I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Malam apa ini ?


__ADS_3

Ini sudah enam puluh menit aku berada di dalam kamar mandi. Aku sengaja berlama-lama di dalam sambil menunggu kapten tertidur. Sungguh ini adalah momen yang sangat mendebarkan untukku.


Sepuluh menit berlalu, aku masih saja menunggu tanpa melakukan apa pun harusnya aku membawa ponselku ke dalam ruang shower ini. Sayangnya aku lupa.


"Luna, apa kau baik-baik saja?" terdengar suara kapten memanggilku dari luar.


"Luna, apa yang kau lakukan?" Aku semakin gugup mendengar suara itu lagi. Wajar saja dia bertanya memangnya apa yang dilakukan oleh seorang pengantin wanita di dalam kamar mandi selama satu jam jika tidak untuk menghindari malam pertama.


"Apa semua baik-baik saja?" tanyanya lagi.


Aku bingung harus menjawab apa, jika aku menghabiskan waktu lebih lama lagi tentu dia akan lebih curiga lagi. Akhirnya aku pun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos putih yang kapten berikan padaku.


Kubuka pintu itu dan saat aku melangkah pelan tanpa melihat depan tiba-tiba tubuhku menabrak sesuatu yang keras dan bidang. Tentu saja ini tubuh kapten yang sudah kutabrak.


Ah bodohnya Laluna, gumamku lirih.


"Luna kau tak apa?" tanya kapten dengan tangannya yang memegangi tubuhku. Mata kami bertemu, sekali lagi aku sangat terpesona dengan wajah ini, mata biru dengan bulu mata lentik itu sangat menggoda.


"Luna, jangan melamun," ucapnya lagi. Astaga aku ini kenapa mesum sekali. Bisa-bisanya aku membayangkan yang tidak-tidak bersama kapten.


"Ah maaf kapt," ucapku sambil melepaskan diri darinya. Aku pun berjalan menuju meja dressing sambil mengeringkan rambutku. Sesekali kulihat dia yang sedang bermain ponsel. Lihatlah, bahkan mataku seakan ingin terus memandangnya dari pantulan cermin ini.


Selesai membenahi wajah dan rambutku, aku menuju tempat tidur. Sedangkan kapten masih berada di sofa, yang kemudian ikut duduk bersamaku.


Suasana kembali canggung, seakan dia ingin mengatakan sesuatu, aku pun demikian.


"Luna, apa kau lapar?" tanyanya. Bagaimana aku bisa merasa lapar jika kondisi jantungku saja sangat meresahkan seperti ini.


"Belum capt."


"Jangan terus memanggilku capt, aku suamimu sekarang," ucapnya sambil tersenyum.


Jangan tanyakan bagaimana ekspresiku saat mendengarnya menyebut diriny sebagai sebagai suamiku. Yang jelas aku ingin mengambil hansaplast jumbo dan kutempelkan pad jantungku agar tidak terlepas dari tempatnya.


"Lihatlah dirimu, tanganmu bahkan gemetaran seperti itu." Aku sangat ingin menghilang dari tempat ini jika tubuhku terus saja tidak bisa diajak berkompromi.


"Maaf kak Reza. Aku hanya sedikit gugup." Jawabku.


"Aku akan keluar sebentar. Kau tunggulah di sini." Ucapnya.


"Kakak mau kemana?" tanyaku dengan spontan.


"Aku akan keluar untuk memesan makan malam kita. Kau bahkan belum makan sama sekali hari ini bukan?" dan dia pun keluar kamar.


Kurebahkan tubuhku di tempat tidur, lega sekali rasanya seperti sedang terbebas dari adegan horor di film-film. Sungguh apa yang akan terjadi setelah ini, bahkan waktu pun masih menunjukkan pukul sebelas malam.

__ADS_1


Kuraih ponselku dan melihat beberapa pesan masuk pada akun media sosialku.


Ganis manis : Kakak ipar, kenapa masih online? apa belum terjadi pertarungan? 🤣


Lalalulunana : Dasar ratu lebah!


Ganis manis : Hey, apa baju dinasnya bagus-bagus?


Lalalulunana : Kau membuatku terlihat konyol hari ini.


Ganis manis : Seksi dong kok konyol bagaimana hey?😍


Lalalulunana : Kakakmu meminjamiku baju, karena aku malu untuk menggunkan baju-baju haram darimu itu.


Ganis manis : Lah, gimana sih Kak Reza tuh.😪


Lalalulunana : Nis, tolongin gue dong. Gue bisa mati berdiri kalo terus begini,😭


Ganis manis : Lah gimane ceritenye sih Lun. Tinggal nurut aja sama kakak gue, gue udah pingin punya ponakan yang unch tau !🤣


Lalalulunana : Awas aja ntar kalo ketemu Nis !


Ganis manis : Kakak gue hot kan Lun?


