kesitu. 😍😍
Lalalulunana : Ya udin deh, gue juga mau kondangan nih. Bye ratu lebah.
Ganis manis : Bye anghaiji 😘😘
***
Aku, Ibu dan bapak kini sudah siap untuk berangkat ke acara. Ibu memakaikan gaun yang sangat cantik untukku, sayangnya aku tidak percaya diri untuk mengenakan ini. Aku seperti bukan Luna tetapi lebih mirip dengan eoni korea.
"Buk, Luna gak mau pake baju ini ah!" ucapku, aku tidak suka baju model seperti ini.
"Udah nurut aja daripada ibu kasih kamu baju gamis mau?" tanya Ibuku.
"Dih ibuk. Ini terlalu girly Buk!"
__ADS_1
"Kita ini mau ke acara pertunangan teman bapak bukan teman kamu yang gak girly-girly itu Luna. Sudah diam!" Kata ibuku mendominasi dan akhirnya aku pun menurut saja.
***
Tiba di acara.
Aku dan ibu memasukki ruangan ballroom yang sudah tertata indah itu. Awalnya aku ingin memberikan ucapan selamat pada putra teman bapak itu, namun sepertinya yang bersangkutan belum datang.
"Haloo agen Pram!" sapa seorang bule yang kira-kira usianya seumuran bapakku.
"Wah.. konglomerat Belanda ini sudah pulang ya!" Kata bapakku.
"Halo tuan dan nyonya Aditama, apa kabar? Wah siapa putri cantik ini? Apakah ini Ana atau Luna?" tanya perempuan berwajah manado itu kepada kedua orang tuaku dan ternyata dia tau tentangku dan mbak Ana.
"Baik nyonya Vandenbergh. Ini Luna putri bungsu kami. Wah bagaimana kabar Reza dan Rengganis?" tanya ibuku. Sejenak aku berfikir nama-nama itu sangat familiar. Dari Vandenbergh, Reza dan Rengganis. Siapa ya seperti tidak asing, batinku.
"Reza sepertinya belum siap dengan acara pertunangan ini namun apa boleh buat usianya telah menginjak 32 tahun." Jelas wanita cantik itu.
"Wah, bagaimana mungkin seorang kapten belum bisa menemukan tambatan hati ya?" ucap Ibuku bercanda. Oh jadi yang akan bertunangan hari ini adalah seorang kapten rupanya.
"Iya, entah mengapa itu bisa terjadi, Reza adalah tipe orang yang sangat pemilih, sudahlah mari silahkan duduk nyonya Larissa dan Luna cantik." Ucapnya tersenyum sambil mempersilahkan kami duduk.
***
Aku pun memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan pasutri-pasutri itu.
"Luna!!! lu di sini?" ucap seorang gadis dari kejauhan.
"Lah Ganis?" Kataku kaget. Sedang apa Ganis di tempat ini.
"Hey, lu kok bisa dateng ke acara tunangan kakak gue?" tanyanya.
"Lah yang tunangan kakak lu Nis?" tanyaku, jadi Ganis adalah anak kedua dari teman bapak tadi dan Reza adalah nama kakaknya. Pantas saja aku merasa tak asing.
"Eh kok bengong. Lu cantik banget hari ini Luna, gue sampek pangling!" ucapnya.
"Biasanya juga cantik gue, dasar ratu lebah!"
"Haha, tapi lu kok bisa dateng dimari?" tanyanya.
"Iya orang tua gue yang ngajakin," ucapku sambil menunjuk ke tempat para pasutri itu.
"Oh dewa! ternyata orang tua kita udah saling kenal ya. Dan ternyata bokap lu itu Agen Pram lun?" Ucap Ganis, terkejut saat melihat ayahku.
***
Kami pun terus mengobrol namun tiba-tiba Ganis mendapat telepon dan raut wajahnya seketika menjadi panik.
"Calon tunangan kakakku menghilang Lun!!!" Kata Ganis sambil menghetakkan kakinya.
"Lah kok bisa?" tanyaku.
Namun belum sempat Ganis bercerita, tiba-tiba bapak datang ke arahku dan menarik tubuhku.
"Luna, bapak gak tau harus ngomong apa, tetapi bapak mau minta tolong sama kamu." ucap bapak dengan raut wajah serius.
"Pak katakan ada apa?" ucapku.
"Luna, maukah kamu bertunangan dengan putra om Alexander Vandenberg?"
"Apa?!!"
"Lun, kita harus menyelamatkan harga diri keluarga ini. Tunangan Reza menghilang dan seluruh undangan sudah menghadiri acara ini. Kau tau kan tamu-tamu di sini bukanlah orang biasa, belum juga kenalan-kenalan bapak dari badan intelijen yang turut hadir, kasihan om Alex. Dia punya riwayat penyakit jantung Lun." Ucap bapakku.
"Apa Pak?!" aku masih tak mengerti dengan ucapan bapakku ini. Aku? tunangan? dengan kakaknya Ganis?"
__ADS_1
"Pak, apa-apaan ini?" ucapku masih tak percaya dengan apa yang terjadi.