
Sejak obrolanku dengan kakakku itu, aku sangat kebingungan. Pasalnya dia akan menyusulku kemari jika aku tetap memaksakan untuk melanjutkan masa trainingku.
Aku berfikir keras apa yang harus kulakukan. Sejujurnya tak akan jadi masalah jika kakak akan menyusulku kemari hanya saja aku tak tega pada keponakanku yang lucu itu jika harus ditinggalkan ibunya untuk menjemput tante cantiknya ini.
***
"Luna, bisa tolong cek ruang mesin di lantai tujuh?" Tanya bosku.
"Lantai tujuh sebelah mana Chief?" tanyaku.
"Dekat anjungan. Sebelah kamar Kapten." Jawab bosku.
"Baik chief," jawabku sambil melangkahkan kaki keluar dari aula briefing.
"Ciee ntar ketemu Dewa Yunanimu di sono, Lun. Haha" kata Bumi mengejekku.
"Diem lu! " jawabku, aku mulai kesal pada Bumi yang selalu saja mengungkit kejadian itu.
Aku pun naik ke lantai tujuh, menuju anjungan. Kulihat memang ada ruang mesin kecil di area itu. Aku pun mambuka pintu itu namun mataku tiba-tiba tertuju pada dua orang yang sedang berada di koridor.
"Kapten sedang bersama seorang wanita?" ucapku dalam hati.
Mereka seperti sedang berpelukan. Kapten memegang pinggang wanita yang sepertinya juga kru di sini. Tampak mesra sekali, namun tiba-tiba aku menjatuhkan kunci inggrisku.
"Luna?" ucapnya dari kejauhan, sungguh aku jadi salah tingkah. Aku pun segera masuk ke ruang mesin itu.
Kucari kerusakan pada mesin-mesin di dalam sana, kemudian kudengar seseorang memasukki ruangan kecil ini.
"Laluna? "Ucap orang itu dan ternyata adalah kapten.
"Kapten Roosevelt, selamat pagi." Aku pun menyapanya. Sungguh kenapa mulai ada getaran di hatiku saat berdekatan dengan orang ini. Dan sedikit kesal saat melihatnya bersama seorang wanita itu baru saja. Padahal jika dipikir-pikir apa hubungan kami sebenarnya.
"Apa yang rusak Luna?" tanyanya mendekat ke arahku. Aku masih tak percaya jika pria ini lah yang kemarin menolongku bahkan menggendong tubuhku hingga ke infirmary.
"Hatiku Capt." Kataku asal. Dia terlihat heran.
"Eh, ini Capt, me-mesin blower yang rusak." Jawabku, sungguh ada apa dengan lidahku hari ini.
"Luna, apa berapa umurmu?" tanya kapten.
"21 tahun Capt." Jawabku.
"Sangat muda. Aku suka semangat kerjamu." Ucapnya, sambil melangkahkan kaki menuju pintu.
Tiba-tiba terdengar suara pintu tertutup
Ceklek..
"Astaga, kenapa ini?" ucap kapten. Aku pun menghampirinya dan melihat pintu itu tertutup. Ya Tuhan, pintunya tertutup. Kami terkunci di dalam.
"Kapten, pintunya tertutup. Bagaimana ini?" ucapku, aku sangat panik. Bisa-biasanya kejadian kemarin terulang kembali.
__ADS_1
"Ya benar, entah bagaimana bisa terjadi." Kata kapten.
"Bukankah tombolnya ada di luar dan siapa yang memencet tombol itu?" kataku masih dengan kepanikan.
"Mungkin saja pintu otomatis ini rusak Luna." Jawabya sambil mengecek pintu itu.
"Lalu bagaimana sekarang kapten."
"Tenang, kita tunggu pertolongan datang. Ruangan ini memiliki suhu yang stabil kali ini kau aman." Ucapnya dengan santai. Bisa-bisanya dia berkata demikian sedangkan aku sangat ketakutan dan berjalan mondar mandir, mencari telepon atau tombol darurat.
"Luna, bisakah kau tenang dan tidak berjalan-jalan terus seperti itu?" Kata kapten sambil duduk di kursi.
"Saya sedang mencari tombol darurat kapten. " Jawabku.
"Tidak ada tombol darurat di ruangan ini Luna." Ucapnya.
"Bagaimana mungkin? Bukankah setiap ruangan di kapal harus memilikinya?" tanyaku.
"Ya, tetapi saat ini emergency button di ruangan ini sedang diperbaiki." Kata Kapten.
"Matilah kita kapten!" aku lemas mendengar penjelasannya.
