I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Gara-Gara Boba


__ADS_3

Hari itu mereka berdua pergi berjalan-jalan bersama Gwen, menuju sebuah taman bermain di dekat rumah Luna. Luna menggandeng tangan gadis kecil itu, sedangkan Reza membawakan boneka boba kesayangan milik Gwen.


Bagaikan seorang ibu dan ayah bersama buah hatinya, ketiga orang itu terlihat begitu serasi.


“Luna, bisakah aku saja yang menggandeng Gweneth?” tanya Reza mendahului langkah istrinya.


“Kenapa Kak?” Luna berbalik dan melihat sang suami.


“Aku akan menggendong Gwen dan kau yang membawa boneka ini,” ucap Reza sambil menyodorkan boneka besar berwrna pink dengan bulatan-bulatan hitam di sekitarnya itu.


Reza melirik sekitar saat beberapa gadis menatapnya sambil tersenyum dan berbisik-bisik.


Pria itu sadar mungkin mereka sedang menertawakan dirinya, pria berbadan sixpack sedang membawa boneka pink yang imut-imut, itulah mungkin yang sedang dipikirkan oleh orang-orang yang dilintasinya sejak tadi.


“Memangnya Gwen mau digendong Uncle?” tanya Luna pada gadis kecil yang sedang memakan es kapas tersebut.


“Um, nggak Bibilu. Gwen mau jalan ajah!” jawab si kecil.


“Kak, Gwen tidak mau!” jawab Luna sambil tetap melangkah menyusuri area taman itu.


“Oh kalau begitu biar aku saja yang menggandengnya Luna,” pinta Reza.


“Memangnya kenapa sih?” tanya Luna sat melihat suaminya terlihat gelisah.


Tiba-tiba saja segerombol remaja mendahului langkah mereka.


“Wah om tampan, Boleh dong bobobanya!” celetuk beberapa gadis itu sambil berlari dan tertawa terbahak.


Luna yang sejak tadi berada di depan Reza seketika menatap tajam ke arah suaminya.


“Seneng ya, digodain ciwi-ciwi!” dengus Luna kesal.


“Bukankah sudah kubilang, kau saja yang membawa boneka ini sayang,” ucap Reza.


“Atau akan lebih banyak lagi gadis-gadis yang menggodaku karena boboba milik Gwen ini!” Reza mengedipkan sebelah matanya.


“Sini aku saja yang membawa bobobanya!” Luna meraih benda bulat seperti bantal tersebut.


“Ya sudah Gwen sama uncle aja yah!” Reza menggendong gadis kecil berpipi chubby itu.


“Uncle, Gwen mau sama bibilu aja,” rengek bocah itu meminta diturunkan dari gendongan pamannya.


“Sini sama Bibilu aja sayang, uncle memang menyebalkan kan?” Luna kmebali meraih gadis itu, sampai saat ini ia masih kesal pada Reza yang seolah tidak mau mempertemukannya dengan Jenny.


Reza hanya tersenyum melihat istrinya yang begitu menggemaskan tersebut. Dalam keceriaan itu, tanpa mereka sadari sepasang mata sedang memperhatikan mereka bertiga dari kejauhan.


Mengikuti gerak-gerik Reza dan Luna sejak keduanya keluar dari rumah.

__ADS_1


“Sayang kita istrirahat dulu ya,” ucap Reza yang melihat istrinya terlihat lelah setelah bebrapa menit menggendong keponakannya tersebut.


“Kau sangat menyayanginya Luna,” ucap Reza saat Luna membersihkan sisa-sisa permen kapas pada area bibir Gwen.


“Mari membuat yang seperti ini,” ucap pria itu sambil tersenyum mes*m. Tetapi Luna hanya memutar mata malas.


“Tentu saja! Siapa yang tidak jatuh cinta pada gadis selucu ini!” jawab Luna ketus, Reza pun mengambiol selembar tissue dan menggunakannya untuk mengelap sisa keringat pada wajah Luna.


“Aku juga jatuh cinta pada gadis selucu dirimu!” bisik Reza.


“Lucu? Emang badut!” bukannya tersentuh, tetapi Luna justru tidak menaggapi rayuan suaminya tersebut.


“Apa masalah kita sebenarnya Luna? Sudah seminggu ini kau mendiamkanku, aku sangat rindu padamu!” tanya Reza, ia bahkan tidak tau apa kesalahannya.


“Kakak lupa atau pura-pura lupa ha?!”


“Apa yang sudah kulupakan memangnya?”


“Kakak bilang akan mempertemukanku dengan kekasihmu Jenny itu!”


“Seseorang yang memanggilmu ‘Eza seyeng’ pada pesannya kemarin!” ucap Luna dengan wajah yang semakin ditekuk.


“Astaga! Kau sungguh ingin bertemu dengan Jenny sayang?!” ucap Reza, ia pikir sejak kemarin Luna hanya menggertaknya saja.


