I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Bonus Chapter - Panik


__ADS_3

...Luna, apa kau tau persamaan Bulan dengan dirimu?...


...Sama-sama menerangiku dengan keindahan cahaya kalian...


...-Reza-...


...Kak Reza, apa kau tau apa bedanya desiran ombak yang menghantam dinding kapal dengan dirimu?...


...Ombak membuat kepalaku pusing dengan suaranya. Sedangkan kau membuatku pusing dengan gombalanmu....


...-Luna-...


Beberapa bulan kemudian, kandungan Luna semakin membesar. Ia memutuskan untuk tinggal bersama ayah dan ibunya, sementara Reza masih mengurusi segala dokumen yang akan ia gunakan untuk mengambil cuti.


Reza memustuskan untuk mengambil libur panjang agar dapat menemani sang istri melahirkan.


Luna mengirim pesan pada suaminya sambil duduk di teras rumah. Berada jauh dari Reza membuat gadis itu benar-benar kesepian, biasanya kapten tampan itu selalu mengajaknya untuk mengobrol dan membahas segala hal yang terkadang Luna sendiri tidak mengerti.


Luna : Kak, kapan kakak pulang?


Reza : Kenapa? Rindu ya?


Luna : Sedikit rindu dengan gombalanmu.


Reza : Yakin hanya gombalan saja yang kau rindukan tidak ada yang lain? 😍


Reza menggunakan emoticon ‘in love’ dan itu adalah emoji pertama selama Luna dan Reza berkirim pesan whatsapp sejak pertama kali mereka saling mengenal.


Luna : Apa ini? haha


Reza : Apa kau ingin beralih pada panggilan video?


Beberapa detik kemudian Reza menelpon istrinya itu, ia juga sangat merindukan Luna, tetapi apa daya urusannya di Jakarta memang tidak dapat ia tinggalkan.


“Halo mommy!” Reza menyunggingkan senyumannya saat melihat wajah Luna.


“Makin cantik saja!” goda Reza tetapi Luna hanya memutar bola malas.


“Kak, kapan kau kembali?”


“Kapan ya?” Reza memijat dagunya tampak berfikir seolah ia benar-benar tidak tau kapan akan pulang menemui sang istri sedangkan tanggal perkiraan kelahiran Luna sudah semakin dekat.


Beberapa waktu lalu Reza sempat menemani sang istri untuk melakukan pemeriksaan kesehatan Luna dan bayinya.

__ADS_1


“Ayolah kak, aku ingin melahirkan dengan ditemani olehmu,” ucap gadis itu.


“Ya sayang katakan ‘I Love You’ dulu maka aku akan segera tiba di sana!” lagi-lagi Reza menyunggingkan senyuman manis itu yang membuat Luna selalu saja jatuh hati.


“Mana bisa seperti itu! Kau tidak mungkin tiba di sini hanya dengan kata ‘I love You’ kak!” Luna mencebikkan bibir seksinya.


“Jadi kau meragukanku Laluna?” Reza mulai menampakkan ekspersi keseriusan.


“Umm, tentu saja! Bukankah itu sangat konyol kak! Aku ini sudah hampir menjadi seorang ibu sedangkan suamiku terkadang masih bersikap kekanak-kanakan,”


“Seharusnya aku yang mengatakan hal itu sayang, kaulah yang paling kekanak-kanakan di antara kita berdua!” Reza tidak ingin kalah.


“Kak! Ayolah aku serius, kapan kau pulang!”


“Aku akan pulang saat satu kata ‘I Love You’ terucap oleh bibirmu yang sejak tadi menggodaku itu.”


“Kak, cepatlah obrolan ini mulai tidak berguna! Aku sedang serius! Tetapi kau masih saja bercanda!” ucap Luna kesal.


“Ayolah sayang! Cukup katakana ‘I Love You’ itu saja! Apa susahnya ha?”


“I Love You! I Love You Capt!” ucap Luna, dengan malas dan tidak bersemangat. Namun saat itu juga sepasang kaki mendekat ke arahnya, memasukki gerbang rumah sederhana itu dengan satu bucket bunga mawar putih di genggaman pria itu.


“I love you too, Mommy!” Reza berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan Luna yang sedang duduk. Luna pun membulatkan matanya tidak percaya jika Reza benar-benar ada di hadapannya saat ia mengatakan ‘I love you’.


