I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
EPILOG


__ADS_3

...Aku akan menjadi penjaga untukmu Kak Reza...


...-Luna-...


...Bagaimana mungkin kau bisa menjadi penjaga untukku, menjaga dirimu sendiri saja, kau tak mampu Luna...


...-Reza-...


Flashback on


Luna masuk ke rumahnya setelah melepas kepergian Reza, ia tak dapat menahan air matanya yang sejak tadi ia sembunyikan dari Reza itu, dilihatnya barang-barang dari suaminya yang selama beberapa hari ini Reza kirimkan melalu kurir.


Vitamin, buku, pakaian ibu hamil, semuanya Luna simpan dengan baik, dan kali ini ia ingin membukanya satu persatu setelah sang pemberi pergi.


Kak, kau begitu perhatian padaku, bahkan di saat aku selalu mengacuhkanmu. Padahal jika dipikir-pikir aku pun terlalu mengutamakan egoku, tanpa mau mendengarkan penjelasanmu.


Aku tau sifat penolongmu Kak, aku tau kelemahanmu! tetapi entah bagaimana Lunamu yang bodoh ini masih saja menutup mata dan telinganya dan menganggap seolah kaulah yang paling bersalah dalam insiden kemarin.


Mungkin jika saat itu kau mengatakan padaku, tentang permintaan om Kuppens, tentu aku tak akan mengijinkanmu berdrama dengan Sharon dan masalah baru akan muncul yaitu perpecahan antara papa dan om Kuppens. Tanpa menyadari bahwa sebenarnya kaupun juga korban dalam kasus ini


Sungguh,demi apapun aku tak ingin kau pergi Kak, di saat kita belum menyelesaikan masalah ini dengan benar, aku tau kau sudah berusaha meluluhkanku, tetapi setan dalam hati ini terus memaksaku untuk tetap menjauhimu, dan melupakan jika saat ini aku sangat membutuhkanmu Kak, gumam Luna dengan memeluk foto Reza yang sempat ia dikirimkan olehnya ke ponsel Luna beberapa hari yang lalu, dimana saat itu ia langsung mengabaikannya.


“Luna ada apa?” tanya Ana saat melihat adiknya menangis.


“Mbak, apa aku sudah sangat keterlaluan pada Kak Reza?” tanya Luna sambil memeluk kakaknya.


“Luna, dengarkan Mbak ya, saat ini kau sedang hamil, dan emosional ibu hamil itu terkadang sangat tidak dapat terkontrol karena pengaruh hormone. Jadi jaga perasaanmu, hindari stres berlebih. Ikuti kata hatimu sayang,”


“Tentang Reza, mbak yakin dia sangat menyanyangimu. Buktinya untuk pergi kembali bekerjapun ia meminta ijin darimu bukan?”


“Masalah pertunangan atau apa yang terjadi kemarin, bukankah itu hanyalah sebuah sandiwara saja? Semua orang tau itu. Reza hanya melakukan drama bukan sungguhan. Dia tidak mungkin melakukan hal semacam itu tanpa sebab Luna.”


“Jika dibandingkan dengan apa yang sudah Kak Yoshi lakukan pada Mbak dulu, bukankah perbandingannya sangat jauh? Yoshi menjeratku, menipuku, memanipulasi kehidupan kita semua selama bertahun-tahun secara sadar."


"Tetapi Reza? Apakah dia sadar? No Luna, Reza hanya melakukan sebuah drama, yang dianggapnya sebagai rasa hormatnya pada seseorang yang dianggapnya tua.”


“Pernikahan itu tidak bisa dinilai hanya dari satu sisi sayang, saat pasangan kita melakukan sebuah kesalahan, belum tentu dia benar-benar sengaja melakukannya. Bisa jadi semua itu ia lakukan demi keluarganya. Karena saat kau menikah dengan seseorang, kau bukan hanya menikah dengan orang itu saja Luna, tetapi juga dengan keluarganya.”


Tanpa menjawab perkataan kakaknya, Luna semakin menangis, ia sadar apa yang dikatakan oleh Ana tak satupun yang salah.


Saat itu juga Luna berlari keluar rumah berniat untuk mengejar Reza. Tetapi sudah terlambat, sebuah taksi telah membawa pria itu kembali ke Jakarta dan bersiap untuk terbang ke kapal dimana ia akan bertugas.


Hari demi hari berganti, Luna semakin tak karuan, beberapa kali ia mengirimkan pesan kepada suaminya tetapi tak satupun yang masuk.


Hingga ia melihat sebuah berita jika di peraiaran Kutub utara sedang rawan terjadi badai. Beberapa kapal bahkan membatalkan perjalanannya ke wilayah itu. Luna semakin panik dan sadar itulah yang menyebkan dirinya tidak bisa menghubungi Reza dan begitupun sebaliknya.


Bukankah kapal kak Reza sedang berlayar di wilayah itu, guman Luna raut kekhawatiran mulai menyelimutinya.

__ADS_1


Kak, haruskah aku menyusulmu?


Flashback Off


Di kapal


“Capt, ada masalah, beberapa tim penyelamat mengalami hipotermia!” lapor Charles, pria itu sudah mengenakan pelampung, pertanda keadaan sudah mulai kritis.


“Gunakan tim cadangan!” Reza mengumumkan kepada seluruh rescue squad baik cadangan ataupun inti untuk bergerak lebih cepat lagi sambil tetap mengawasi tekanan air yang mulai menggenangi seisi kapal.


Lampu emergency mulai berkedip-kedip menandakan jika kapal sedang dalam ‘terancam’.


Reza berulang kali mengumumkan jika ia telah memutuskan para penumpang dan kru untuk segera ke raft station untuk di evakuasi. Beberapa tempat di dalam kapal, kabin-kabin, bar, lounges, restoran mulai terisi dengan air laut.


