I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Tertukar


__ADS_3

“Luna, ada yang aneh dengan dirimu!” ucap Reza, ia merasa istrinya menjadi lebih agresif, bahkan beberapa kali meraba area-area sensitifnya. Meskipun hal itu membuatnya terpacu namua, ia khawatir pada Luna.


Terakhir kali gadis itu mengalami demam tinggi dan sekarang berubah menjadi seperti ini.


“Apa demammu sangat mengganggu?” Reza melepaskan tangan Luna pada lehernya, kemudian menyentuh dahi gadis itu. Luna sama sekali tidak menanggapi perkataan Reza, istri kapten itu masih sibuk mendinginkan badannya dan sesekali menggigit bibir bawahnya.


“Kak, kau sangat seksi!” bisik Luna pada telingan sang kapten sambil menggigigt daun telinga pria itu.


“Auw!” Reza memegangi telinganya, meskipun mendapat perlakuan seperti ini membuatnya sedikit bergaira*.


“Lun, kau sungguh membuatku takut!” Reza mulai tak tenang, kemudian meraih telepon untuk menghubungi seseorang.


“Halo, captain! How may I assist you?” ucap dokter menjawab telepon dari Reza.


“Doc, ada yang tak beres. Apa kau yakin jika obat yang kau berikan pada istriku itu obat yang tepat?” ucap Reza sambil menghindari Luna yang terus saja menciumnya.


“Saya yakin Capt, memangnya ada apa?”


“Istriku seperti orang kerasukan! Aku tidak mau tau kau harus datang kemari secepatnya!” perintah Reza, lalu menutup teleponnya, ia menatap lehernya yang mulai kemerahan akibat serangan Luna.


“Kak, ayolah!” ucap Luna sambil merengek.


“Jika saja kau sedang tidak sakit sudah sejak tadi aku membalasmu Luna!” ucap Reza lalu membukakan pintu untuk dokter yang memenuhi panggilannya untuk datang.


“Captain, ada apa dengan Nyonya?” pria berseragam putih itu datang dengan membawa peralatan medisnya.


“Mengapa dia sangat terlihat kacau sekali?” tanya sang dokter lagi, sambil memperhatikan keadaan Luna.


“Aku tidak tau Doc, jika tau aku tak mungkin memanggilmu malam–malam begini.” dengus Reza dan mengusap wajahnya, ia sangat takut terjadi sesuatu pada Luna.


“Baik Capt, saya akan memeriksa nyonya jika begitu,”Dokterpun meeriksa denyut nadi dan detak jantung Luna.


“Bagiamana Dok?” Reza tak sabar menunggu hasil pemeriksaan tersebut.


“Capt, ada masalah!” ucap sang dokter tampak berfikir.


“Cepat katakan!”


“Detak jantung dan denyut andi nyonya sangat tinggi, sepertinya beliau telah mengkonsumsi sesuatu,”


“Ya, dia memang mengkonsumsi sesuatu, dan itu obat darimu!” bentak Reza, tak kuasa melihat keadaan Luna yang sudah tak karuan, gadis itu menggeliat dan merem*s tubuhnya sendiri.


“Capt saya yakin, ini bukan berasal dari obat dari saya, apa nyonya meminum obat lain hari ini?” Reza mengepalkan tangannya, saat teringat Luna telah meminum jus pemberian Bumi hari ini.


“Ya, Dok! Dia telah meminum jus ini, kira-kira satu jam yang lalu,” ucap Reza menyerahkan sebotol jus yang hampir habis tersebut kepada dokter.


Dokter itupun mengamatinya dengan seksama dan menghirup aroma dari sisa jus itu.


“Capt, sepertinya saya tau apa yang tercampur dalam jus ini,” ucap sang dokter.

__ADS_1


“Apa??” Reza terkejut saat pria itu membisikkan sebuah merk dari sejenis obat perangsang.


“Bumi! Kali ini aku benar-benar tidak akan mengampunimu!” gumam Reza sambil memperhatikan Luna yang mulai tak karuan akibat perbuatan Bumi.


“Capt, dosisi yang diberikan pada jus ini cukup banyak, itulah sebabnya reaksinya akan seperti ini. Mungkin pengaruhnya baru akan hilang setelah sepuluh jam,” ucap Dokter yang membuat Reza semakin geram pada Bumi.


“Dok, apa yang harus kulakukan?”


“Anda tau apa yang harus anda lakukan, Capt!” pesan sang dokter sambil tersenyum sebelum meninggalkan tempat itu.


“Luna..” Reza menghampiri istrinya yang masih berbaring di tempat tidur, keadaannya semakin kacau, dengan rambut yang acak-acakan.


“Luna! Jangan menggigit spreinya! Itu kotor!” Reza menarik sprei dari genggaman Luna.


“Kak, aku tidak tahan lagi,” Luna pun menarik tubuh kekar itu hingga menindihnya.


“Kau sungguh tidak sadar atau pura-pura tidak sadar Luna?” ucap Reza memperhatikan wajah istrinya yang merah padam.


“Aku baru sadar Kak, jika kau sangat menggair*hkan,” ucapan istrinya itu membuat Reza mau tidak mau terlarut dalam ketidaksadaran Luna.


“Kau membuatku lepas kendali Luna. Sungguh aku tak tau jika obat itu bisa membuat seseorang menjadi mabuk seperti ini,” Reza masih belum membalas aksi istrinya yang mulai membuka kancing kemeja pria itu dengan kasar.


