I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Gara-gara 'wo ai ni'


__ADS_3

Reza terus tersenyum melihat istrinya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Sementara Luna meski sudah membersihkan diri sekalipun, ia tetap belum merasa segar, matanya masih ingin terpejam sebab suaminya yang terus ‘mengerjainya‘ semalam.


“Kak, kenapa kau sangat menyebalkan!” dengus Luna.


“Kukira dulu kau tak semenyebalkan ini!”


“Apanya yang menyebalkan Luna? Sejak kapan meminta hak disebut sebagai hal yang menyebalkan hm?” Reza menatap istrinya yang sedang memilih pakaian.


“Bukan itu!”


“Lalu apa?” tanya Reza sebenarnya ia masih ingin mengulangi kegiatan semalam namun waktu berlalu begitu cepat, tiba-tiba saja matahari sudah terbit. Belum, lagi ocehan istrinya yang membuatnya pusing.


“Kakak sangat berisik semalam!”


“Bagaimana kalau Kak Yoshi dan Mbak Ana denger?” tanya Luna dengan wajah yang bersemu merah.


“Biarkan saja!” Reza terkekeh, mengingat jika kamar mereka hanya bersebelahan.


“Kau pun tak kalah berisik Luna!”


“Kakak yang yang membuatku besuara seperti itu!” Luna memukuli suaminya dengan gemas.


“Sayang, apa kau tau jika Yoshi mengenal Bumi?” tiba-tiba saja Reza berkata demikian.


“Apa maksud kakak? Itu tidak mungkin!” Luna menyangkalnya.


“Sungguh, bahkan bapak pun mengenalnya, mereka berdua mengenal keluarga Bumi!” ucap Reza dengan serius.


Reza menceritakan obrolannya dengan Yoshi di kala itu yang seketika membuat Luna terkejut.


“Ah iya! Aku ingat! Siapa Nathan Lee! Dia buronan polisi Kak! Sangat licin dan sulit dibekuk bahkan membutuhkan puluhan tahun bagi BIN untuk meringkusnya itupun dengan menggunakan Kak Yoshi dan Mbak Ana sebagai pancingan!”


“Sungguh?”


“Jadi ayah Bumi adalah seorang buronan?”


“Ya, tetapi ia meninggal dunia saat sedang menjalani hukumannya di penjara,” Luna ingat masa-masa sulit itu saat ayahnya dan kakaknya melewati malam yang kelam demi menangkap Nathan Lee. Terlebih saat itu Ana sedang hamil besar.


Reza kembali teringat perkataan Charles, bahwa Bumi sedang tidak dapat dijangkau keberadaannya.


Lalu ia menghubungkan insiden penculikan itu dengan menghilangnya Bumi.

__ADS_1


“Mungkinkah penculik itu Bumi, Luna?” tanya Reza dan Luna pun berpikir,


“Aku rasa tidak mungkin Kak!” ucap Luna menyanggah pernyataan suaminya.


“Apa yang mmebuatmu yakin jika itu bukan Bumi? Apa kau masih menganggapnya sebagai sahabat? Atau lebih mungkin?” Reza menaikkan alisnya, sedikit kesal karena Luna membela Bumi.


“Tentu saja tidak Kak!” Luna mencubit pipi suaminya.


“Tetapi kau selalu membelanya Luna, bahkan setelah kesalahannya terungkap seperti saat itu!” entah mengapa obrolan yang awalanya santai tersebut berubah menjadi panas.


“Kak, jangan membuat suasana menjadi tidak enak seperti saat ini!”


“Apalagi yang telah kau sembunyikan dariku Luna?”


“Astaga kakak sedang membalasku ya? Apa kau ingin mengalihkan kasus Jenny? Sehingga membuatmu mencari-cari kesalahanku?”


“Tidak sayang! Aku hanya ingin tau saja, waktu itu saat kepulanganmu, kulihat Bumi memberikan sesuatu untukmu! Apa itu?” Reza kembali mengungkit masa lalu, saat Luna terpaksa harus pulang karena permintaan kedua orang tuanya di kala itu.


“Apa maksud kakak?” Luna bahkan telah lupa pada hal itu.


“Aku tau Luna, pria brengs*k itu pernah membuatmu luluh bukan?”


“Aku tak pernah ingin mengungkit masa lalu, tetapi aku hanya penasaran saja, benda apa yang diberikan oleh Bumi untukumu saat itu?”


“Ah kotak itu maksud kakak?!” Luna teringat jika memang Bumi pernah memberinya sebuah kotak kecil sebagai kenang-kenangan sebelum dirinya pulang saat itu.


“Hm, kau berusaha menyembunyikannya dariku Luna!” ucap Reza dengan wajah kesal yang dibuat-buat.


