
“Kak, kenapa kakak mengambil keputusan hanya sepihak?” tanya Luna sambil memeriksa barang-barangnya yang baru saja mendapat tempat baru.
“Dua pihak, yang benar,” jawab Reza santai.
“Dua bagaimana? Jelas-jelas kakak telah memindahkan kebinku ke sini!” Luna melirik suaminya yang sedang menonton televisi.
“Kabinmu tetap di sana sayang, tetapi kaulah yang berpindah kemari,” Reza tersenyum mengingat jika istrinya memiliki koleksi majalah adult.
“Lalu siapa yang memberikan ijin kakak melakukannya?”
“Kapten tentu saja! Kau ini ada-ada saja,” ucapan Reza semakin membuat gadis itu kesal.
“Kak please!” Luna menghentakkan kakinya.
“Bisakah kakak berhenti menonton televisi saat sedang berbicara dengan orang lain?” Luna mulai terselimut emosi, gadis itu merebut remote yang berada pada tangan suaminya kemudian menekan tombol ‘off’.
“Apa sayang?” Reza pun menurut dan kini fokus memperhatikan sang istri.
“Apa yang kakak katakan pada Chief?” Luna kembali mengingat masa trainingnya yang tiba-tiba berakhir dengan nilai yang cukup bagus pula.
“Aku tidak mengatakan apapun Sayang,”
“Bohong!” Luna memanyunkan bibirnya kemudian mengambil raport hasil belajaranya selama ini.
“Lihatlah, bahkan Chief memberikan nilai Excellent pada setiap poinku, apa ini tidak aneh?” Reza hanya melirik kertas tersebut dan tersenyum.
“Mana mungkin dia berani memberimu nilai buruk,” jawab Reza masih dengan ekspresi tenang, setenang keadaan laut hari ini.
“Bukan buruk Kak, maksudku ini terlalu sempurna,” Luna masih saja memperhatikan laporan tersebut.
“Mana mungkin dia tidak memberimu nilai tertinggi, saat dia tau siapa suamimu? Hm?” Reza mencubit dagu istrinya dengan gemas.
“Kaulah yang berada di balik semua ini Kak!” Luna semakin jengkel, ia ingin hasil belajar yang sesuai dengan prosedur yang ada, bukan seperti ini.
“Yupp!” Reza mengangguk tanpa merasa berdosa, lalu kapten itu meraih sebuah botol dan meminumnya, beberapa kali ia tertawa melihat istrinya yang masih saja belum mengerti tentang apa maksud dari semua ini.
“Kak, kenapa kakak tidak memberitahuku sebelumnya? Lagipula aku ingin belajar dengan benar! Bukan dengan cara seperti ini!”
“Lihatlah, bahkan Bumi pun harus ditransfer ke kapal lain. Apa kakak yang telah mengaturnya?”
“Dan tentang kabin ini? Bukankah ini tugas Arsha untuk mengatur kabin kru?”
Reza menarik nafas panjang, mencoba mengimbangi Luna, mendengar nama-nama disebut oleh istrinya, kembali membuat pria itu memanas.
“Luna, apa kau begitu mengkhawatirkan sahabatmu itu?” ucap Reza, sambil meremas botol yang berada pada genggamannya.
“Dan Arsha, apa kau juga mengkhawatirkannya?” genggaman tangan Reza semakin menguat dan hampir membuat botol itu bergetar. Mungkin jika sang botol bisa berbicara maka ia akan memekik menahan cengkraman sang kapten.
“Lalu bosmu, apa kaupun juga merasa khawatir akan perasaannya padamu?” botol yang sejak tadi tersiksa itu kini pecah dan berhamburan k lantai beralaskan karpet itu.
“Asal kau tau Luna, aku bahkan tak butuh siapapun untuk memutuskan apapun di kapal ini, karena semua keputusan berpusat padaku!"
__ADS_1
"Bahkan jika kapal ini harus tenggelam dan penumpang ingin meninggalkannya sekalipun, mereka tidak akan mampu untuk pergi, tanpa ijin dariku,” aura kemarahan begitu terpancar dari mata Reza.
“Kak, aku tau semua itu. Aku tau siapa dirimu, apa posisimu dan apa pengaruhmu di kapal ini, aku tau Kak!” Luna tau jika saat ini suaminya sedang dalam kemarahan dan kecemburuan yang nyata.
Tetapi pria itu terlihat menyebalkan saat sedang menunjukkan kekuasaannya.
“Dan kau masih meragukanku?”
“Luna, jangan pernah meragukanku dalam hal apapun, bahaya ada dimana-mana saat ini. Dan kau harus mengikuti perintahku.”
“Ada saatnya kita harus mengikuti sesuatu tanpa banyak bertanya,” ucap Reza.
“Kaka sedang cemburu bukan?” Luna mendekati suaminya, dan mendekatkan wajahnya pada sang suami.
“Jika iya, kenapa?” ucap Reza terbata, ia ingin mengakui kecemburuannya namun, ada sesuatu yang lebih dari sekedar kecemburuan.
“Kakak sangat berlebihan, kau membuat teman-temanku ketakutan!” Reza menarik tubuh ramping di hadapannya itu dan menundudukannya pada pangkuannya.
“Kau mau tau sesuatu?” bisik pria itu melalui celah rambut istrinya yang tergerai.
“Apa Kak?” Luna menarik nafas panjang saat merasa sesuatu mengganjal di bawahnya.
