
“Captain! Captain monitor!”
“Captain monitor!”
Terdengar suara radio yang ada di saku jas Reza. Seketika kapten itu menghentikan kegiatan pergulatannya dengan sang istri.
“God! Sampai kapan ini harus terus terjadi!” Reza berdecak kesal, sementara Luna yang masih berada di dalam kungkungannya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya terbuka.
“Luna siapa yang menyuruhmu memakai baju?” ucap Reza menahan tubuh istrinya yang hendak beranjak .
“Kak, jawab dulu radiomu!” jawab Luna menunjukkan radio yang terus menyala memanggil nama sang empunya.
“Yes, Captain here!” ucap Reza datar sambil mengatur nafasnya.
“Captain speaking! Bridege monitor!”
Reza melepaskan Luna dan menjawab panggilan dari anjungan tersebut.
“Bridge monitor, where are you Capt?”
“Captain monitor!”
Anjungan kembali memanggil nama kapten. Reza menghela nafas panjang, lalu melenjutkan sambungan radio itu. Sementara Luna berganti baju, ia merasa dirinya akan selamat kali ini.
“Luna, kau selamat kali ini,” ucap Reza sambil menatap cermin, dan membetulkan seragamnya yang sedikit berantakan.
“Kak, mau kemana?” tanya Luna.
“Jangan berpura-pura tidak tau, bukankah kau senang karena aku gagal lagi?”
“Kak, aku serius. Ada masalah apa di anjungan?”
“Tidak ada, hanya safety training,” ucap Reza, masih terlihat kekesalan di wajah itu.
“Semalam ini?”
“Ya sayang, ini urgent. Kenapa? Aku akan segera kembali ,” Reza mengedipkan satu matanya.
“Kak, aku takut. Jangan terlalu sering ke kabinku,” Luna menggigit bibir bawahnya menunjukkan kekhawatiran.
“Baiklah, jika begitu kau yang harus ke kabinku!”
“Ah Kak, itu sama saja. Tapi, aku akan mencobanya jika kondisi sedang aman,” Luna memeluk suaminya dari belakang.
“Tumben sekali kau memelukku Lun?” Reza memperhatikan dirinya dan Luna dalam pantulan cermin, ia mengeratkan tangan mulus yang melingkar di pinggangnya.
“Ya, apa tidak boleh?”
“Bukan begitu, hanya saja, kau telah membangunkannya ..” ucap Reza mengarahkan tangan Luna ke area sensitifnya.
__ADS_1
“Kak! Apa-apaan ini!” Luna tersentak saat tangannya menyentuh sesuatu yang mengeras itu.
“Haha, bukaknkah sudah kukatakan jangan memancingku ,”
“Aku tidak memancingmu Kak!”
“Tapi, kau sengaja memelukku di saat aku harus kembali bertugas bukan?” Reza sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari gadis itu.
“Sepertinya aku harus mengambil full day off besok,”
“Untuk apa kak?” Luna tidak mengerti.
“Untukmu,” Reza melepasakan pelukan Luna, kemudian mengecup bibirnya, dan kedua pipi berlesung itu.
“Bersiaplah sayang,” ucap Reza dan dia pun keluar dari kabin Luna.
Luna mematung, kemudian mengikuti Reza, yang telah berjalan menjauh. Dia sempat melihat beberapa officer sedang menghampiri Reza, Luna tau sejak tadi staff kapten itu sedang mencari nahkodanya. Tetapi sang kapten malah sedang bercinta dengan ABK-nya. Dan dialah ABK itu, Luna tersenyum dalam diam, entah mengapa hubungannya dengan suaminya itu terkadang terasa lucu baginya.
“Kak, entah harus berapa kali lagi kita gagal mendapatkan malam pertama, bukan salahku tetapi salahmu yang terlalu lelet!” Luna bermonolog dan kembali masuk ke kabinnya.
Jika saja dia berani mengatakan hal itu di depan Reza langsung mungkin dialah yang akan menyesal.
***
Di belahan bumi lain.
Yoshi dan Ana masih bersama kedua orang tuanya. Mansion itu terasa lebih hidup dan penuh canda tawa dengan kehadian kakek dan nenek itu.
“Ya, Nak. Dan kali ini lebih strict,” jawab Pramuja.
“Apa maksud bapak?”
“Bukan tentang hijacking lagi, tentang perdagangan manusia,” Pram menunjukkan sesuatu pada tabletnya.
Ketika Yoshi akan melihatnya tiba-tiba saja Ana datang bersama Gwen yang berada dalam gendongannya.