“Yes sayang, kau boleh menciumku jika kau tidak percaya,” bisik Reza.


“Uh dasar!” Luna memukul dada bidang itu. Reza pun menyerahkan bunga yang sejak tadi digenggamnya pada Luna.


“Wah, sangat romantis sekali ya Capt!” seru Luna lalu meletakkan bunga itu di atas meja. Reza pun menatap sang istri dengan heran.


“Luna, kenapa kau menaruhnya di atas meja? Apa kau tidak menyukainya?” tanya Reza, padahal ia telah membelikan bunga itu dari toko florist terbaik.


“Aku alergi bunga mawar kak,” ucap Luna dengan santai. Membuat Reza terkejut seketika.


“Apa?” bagaimana mungkin!”


“Bu-bukankah kau sangat menyukai mawar putih?” tanya Reza.


“Tidak kak, aku sering bersin saat menghirup aroma segala jenis mawar,” jelas gadis itu.


“Apa? Tetapi Yoshi mengatakan jika kau sangat menyukai mawar putih sayang!”


“Ah itu bohong kak! Mbak Ana-lah yang sangat menyukai mawar putih, bukan aku!” elak Luna, Reza pun mengepalkan tangannya merasa kesal karena Yoshi telah membohongi dirinya.

__ADS_1


“Awas kau Yoshi!” pria itu sungguh kesal pada kakak iparnya tersebut, sekian tahun berteman tetapi Yoshi masih saja tidak berubah.


“Sudahlah Kak, aku bisa menyimpannya di ruang tamu, jangan khawatir!” Reza pun terpaksa mengikuti perkataan istrinya lalu masuk ke rumah itu.


Malam hari


Semua anggota sedang makan malam bersama, tetapi Pramuja dan Larissa sedang pergi mengunjungi acara pernikahan putera kepala desa.


“Seneng kan lu Za! Saingan lu berkurang sekarang!” celetuk Yoshi di tengah makan malam mereka.


“Maksud lu apa? Belum puas lo udah ngerjain gue tadi pagi!”


“Ya elo seneng kan sekarang anaknya Pak Lurah udah nikah jadi gak ada lagi yang ngincer Luna!” ledek Yoshi.


“Diem lo! Dasar hacker tengik!”


“Dasar kapten tengik!” Yoshi masih saja membahas masalah itu hingga pada akhirnya percakapan aksi saling ejek itu terhenti saat Luna merasakan sesuatu.


“Aww sakit!” pekik Luna sambil meegangi perut bawahnya.


“Sayang kenapa? Reza pun meletakkan sendok dan garpunya seketika, memeriksa sang istri.


“Kak, sepertinya ketuban aku pecah!” ucap Luna mulai panik. Reza pun tak kalah panik dan melihat cairan yang telah membasahi gaun sang istri itu.


“Sayang! Cepat kesini!” Yoshi memanggil nama Ana, untuk segera membantu adiknya.


“Za, lu siapin mobil cepetan! Biar gue yang panggil Ana dulu!” perintah Yoshi kemudian berjalan ke belakang.


Reza pun berlari ke luar untuk mendekatkan mobiil pada pintu rumah. Lalu segera menarik tangan Luna untuk membawanya ke masuk ke mobil, Reza terlalu panik hingga tidak sadar jika yang sedang ia gandeng bukanlah tangan sang istri.


“Sayang, ayo masuklah! Kita akan ke rumah sakit segera!” ucap Reza sambil tetap menggandeng tangan itu.


“Dasar bego’! ini tangan gue keles!” Yoshi tertawa terbahak. Reza pun segera melepaskan tangan kekar itu sambil berlari memasukki rumah untuk mengambil Luna.


“Ah! Bikin ribet aja lu Yosh!”


“Elo yang sableng! Main tarik tangan orang aja!”


Tanpa menunggu lama Reza pun segera mengangkat tubuh ibu hamil itu ke rumah sakit dengan Ana yang mengikutinya dari belakang.


“Kak, bagaimana ini?” Luna terus mengeratkan pelukannya pada leher Reza sedangkan Yoshi yang mengemudi mobil itu.


“Yosh! bisa cepet dikit gak!” bentak Reza, ia sangat tidak tega melihat Luna sedang kesakitan.

__ADS_1


“Iya-iya dasar bawel! Kayak emak-emak lo!”


__ADS_2