"Kita semua pasti akan mati tapi tidak hari ini." Ya ampun, dia ini kenapa bisa setenang ini.
Aku masih saja berputar-putar mengelilingi ruangan ini. Astaga bukankah ini sudah lewat dari 15 menit. Dan kapten masih saja terduduk sambil memperhatikan tingkahku.
"Laluna, kemarilah. Kau akan kehabisan tenaga jika terus seperti itu." Ucapnya, aku pun berjalan dan duduk di sebelahnya.
"Apa yang bisa kita lakukan?Mau berteriak pun ruangan ini cukup bisa meredam suara. Tenanglah, kau pikir stafku akan diam saja mengetahui kaptenntya tidak berada di tempat?" ucapnya.
"Luna, apa kau selalu seperti ini?" tanyanya
"Seperti ini bagaimana maksudnya?" jawabku.
"Bertingkah sesuka hati, lari kesana kemari?" tanyanya sambil tersenyum. Sial, memangnya aku ini Sun Go Kong.
"Tidak kapten, memangnya ada yang aneh dengan saya?" tanyaku.
"Tidak, hanya sepertinya duniamu itu sangat berwarna." Ucapnya, aku bisa melihat raut sendu sekilas di wajahnya.
"Saya memiliki keponakan yang sangat menggemaskan Kapten, dia yang yang selalu menghiasi hariku." Ucapku.
"Benarkah?"
"Ya, anak kakakku. Ana." Jawabku.
"Ana?" tanyanya kaget.
"Ya benar Kapten, itu nama kakakku, kenapa capt?" tanyaku.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku juga memiliki satu adik, bernama Ganis." Jawabnya. Tiba-tiba saja aku teringat temanku di fakultas manajemen dulu, Rengganis. Dia adalah kakak tingkat sekaligus sahabatku.
__ADS_1
"Kapten, ada yang bergetar." Kataku, aku merasa seperti getaran radio.
"Apa Luna?Aku tidak mendengar apa-apa." Ucapnya.
"Kapten, ini sangat jelas. Ini getaran radio." Ucapku sambil mencari sumbernya. Ya ampun, ini suara radio dari saku kapten.
"Capt, radio anda bergetar.. " Kataku, menunjuk ke arah sakunya.
"Ah iya, aku baru sadar. Aku lupa menaikkan volumenya." Kata kapten itu sambil menggaruk kepalanya. Ya ampun mengapa dia tidak bilang jika sedang membawa radio.
"Captain... Captain.. Captain.. Monitor...
Captain... Monitor...
Captain Roosevelt please report to the bridge... "
Terdengar suara juru mudi sedang mencari-cari kapten.
"Copy.. Bridge.. Copy..
Yes, captain Roosevelt is stuck in the engine room deck seven port side
Bridge.. Bridge.. Monitor.. " Ucap kapten membalas dan menyatakan sedang terkunci di ruang mesin.
"Copy Captain.. Copy Captain.. " Balasan dari anjungan.
"Kapten, mengapa anda tidak bilang jika membawa radio?" tanyaku .
"Maaf Luna, aku lupa." Jawabnya singkat.
***
Sejenak kemudian, tim penyelamat datang dan membukakan pintu itu. Semua mata memandang kami. Seakan bertanya bisa-bisanya kejadian seperti ini terulang.
"Luna, jaga dirimu. Bye.. " Ucap kapten berbisik pada telingaku sebelum akhirnya pergi.
Aku masih mematung, bagaimana mungkin dia melakukan ini kepadaku. Bukankah seorang kapten sangat tidak mungkin utuk melakukan ketedoran.
Lalu apa ini. Dia bahkan sangat santai ketika terjebak bersamaku di dalam ruangan itu.
Dan yang lebih membingungkan, mengapa dia sampai lupa jika di sakunya ada radio yang tersilent.
Astaga, aku sibuk mencari telepon dan tombol darurat bermenit-menit sedangkan dia membawa alat komunikasi beruba radio di sakunya.
"Ciee.. Luna ada hobi baru nih. stuck with Captain! " Ucap Bumi meledekku.
"Apaan sih Bum!" balasku.
"An, lu dari kemaren hobi banget kekunci di ruang mesin? Kali ini gak tanggung-tanggung lagi malah stuck bareng kapten di sono." Ucap Bumi.
"Kemaren di tolongin sekarang malah terkunci bersama. Sengaja apa gimana Lun?Haha" Bumi terus saja mengejekku.
__ADS_1
"Ya, sengaja kenapa emang?"jawabku.