Lalalulunana : Tau ah 😪


Ganis manis : Oh senangnya beberapa menit lagi ponakan idamanku diproses. Semangat ya 😍🤣


Lalalulunana : Dasar kau ratu lebah!


Aku pun segera meletakkan ponselku di nakas saat Kak Reza masuk ke kamar.


"Luna, makan dulu yuk."Ucapnya sambil meletakkan tray berisi beberapa makanan dan minuman itu.


"Iya kak. Aku pun menghampirinya dan membantu Kak Reza menata makanan di meja.


"Luna, apa kau baik-baik saja?" tanya Kak Reza.


"Kak, kenapa selalu menanyakan apa aku baik-baik saja atau tidak? tentu saja aku baik." Ucapku sedikit kesal.


"Aku tau kau sedang menahan kegugupan Lun."


"Benarkah? tapi aku sudah biasa saja sekarang?" jawabku.


"Jadi sudah tidak gugup?"

__ADS_1


"Tidak kak."


"Tetapi aku yang gugup sekarang Luna." Ucapnya sambil tersenyum.


"Gugup kenapa kak?" tanyaku, tak mengerti.


"Apa kau sudah siap?" tanyanya lagi-lagi sambil tersenyum. Sepertinya aku tau maksud kak Reza.


"Siap untuk apa kak?" tanyaku pura-pura tidak tau.


"Untuk itu Luna."


"Itu apa?" Astaga, aku benar-benar tidak sanggup menahan rasa panas di wajahku sekarang.


"Untuk makan. Haha, ayo mari makan Luna," Ucap kak Reza terbahak.


"Oh hehe," lihatlah lagi-lagi otak mesumku kembali hadir. Sungguh memalukan !


Kami pun makan bersama dan aku kembali memusingkan apa yang akan kulakukan setelah makan malam ini usai.


Reza POV


Orang menyebut malam ini dengan malam pengantin. Tetapi lihatlah bagiku malam ini adalah malam yang sangat mendebarkan. Seusai acara pemotretan aku mencari keberandaan Luna,


Dan ternyata istri kecilku itu sedang berada di sky roof hotel berbintang ini. Tapi, tunggu. Aku menyebutnya istri kecil bukan karena tubuhnya melainkan karena usianya yang terpaut jauh denganku.


Luna memiliki tubuh yang terbilang proporsional dan tinggi badan yang lumayan, dia terlihat sangat anggun saat mengenakan gaun pengantin itu.


Kupandangi wajah cantik itu dari kejauhan, saat ini aku sudah berganti pakaian bebas tetapi tidak dengan istriku itu, entah apa yang akan orang pikirkan jika melihat mempelai wanita duduk termenung sendiri dengan wajah kusut.


Sungguh mungkin orang-orang yang melihat Luna akan berfikiran jika gadis itu sedang kabur menghindari malam pertama bersama om-om sepertiku.


Kupandangi wajahku pada cermin di area balkon tersebut. Tidakkah Reza ini tampan meskipun sudah sedikit berumur? gumamku lirih, bahkan gadis-gadis di kapal kemarin sempat menawarkan dirinya padaku.


Mereka sangat meresahkan, tidak seperti Luna. Jangankan untuk menggodaku, untuk bertatap muka denganku saja dia sudah salah tingkah hingga wajahnya memucat bukan merah lagi.


Aku pun meminta pelayan untuk memberikan selimut dan minuman hangat untuknya. Aku sengaja memberinya waktu untuk sendiri dulu. Namun sudah satu jam berlalu Luna masih saja berdiam diri di sana.


Akhirnya aku membawanya ke kamar, dengan menurut dia mengikuti dari belakang. Sungguh anak ini lugu atau apa, bahkan dia terlihat bingung saat mengetahui isi kopernya hanya berisi lingerie. Aku sangat ingin tertawa melihat tingkah Luna.


Sudah kuduga, meskipun aku telah memberinya kaosku untuk dipakainya tetapi tetap saja ia terlihat kaku hingga menabrakku di depan pintu kamar mandi.


Seketika kutangkap tubuh ramping itu, dan akhirnya tangan ini menyentuh kulit mulusnya, saat itu mata kami saling bertemu tetapi Luna sengaja memutus kontak yang ada.


Aku berusaha menahan segela gejolak yang ada, terlebih saat melihatnya mengenakan kaos longgar dariku itu, kupandangi tubuh Luna dari belakang, kaki jenjangnya nampak sangat menggiurkan.

__ADS_1


Astaga, ini tak bisa kubiarkan, aku tidak tahan jika terus berada di ruangan ini. Sebelum aku khilaf, akhirnya aku meminta izin untuk keluar kamar dan memesan makan malam untuk kami mengingat Luna belum makan seharian ini.


Setelah makan malam usai, aku memintanya untuk tidur di atas bed, sedangkan diriku tidur di sofa, aku sungguh tidak ingin khilaf dan menyerangnya tanpa sadar jika kami tidur dalam satu ranjang karena aku tau Luna belum siap.


__ADS_2