I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Accident


__ADS_3

Keesokan paginya Reza berjalan menuju ruang makan, di sana semua anggota keluarga telah berkumpul untuk sarapan bersama. Sementara Luna masih sibuk dengan aktifitasnya di kamarnya itu.


"Kak, Luna mana?" tanya Ganis saat melihat kakanya hanya berjalan sendiri.


"Oh masih di kamar Nis," jawab Reza, ia tak dapat menyembunyikan raut bahagianya di hadapan sang adik.


"Wah, kecapean itu pasti!" ejek gadis seusia Luna itu.


"Kecapean kenapa?" tanya Alexander, ingin tau.


"Dih Papa pengen tau aja!" jawab Ganis.


"Papa memang tau kok Nis!" ledek Alex pada puterinya itu.


"Tau apa hayo?"


"Taulah! yang kewalahan-kwalahan kemarin kan Roose?" tanpa aling-aling pria itu langsung mengarahkan pandangannya pada Reza. Reza pun tersenyum, ia tau sifat ayahnya, untung saja Luna belum berada di sana, jika tidak wajah putih itu pasti akan berubah menjadi kepiting rebus.


"Ah papa!" jawab Reza malu-malu.


"Kalian ini lagi ngobrolin apa sih? Apa cuma mama yang gak ngerti apa-apa di sini?" ibunda Reza memanyunkan bibirnya.


Di kamar


Luna sedang menatap pantulan dirinya pada cermin, sambil sibuk memilih pakaian yang dapat menutupi tanda-tanda kepemilikan yang dibuat oleh Reza, pada lehernya.


Ah bagaimana ini? Kak Reza sungguh keterlaluan! Apa yang harus kugunakan untuk menutupinya? jika papa mama melihatnya, bukankah akan sangat memalukan!


Astaga bahkan warnanya tidak lagi merah, tetapi lebih kebiruan! Apakah aku harus menutupinya dengan plaster? tapi tidakkah akan sangat konyol jika menggunakan puluhan plaster pada leherku?


Aku akan tampak seperti majalah dinding dengan ribuan artikel tertempel pada kulitku! Luna terus bermonolog.


Rasa kantuk dan kesal bercampur menjadi satu sebab semalam Reza terus menahannya hingga menjelang pagi.


Rengganis memberikan lingerie berwarna merah, dengan belahan lebar pada bagian dada juga pinggang, warnanya yang sangat cocok dengan kulit Luna, membuat Reza tidak bisa berpaling walau sedetikpun.


Tok


Tok


"Lun! ayo makan!" ucap Ganis mengetuk pintu kamar itu, lalu Luna membukakannya.


"Nis, ini semua gara-gara kamu!" dengus Luna.


"Lah salah gue apa kakak ipar?" tanya Ganis, belum mengerti.


"Lihatlah ini Nis!" Luna menunjukkan lehernya yang bertebaran kissmarks itu.


"Astagaa! sadis juga kakak gue ya Lun!" sentak Ganis tak percaya, jika ternyata kakaknya diam-diam menghanyutkan.

__ADS_1


"Ah gue bilangin Papa ah!" ucap gadis itu sambil berlari menuju pintu keluar.


"No! Ganis!" Luna menarik tubuh sahabatnya itu dengan kuat, hingga membuat gadis itu terjatuh


"Aww!"


"Kasar banget lu Lun!" pekik Ganis sambil memegangi pinggangnya.


"Pantesan kakak gue suka! Berapa ronde semalam? haha!" Ganis tertawa terbahak.


Luna mencubit hidung mancung adik iparnya itu dengan gemas.


"Nis, gimana dong! aku tak mungkin biarin Papa mama lihat ini kan?"


"Nih, pake scarf gue aja!" Ganis mengambil sebuah scarf yang biasa ia pakai saat pergi ke puncak


"Dih ogah! cuaca panas gini pake syal!" Luna menepis kain berbulu itu.


"Daripada malu? Hayo gimana?" ejek Ganis, dengan terpaksa akhirnya Luna menuruti perkataan Ganis, dan mereka berdua pun menurunui anak tangga menuju ruang makan.


Reza dan kedua orang tuanya masih sibuk dengan sarapan mereka, dan berhenti saat melihat Luna dan Ganis berjalan ke arah mereka.


"Luna, makan dulu sayang!" ucap ibu mertua Luna itu.


"Iya Ma," jawab Luna merasa risih saat wanita itu menatap syal yang sedang ia kenakan.