Beberapa tamu telah berada di lantai tiga luar, untuk menanti giliran evakuasi, naik ke sekoci secara bergantian. Kapal masih berada jauh daratan, di tengah-tengah lautan yang temperaturnya bahkan lebih dari minus satu satu derajat.


“Ladies and gentlemen this your Captain! Once again this is your captain! Please proceed to your assembly station right now!”


“Abandon the ship!”


Lengkingan alarm terus berbunyi, di seluruh penjuru kapal, Reza mulai gugup, khawatir jika waktu tidak akan cukup untuk menyelamatkan seluruh penumpang di kapal itu.


Dia bisa saja berlari dan kabur dari tempat itu, tetapi itu bukanlah jiwa seorang nahkoda sejati.


Seribu penumpang lebih saat ini berada di tangannya untuk diselamatkan, meskipun ia tau tak akan ada yang bisa menghindari takdir Tuhan.


Reza tetap berada di anjungan mengedalikan navigasi yang masih bisa ia kendalikan.


Charles kembali melapor, akhirnya seluruh penumpang yang terdiri dari kru dan tamu itu berhasil di evakuasi dan sedang menunggu pertolongan dari darat, menjauhi kapal pesiar raksasa yang hampir tenggelam itu. Reza bernafas lega, kini tinggal dirinya yang menyelamatkan diri.


Radar terus berbunyi untuk mengirimkan signal darurat ke daratan.


“Capt, sekarang tinggal kita dan rescue team yang tertinggal,” lapor Charles.


“Dimana rescue team itu?”


“Masih terjebak di lantai dua capt!”


“Charles, kau pergilah dulu. Aku akan menunggu rescue team!” dengan berat hati Charles pun meninggalkan Reza bersama officer yang lain.


Ketinggian air hampir menyentuh kakinya, tetapi Reza masih tak bergeming, sementara ia melihat seseorang sedang berjalan ke arahnya, dengan basah kuyup dan rambut panjang yang terurai,


Reza mengerjapkan matanya untuk memastikan jika itu bukanlah halusinasi.


“Luna?”


“Kak, sampai kapan kau akan berdiri di sana? Mana pelampungmu!” ucap Luna, saat itu gadis itu memaksa Arsha untuk mengijinkannya masuk ke kapal itu tanpa sepengetahuan Reza.

__ADS_1


“Luna, sedang apa kau di sini?” Reza terkejut, begitu terlihat marah. Terjangan ombak menggoyangkan kapal hingga membuat keduanya terhuyung.


“Pergi dari sini Luna!”


“Siapa yang mengijinkanmu kesini!” sergah Reza, bagaimana mungkin istrinya bisa berada di sana tanpa sepengetahuannya.


“Tidak ada kak, aku hanya meminta tolong kepada Arsha!” ucap Luna, Reza mengacak rambutnya frustasi, ingin mengutuk Arsha, staff kru office itu, dengan bodohnya pria itu bisa mengijinkan Luna untuk masuk ke tempat yang nyaris menenggelamkan Reza saat ini.


“Luna, pergilah! Ini perintah!”


“Tidak Capt! Aku tidak akan pergi tanpamu!” Luna mendekati Reza sambil berpegangan pada rails.


"Astaga Luna, raft terakhir telah diturunkan! cepat pergilah!"


"Kak, aku tidak bisa meraih tanganmu!" Luna berlinang air mata, ia tak perduli lagi dengan keadaannya yang sedang hamil.


"Sayang, dengarkan aku. Kau harus pergi!"


"Mengapa kau bertindak bodoh Luna? dengan membahayakan dirimu dan anak kita seperti ini?" Reza menghubungi tim penyelamat yang masih tersisa untuk membawa pergi Laluna, sambil memperhatikan layar nagivasi.


"Kak, ayo pergi dari sini! atau kita akan tenggelam bersama!"


"Apa kau sudah memaafkanku?"


"Kak, aku tidak akan memaafkanmu! jika hari ini kau tidak selamat!" Luna mungkin bisa selamat saat mereka jatuh ke air, tetapi tidak dengan Reza, kapten itu bahkan belum menggunakan pelampungnya.


"Kau sungguh memaafkanku sayang?"


(Dih sempet-sempetnya ya! udah mau tenggelem juga🤧🤧)


"Astaga! Kak please! ayo pergi dari sini! Lihatlah bahkan hanya tinggal kita berdua di tempat ini!" sergah Luna.


"Katakan, kau memaafkanku atau tidak Luna!" Reza masih saja belum bergerak, bahkan terlihat begitu tenang sambil mengatur kemudi.


"Yes, Captain! aku memaafkanmu! aku mencintaimu! aku tidak bisa hidup tanpamu! jadi mari kita pergi dari sini! aku tidak ingin mati konyol!" dengus Luna kesal.


"Tidak ada waktu lagi untuk menaikki sekoci Luna!"


"Apa? Jadi kita semua akan mati kak?" Luna panik, memegangi perutnya sambil menangis.


"Kita semua pasti akan mati Sayang!"


"Tapi tidak hari ini!" Reza tersenyum simpul, membanting kemudi lalu menabrakannya pada gunung es, ia berhasil mendekatkan kapal itu menuju gunung terdekat untuk bersandar.


Kapal terguling perlahan, tersandar pada sisi gunung es itu, tanpa tenggelam.


Halo genk, sampai juga di penghujung kisah Reza Laluna, terima kasih atas dukungannya selama ini ya. Author mau kembali ke dunia nyata dulu menjalankan tugas kenegaraan kembali wkwk. 🤧🤧🤧

__ADS_1


Ditunggu bonus chapters-nya ya. 🤗🤗


Love you from the deep blue sea of my heart 💙


__ADS_2