“Kenapa Luna? Detak jantungmu terasa tak beraturan?” Reza kembali berkata lirih dengan tangannya yang merapa dada sang istri.
“Tidak kak, hanya risih saja,” jawab Luna sambil membetulkan posisi duduknya, agar tidak menyentuh sesuatu tersebut.
“Kenapa istriku sangat kaku sekali hm?” ucap Reza mulai menciumi leher jenjang istrinya, hingga membuat Luna mendes*h.
“Nanti saja,” Reza melanutkan aksinya kembali, menyes*p, menciptakan tanda pada kulit istrinya. Amarahnya mereda setiap berdekatan dengan tubuh Luna.
“Kak…” Luna bangkit dari pangkuan tersebut.
“Aku masih on duty saat ini!” Luna menatap jam tangannya, dan saat itu masih pukul 10 a.m.
“Omong kosong apa ini Luna?”
“Coba kemarilah! Periksa lifejacketmu!” Reza meraih sebuah pelampung dengan kartu yang tertempel pada bagian depannya. Luna terkejut saat melihat namanya pada pelampung tersbut telah berubah.
“Lifejacketku pun berubah?” Luna membacanya.
“Ya, Laluna Aditama adalah seorang visitor saat ini, bukan lagi kru,” ucap Reza.
“Ah kak kau ini!” Luna masih memperhatikan kartu itu, setiap orang di kapal memiliki satu lifejacket dengan nama, status dan identitasnya masing-masing. Dia terkejut, mengetahui suaminya sungguh tidak main-main.
“Sudah kubilang, masa trainingmu telah berakhir dan kau ‘wife on board’ mulai saat ini,” ucap Reza sambil menaikkan alisnya.
“Kak, tapi ini belum tiga bulan. Bukankah perjanjiannya tiga bulan?” rengek Luna.
“Aku mengkhawatirkanmu Luna,”
“Khawatir?” kini Luna menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
“Iya, ruang mesin tidak baik untuk ibu hamil,” ucap Reza tersenyum jahil.
“Kakak! Aku tidak hamil, yang benar saja,” Luna kembali tidak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya.
“Mungkin sebentar lagi,” ucap Reza kembali menarik tubuh Laluna ke dalam pelukannya.
“Bukankah lebih baik untuk mencegah daripada mengobati hm?”
“Tidak kak, kakak sedang menyembunyikan sesuatu dariku!” Luna menangkap aura kebohongan dalam raut wajah suaminya.
“Menyembunyikan apa sayang?” Reza semakin dimabukan oleh kulit mulus istrinya, aroma tubuh dan harum rambut gadis itu begitu membuatnya ingin mengulangi ‘kegiatan’ mereka, sejak malam itu ia terus terbaayang bagaimana Luna juga menerima segala sentuhannya meskiupun sedikit kasar.
“Kak, jangan memancingku seperti itu!” Luna menepis segala hasr*t yang ada, meskipun sebenarnya ia juga menginginkannya, namun ingatan tentang rasa ‘ngilu’ itu seakan membuatnya merasa takut untuk mengulanginya lagi.
“Kau menyukainya Luna! Sekarang aku tau apa kegiatanmu saat kau tak mengangkat teleponku, saat malam-malam aku membutuhkanmu dan kau bilang jika dirimu mengantuk,” Reza memperdalam his*pannya pada punggung yang sudah terbuka itu.
“Aku memang mengantuk Kak.” Ucap Luna sambil menahan sensasi geli yang mulai menjalar.
“Tidakkah kau sedang membaca majalah dewasa!”
“Benar kan?” Reza membalikkan tubuh itu hingga membuat mereka saling berhadapan.
“ A-aku hanya sedang mengisi waktu kosong saja Kak, dan aku juga belajar!” Luna gugup dengan tatapan tajam suaminya, tatapan yang begitu menginginkan dirinya.
“Tidak perlu belajar, aku yang akan mengajarimu,” ucap Reza terkekeh.
“Kak, katakan, apa yang kau sembunyikan?”
“Aku tau kau sedang memikirkan sesuatu, ada bahaya apa kak?” Luna kembali mengingat perkataan suaminya beberapa menit yang lalu.
“Sayang, jangan merusak momen ini, gunakan waktu sebaik mungkin! Karena waktu break-ku hanya dua jam saja hari ini!”
“Katakan dulu, ada apa kak!” Luna memanyunkan bibirnya dengan seragam pada tubuhnya yang sudah tak berbentuk.
“Lanjutkan dulu, setelah ini aku akan ,mengatakannya!” Reza semkin tak kuat menahan gejolak yang melanda.
“Tidak! Katakan dulu! dan baru aku akan memberikannya!” Luna masih ingin bermain-main.
“Jika kukatakan sekarang maka permainan tidak akan jadi dimulai sayang!”
“Kak, kau membuatku penasaran!”
“Baiklah, aku akan memberikan clue dan setelah itu kau harus menyerahkan tubuhmu!” Reza menggigit bibir bawhnya melihat istrinya yang sudah sangat menguji kesabarannya.
“Ya sudah, apa clue-nya Kak?” Luna pun menyetujui kesepakatan itu.
“Bumi dan Sharon, ini tentang mereka,” ucap Reza dengan raut wajah serius.
“Apa kak? Ada apa dengan mereka?” Luna sangat penasaran.
“Hanya itu clue-nya Luna! sisanya nanti” pria itupun kambali menyerang istrinya.
__ADS_1
Bersambung…