"Tidak Pa, hanya agak kedinginan," ucap Luna asal, ia sungguh merutuki kebohongan bpdohnya kali ini.


"Oh ya sudah makan yang hangat-hangat ya," ucap pria itu kemudian meminta salah seorang maid untuk mengambilkan sup jagung untuk Luna.


"Ma-makasih Pa," jawab Luna terbata, sementara Reza dan Luna hanya berusaha menahan tawa mereka.


Sepersekian detik kemudian, seorang maid datang dengan membawakan satu mangkuk sup jagung brokoli, Luna pun mengambilnya lalu memakannya sedikit demi sedikit.


Sang Ibu mertua sangat bahagia melihat nafsu makan Luna yang sangat bagus itu, dan berharap jika ia akan segera memiliki cucu untuk dipamerkannya pada keluarga besar Vandenberg.


"Sayang, makanlah yang banyak ya! agar kau bertambah sehat!" ucap wanita itu.


"Iya Ma," jawab Luna, mengangguk pasrah.


Ini sungguh sangat menyiksa, aku harus memakan makanan super panas ini di tengah cuaca yang terik! batin Luna.


Tanpa sengaja Ganis menyenggol mangkuk berisi sup milik Luna itu, hingga mengenai syal pada leher Luna yang menjuntai.


"Ahh!" Luna terkejut lalu segera melepaskan lilitan syal pada leher jenjangnya.


"Ya ampun Luna! sorry!" ucap Ganis lalu membersihkan sisa-sisa makanan yang mengenai baju Luna itu.


"Nis, apa yang kau lakukan!" bisik Luna pada telinga sahabatnya itu. Semua mata memandang ke arah Luna, terutama pada noda-noda cetakan Reza itu.

__ADS_1


"Gorgeous Roosevelt!" celetuk Alex saat memperhatikan kulit menantunya.


"Papa sempat berfikir kau itu cupu tetapi ternyata lebih dari suhu!" ucap Alex lagi, dan membuat semua orang tertawa kecuali Luna, jika lubang semut bisa ia masukki, pasti ia akan melakukannya saat itu juga.


****


"Kak, aku pusing!" ucap Luna saat Reza hendak berbaring di sampingnya.


"Kenapa sayang apa kau sakit?" Reza segera memeriksa suhu tubuh istrinya.


"Tapi, kau tak demam Luna," ucap Reza.


"Tidak kak, hanya sedikit pening saja tidak demam," jawab sang istri.


"Ah aku akan memanggil dokter jika begitu!"


"Jangan Kak, aku akan beristirahat saja, mungkin ini hanya efek kurang tidur saja," jawab Luna.


"Maafkan aku sayang, beberapa hari ini aku sangat mengganggu tidurmu," ucap Reza lalu memeluk sang istri.


Keesokan paginya Reza bangun dengan keadaan segar, tetapi Luna masih saja bermalas-malasan dan belum ingin membuka matanya.


"Sayang aku akan pergi berolahraga dengan Papa, apa kau mau ikut?" tanya Reza sambil mengecup mata Luna yang masih terpejam itu.


"Tidak kak, kakak pergi saja!" jawab gadis itu lalu melanjutkan acara tidurnya.


"Baik Sayang, I love you!" Reza pun pergi meninggalkan kamar itu.


Di taman


Alex dan Reza tengah melakukan latihan fisik, hingga ponsel Alex bordering, dan merekapun menghentikan kegiatannya.


"Siapa Pa?" tanya Reza.


"Om Kuppens, menelepon papa," jawab Alex lalu menerima panggilan itu.


"Ya halo, Kuppens. Ada perlu apa? tumben menelepon?" tanya Alex pada sahabatnya tersebut.


"Alex, sebelumnya aku ingin meminta maaf atas perlakuan Sharon pada keluargamu selama ini," ucap Kippers dengan nada sendu.


"Tak perlu kau pikirkan Kupp, kita teman bukan?!"


"Euh, lalu bagaimana dengan kabar Sharon sekarang?" tanya Alex, meskipun ia tidak menyukai gadis itu tetapi ayah Sharon adalah orang yang sangat baik padanya.


"Itulah yang menjadi alasanku meneleponmu hari ini," jawab Kuppens.


"Katakan ada apa?"


"Sharon divonis terkena kanker darah stadium akhir, Alex!" ucap pria Belinda itu dengan suara parau, menandakan kesedihannya yang mendalam.

__ADS_1


__ADS_2