“Tidak Kak! Sungguh, jika tak percaya aku akan mengambilkannya dan menunjukkannya padamu!” Luna pun bangkit dari tempat tidur dan menuju lemarinya. Kemudian gadis itu meraih sebuah kotak usang, dari Bumi.


“Beberapa waktu lalu, Bumi sempat menanyakan apakah aku telah mmebuka kotak ini tau belum, dan aku pun menjawabnya belum, aku lupa jika pria itu sempat memberiku benda seperti ini, “ gumam Luna dalam hati,


“Luna, apa yang kau lakukan? Kenapa lama sekali?” Reza kembali membuatnya kesal, padahal ini hanyalah hal kecil namun mengapa pria itu begitu mempermasalahkannya.


“Iya Kak, ini lagi diambil! Berisik banget!” dengus Luna.


Reza mengambil kotak tersebut, lalu membukanya perlahan, awalnya ia terlihat biasa saja, namun saat matanya menangkap sesuatu yang tertulis pada marchanidse kecil itu, ia pun segera memperhatikan benda itu lagi.


“Merchandise Tahun Baru Cina?” gumam Reza menatap boneka keramik berwarna keemasan itu.


Luna pun ikut memperhatikan souvenir tersebut, lalu mengambilnya dari tangan Reza.

__ADS_1


“Wah lucu banget!” ucap Luna, namun ia tak tau jika dibalik boneka itu terdapat tulisan,


pria yang sejenak mearasa tenang itu kembali memanas saat melihat tulisan apa yang Bumi tulis pada sisi belakang merchandise tersebut.


“Wo ai ni!” ucap Reza, dengan geram. Ternyata benar jika Bumi telah menaruh hati pada istrinya sejak lama, bahkan lebih dulu dari pada Reza.


“Apa ini Luna? Apa kau tau apa artinya?” Reza menggenggam tangan gadis itu.


“Kak, aku sungguh tidak tau jika Bumi menulis kata pada bpneka itu,” ucap Luna sambil merem*s tangannya.


“Kau sudah menyembunyikan hal seperti ini dariku Luna,” ucap Reza tersirat kecemburuan pada wajah blasteran itu.


“Kak, aku sungguh tidak menyembunyikannya darimu, aku bahkan lupa jika Bumi pernah memberikan sesuatu itu padaku!” Luna mencoba membela diri.


“Sudahlah Luna, jika memang kau masih ingin menyimpan benda ini , simpanalah, aku tidak terlalu memikirkannya,” ucap Reza sambil memalingkan wajahnya dari Luna.


“Astaga kakak baperan sekali!” Luna yang tadinya kesal jadi ingin tertawa melihat tingkah berlebihan sang suami.


“Kak, jangan seperti ini, apa kau tidak malu dengan posisimu di kapal? Ini sungguh kekanak-kanakan!” ejek Luna tetapi Reza benar-benar terbawa suasana.


“Tidak ada batasan untuk sakit hati Luna, sakit hati itu tidak mengenal usia, ras, gender, derajat bahkan profesi, jika memang hal itu dirasa menyakitakan, maka itu memang sakit!”


“Penerimaan setiap orang dalam menanggapi sesuatu itu berbeda-beda, jadi jangan samakan satu dengan yang lainnya,” Reza masih terlihat murung, ia sungguh takut kehilangan Luna, terutama saat mendengar jika Bumi masih berkeliaran di luar sana.


“Kak, tenang saja! Kita ini sudah menikah!” ucap Luna.


“Kau cantik Luna, banyak yang menyukaimu, sekarang ini pernikahan bukan lagi dianggap sebagai batasan untuk tidak menggoda atau bahkan merebut pasangan orang lain,”


“Kau tau profesiku Luna, aku akan sering meniggalkanmu setelah ini, dan baru bisa bertemu lagi dalam kurun waktu yang lama!”


Ucapan demi ucapan yang keluar dari bibir Reza membuat Luna terdiam, ternyata dirinyalah yang selama ini terlalu kekanak-kanakan.


“Kak, maafkan aku ya!” Luna memeluk tubuh kekar itu, namun Reza tidak membalasnya.


“Kak, kau tidak mau membalas pelukanku?” tanya Luna saat tangan sang suami hanya diam saja tanpa melingkar ke tubuhnya.


“Kak, kau bilang aku cantik, bukankah orang cantik itu selalu benar dan tak pernah salah, lalu kenapa kau masih belum memaafkanku?!” goda Luna.


“Aku memang bisa marah padamu Luna, tetapi untuk mendiamkanmu sungguh aku tak mmapu,” Reza pun membalas pelukan istrinya tersebut.


“Beri aku satu cium*n cantik!” pinta Reza.

__ADS_1


__ADS_2