“Tentui saja kak! Aku ingin lihat seberapa seksinya dia, seperti yang dikatakan oleh Kak Yoshi.


Awas kau Yoshi! aku akan membalasmu! sudah berapa kali kau membuatku berada salam masalah dalam urusan percintaan, guman Reza geram.


“Jadi benar kakak tidak ingin mempertemukan Jenny denganku?!”


“Astaga sayang, aku sudah mengirimkan pesan untuknya beberapa hari yang lalu, tetapi dia bilang sedang sibuk mengurus bayinya yang baru saja lahir,”


“Apa? Dia sudah punya bayi?” Luna terkejut.


“Ya, dia sudah menikah Luna,” jawan Reza.


“Kak! Kau sungguh keterlaluan, kau bahkan memiliki hubungan dengan wanita yang sudah menikah!” ucap Luna sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Membuat Reza ingin segera menerkamnya dan mengurung istri menggemaskannya itu.


“Ya Tuhan, apa yang harus kukatakan Luna?”


“Jenny itu memang sudah menikah sayang! dengan salah satu temanku juga!” Reza semakin tak mengerti mengapa istrinya mempermasalahkan hal yang seharusnya tidak perlu dianggap sebagai masalah.


“Wah sangat lucu! Bahkan suami Jenny adalah teman kakak juga, tetapi dia masih saja menggodamu!” bentak Luna, membuat suasana semakin runyam.


“Sayang dengarkan aku, apa kau benar-benar berpikir jika Jenny itu adalah seorang—“ kalimat Reza menggantung saat mendengar suara Gweneth berteriak.

__ADS_1


“Gwen!!” teriak Luna saat melihat keponakannya dibawa oleh seseorang dengan paksa. Gadis itu meronta dan menangis, memanggil-manggil nama Reza dan Luna. Reza segera berlari dan mengerjar pria bertopeng itu.


“Hey! Tunggu!” Reza semakin mempercepat langkahnya. Begitupun dengan Luna.


“Berhenti kau brengs*k!” teriak Luna mendahului langkah sang suami.


“Kurang ajar! Cari mati ya rupanya!” Luna berhasil menangkap pria itu, smentara Reza langsung menghmpirinya dan memberikan pukulan.


Bugh


Bugh


Semua orang memperhatikan adegan perkelahian itu, Luna segera menarik keponakannya, sementara sang penjahat itu kabur dengan boneka boba Gwen yang ikut terbawa bersamanya.


“Boboba!”


“Bobobakuhh!” Gwen menangis histeris saat boneka kesayangannya terbawa lari oleh pria itu.


“Sayang, cup cup!” Luna membelai pipi bersemu merah itu dan memeluk Gwen dengan erat.


“Sayang jangan menangis lagi ya, yang penting Gwen selamat sayang!” ucap Luna, Reza pun ikut panik, ia juga sama sekali tidak tau cara mendiamkan seorang anak kecil.


Entah bagaimana nanti jika ia memilik anak lalu menagis seperti Gwen, sedangkan istrinya sendiri saja terkadang masih seperti anak kecil.


“Kak, kenapa tadi kakak biarkan penjahat itu pergi ha?!” ucap Luna mengingat mereka belum sempat tau siapa orang suruhan tersebut.


“Dia membawa senjata tajam Luna! Dan aku tidak mau membahayakan kau dan Gwen!”


Luna menghela napas panjang, padahal ia sudah mempersiapkan jurus karatenya untuk menyerang penjahat itu.


“Gwen, nanti kita beli lagi ya bobobanya, yang tadi kan sudah kotor dibawa-bawa sama penjahat sayang,” bujuk Reza.


“Uncle, itu boboba dari oma Gwen! Gwen gak mau yang lain! huuaa!” gadis itu masih saja menangis sesenggukkan membuat pasangan suami istri itu bertambang panik.


Hingga datang seoarng anak laki-laki kecil yang mungkin seusia Gwen mendekati gadis itu sambil memberikan segelas minuman boba berwarna pink.


“Cewek cantik jangan menangis ya, aku punya minuman boba buat kamu!, besok-besok kalo ketemu lagi, aku kasih kamu boneka boba juga ya!”


"Nggak mau, aku mau boneka yang tadi!" jawab Gwen terisak.


"Aku akan mengambilkan bobobamu yang dibawa om-om tadi! tenang ya!" anak laki-laki itu mengusap air mata Gwen.


"Emang bisa? kamu kan masih kecil!" jawab Gwen.


"Bisa! aku kan aslinya Ultraman!" jawab anak berambut coklat itu, sayangnya sebagian wajahnya tertutupi oleh masker ultraman.


“Cup cup jangan nangis lagi! Boba manis akan jadi pait kalo yang meminumnya nangis!” ucap anak tampan itu kemudian pergi meninggalkan Gwen. (jodohnya Gweneth inih genk, wkwk)

__ADS_1


Reza dan Luna tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Ingin tertawa taetapi takut akan membuat keponakannya kembali menangis.


__ADS_2