“Kak, ada saatnya kita harus melakukan sesuatu tanpa banyak berkata,” Luna tidak sadar akan apa yang sejak tadi diucapkannya.


“Kau seperti orang yang sedang mabuk sayang,” ucap Reza sambil membelai wajah istrinya, yang masih hangat.


“Aku memang mabuk Kak, kau sungguh memabukkanku.” Reza terus mengajak sang istri berkomuniaksi namun, lagi-lagi Luna menjawabnya dengan jawaban yang mengelantur, akhirnya Reza menuruti permintaan Luna.


Luna POV


Aku tak tau, entah bagaimana tubuhku yang tadinya demam menjadi terasa begitu panas, terlebih saat kulihat suamiku memasukki kabin, rasanya Kak Reza sangat menggoda malam ini.


Jika biasanya dia yang akan mendekatiku, kali ini tubuhku seakan ingin terus menempel padanya, membelai wajah rupawan itu, beberapa kali ia marah padaku sebab aku tak mendengarkan perintahnya.


Amarahnya pun mereda saat tangan ini dengan spontan menyentuhnya, membelai dan merem*s sesuatu miliknya.


Aku semakin tak tahan saat Kak Reza begitu mengulur waktu, seakan tak mengingkan diriku.


Aku sungguh mengutuk diri ini, saat tanganku melepaskan segala yang menempel pada tubuh suamiku.


Hawa panas and rasa gatal pun kian menjadi-jadi, dan berkurang saat dia melakukan tugasnya. Awalnya Kak Reza tampak ragu dan melakukannya dengan pelan, namun semakin lama ia pun semakin terbawa permainan, begitu juga denganku.


Entah sudah berapa lama waktu terlewati seakan tak ingin membuatku berhenti.


“Luna, jangan menyesal jika besok pagi kau tak akan bisa terbangun,” ucap suamiku, wajahnya terlihat memerah sama sepertiku, ada rasa sakit dan pegal yang menjalar di sekujur tubuhku namun, aku tak begitu memperdulikannya.


Sementara waktu terus berjalan, dan sudah beberapa jam berlalu.


“Kak, jangan berhenti,” tiba-tiba saja bibir ini mengucapkan kalimat yang memalukan tersebut.

__ADS_1


Kak Reza tersenyum dan sesekali tertawa setiap kali aku mengatakan sesuatu yang aku sendiri tak tau, bagaimana bisa berkata demikian.


Sementara peluh membasahi tubuhnya, juga tubuhku. Mataku terpejam setelah beberapa kali tubuhku bergetar dengan hebat.


Luna POV End


Reza POV


Entah harus berterima kasih atau berperang dengan Bumi, sungguh aku tak tau jika Luna akan menjadi seperti ini, sebagai seorang suami tentu aku bahagia mendapati istriku yang begitu menginginka diriku, sebab selama ini akulah yang selalu memintanya terlebih dulu.


Membayangkan jika Bumi sengaja membuat Luna terangsang agar dapat menikmati tubuh istriku ini, kembali membuat dadaku terbakar. Aku pun berniat menghentikan permainan dan segera menghajar Bumi. Tetapi Luna menarikku kembali.


“Kak, jangan berhenti,” ucap istriku. Sungguh ucapan Luna seakan membuat amarahku mereda dan berganti menjadi gair*h.


Dia tampak sangat lucu saat sedang terangsa*g seperti itu, waktu berlalu dan istriku masih tetap bertahan. Hingga setelah mengalami beberapa pelapas*n, akhirnya Luna pun terpejam. Erang*an dan des*han Luna seakan membuatku ingin terus bergerak mengikuti naluri lelakiku.


Aku yakin besok pagi, saat dirinya tersadar mungkin tubuhnya akan remuk redam.


Reza POV End


Di tempat lain, seorang pria dan wanita yang juga terpengaruh obat yang sama sedang menikmati malam bereselimut desa*an tersebut.


“Capt, I love you,” ucap Sharon lirih memandang pria yang sedang berada di bawah tubuhnya.


“Terserah kau mau memanggilku dengan Capt atau apa! Yang jelas terimaksih atas perminan yang hebat ini,” balas sang pria.


Sharon pun tersenyum, setelah mendapatkan kepuasan. Ia masih belum sadar jika yang telah bercin*a dengannya adalah Charles, sebab malam itu Charleslah yang menggantikan Captain di acara crew party.


Tiba-tiba saja suara ketukan pintu membuyarakan kegiatan itu.


“Nyonya!”


“Nyonya!” teriak Bumi dari luar kabin.


“Ahh ****! Bumi benar-benar mengganggu!” ucap Sharon kemudain bangkit dari tempat tidur.


“Roosevelt aku akan kembali secepatnya!” Sharon pun memakai gaun tidurnya dan membukakan pintu untuk Bumi. Meninggalkan Charles yang juga belum pada kesadaran penuh.


“Bumi! Kau menggangguku! Bukankah kau sedang bersama Luna!” ucap Sharon.


“Nyonya, sejak semalam aku menggedor kabin anda! Mengapa kau tak membukanya!”


“Benarkah? Tentu saja aku tak mendengarnya! Aku sedang bersama kaptenku!” ucap Sharon denagn penuh keyakinan.


“Captain? Kapten apa maksud anda!” Bumi berteriak.


“Roosevelt tentu saja, kami telah terlarut dalam permainan yang panas dalam bebrapa jam,” Sharon tersenyum mengejek.


“Nyonya, asal tau saja kapten berada di kabinnya bersama Luna sejak semalam,” ucap Bumi memutar mata malas,

__ADS_1


“What?”


__ADS_2