“Ah, kalian sedang mengobrol apa? Pak, coba kasih lihat foto pernikahan Luna!” ucap Ana, dan duduk di sebelah ayahnya.
“Sayang, aku sedang melihat kasus yang akan ditangani oleh bapak..” Yoshi berdecak kesal.
“Mas, aku ingin melihat Luna saat memakai kebaya pernikahan,” jawab Ana, dan Pram pun akhirnya menyerahkan tab itu pada putrinya.
“Baiklah, aku juga ingin melihat bagaimana suami Luna,” Yoshi menghampiri istrinya sedangkan Pram meraih Gweneth dari pangkuan Ana.
Sepasang suami istri itu membuka satu persatu folder pada tablet tersebut.
Lembar demi lembar foto terpampang jelas, kemudian tibalah di satu folder dengan nama. ‘Roosevelt and Laluna’s Wedding’ sekilas Ana tampak berfikir, mengapa nama itu sangat tidak asing baginya.
“Mas, ini seperti nama…” ucapan Luna meggantung, ia tampak berfikir dan Yoshi mulai membuka foto pertama.
__ADS_1
“Nama apa sayang?” tanya Yoshi, kemudian mata mereka membulat saat melihat sepasang pengantin dengan gaun putih, pengantin wanita tampak cantik dan manis dalam balutan kebaya itu, dialah Luna, adik mereka, sementara pria yang berdiri di sampingnya, dengan wajah kebulean, mata biru dengan rambut mowhak kepirangan.
“REZA??” Yoshi dan Ana, mengucapkan nama itu bersamaan, apa yang sejak tadi dipikirkan oleh Ana terjawab sudah, sesuai dengan praduganya.
“Apa ini? Benarkah ini si cacing?” Yoshi memperhatikan foto itu dalam-dalam, begitupun dengan Ana.
“Mas, ini Reza, ya benar! Nama lain Reza adalah Roosevelt!” Ana masih tak percaya jika sahabatnya itulah yang ternyata menjadi adik iparnya.
“Kau benar sayang, ini adalah si cacing pita itu!” Yoshi masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Tapi, bapak bilang suami Luna adalah seorang kapten?”
Yoshi pun tampak berfkir, CEO itu segera meraih ponselnya dan membuka situs website perusahaan kapal pesiar tempatnya dan Ana pernah bekerja dulu.
“Captain Roosevelt..” ucap Yoshi, saat melihat bahwa gambar Reza lah yang berada dalam halaman pertama.
“Jadi, benar apa yang dikatakan oleh si cacing itu tempo hari,”
“Apa Mas?” Ana ikut melihat apa yang sedang suaminya lihat.
“Reza naik menjadi kapten sekarang sayang,” ucap Yoshi pada istrinya.
“Wah itu bagus, dan adik iparku adalah sahabatku sendiri, hahaha!” Ana tertawa, tetapi tidak dengan suaminya.
“Ini tidak lucu An,” jawab Yoshi.
“Reza bahkan tidak tau jika Luna adalah adikmu, bagaimana jika..”
“Jika apa Mas? Aku akan segera menelepon Reza dan mengatakan semuanya!” Ana meraih ponselnya.
“Jangan An,” Yoshi meraih ponsel itu.
“Kenapa Mas? Kau tidak senang?” Ana menatap suaminya.
“Bukan begitu, aku hanya takut..”
“Takut, jika Reza masih memiliki rasa padamu,” Yoshi masih saja belum bisa melupakan kejadian itu.
“Mas, sudahlah. Reza telah bersama Luna sekarang, adik kiita!”
“Dan, lagipula Reza tidak pernah memiliki rasa padaku, semuanya hanyalah pengungkapan rasa persahabatan saja, ayolah jangan terlalu overthinking, sayang,” ucap Ana mencium pipi suaminya.
“Mungkin kau benar An,”
“Ya, lupakan. Kita tunggu saja saat mereka pulang dan melihat kita ada di sini,” wanita itu benar-benar tidak merasakan kekhawatiran yang melanda suaminya.
“Tapi, bulan depan kita harus ke London sayang,” ucap Yoshi.
“London? Apa opa memanggilmu?” tanya Ana, mengingat jika kakek Yoshi masih berada di sana.
__ADS_1
“Bukan Opa, tetapi mama yang ingin bertemu dengan Shian dan Gwen.
Ingatan tentang London dan ibu mertuanya selalu terngiang di benak Ana tentang bubuk hijau yang membuatnya susah berjalan selama beberapa hari itu. Belum lagi kecanggungan antara dirinya dan Yoshi keseokaan harinya.