
"Kak, apa kakak marah?” tanya gadis yang saat ini berada dalam kungkungan kapten tersebut.
“Haruskah aku menjawabnya?” Reza semakin mendekatkan wajahnya pada Luna, membuat gadis itu memejamkan matanya karena rasa takut dan gugup yang melanda secara bersamaan.
“Kak, aku minta maaf, sungguh tidak terjadi apa-apa padaku dan Bumi, aku minta maaf tidak mengatakan akan kembali lagi ke ruang training itu lagi, tetapi bukankah sudah kukatakan jika aku harus mengerjakan course lagi hari ini?” Luna terus berbicara, tetapi Reza sama sekali tidak tersentuh oleh penjelasannya.
“Aku sudah cukup sabar Luna, bukankah sudah kukatakan padamu sejak dulu! Jauhi Bumi!” ucap Reza sedikit membentak istrinya.
“Hanya lelaki yang tau mata lelaki lain berfungsi Luna!”
“Kak, tapi..” ucapan Luna terpotong.
“Hentikan, aku tidak menerima pembelaan untuk saat ini!” naluri ketegasan Reza mulai tampak, ia tak lagi seperti Reza yang Luna kenal, saat ini yang berada di atas tubuhnya adalah sosok nahkoda yang dingin, jarang tersenyum dan tidak menerima penjelasan apapun saat bukti kesalahan sudah berada dalam genggamannya.
“Kak, lalu bagaimana dengan Sharon!”
“Kenapa kakak tidak menjelaskan apapun padaku?” Luna mengungkit persoalan yang memebuat Reza kembali naik darah.
“Bukankah sudah kukatakan padamu? Apa hubunganku dan Sharon? Bagaimana sikapku menanggapinya? Apakah aku memberinya kesempatan untuk masuk ke hidupku?” mata biru suami Luna itu semakin membulat,
merasakan kekesalan pada istrinya. Pria itu semakin menekan tubuh sang istri.
“Aku tidak sepertimu Luna!”
“Aku tau batasanku!” Reza semakin menaikkan volume suaranya, hingga Luna meneteskan air mata kaena rasa takut, ia tak pernah melihat sosok Reza yang seperti saat ini.
“Kak! Kau menyakitiku!” Luna terisak, matanya mengeluarkan buliran bening. Biasanya Reza akan tersentuh saat sang istri menangis tetapi tidak untuk saat ini.
“Kau lebih menyakitiku Laluna!”
“Tapi, aku juga hanya berteman dengan Bumi, apa itu salah?” Luna semakin tertekan dengan posisi itu.
“Kenapa kau masih saja membela diri Luna? Sedangkan apa yang kulihat hari ini berbanding terbalik dengan perkataanmu.
“Apa kau merasa lebih nyaman dengan Bumi daripada denganku?”
“Kau terlihat lebih banyak tertawa saat bersamanya jika kau tau!” Reza semakin tak terkendali, sedangkan Luna semakin tak dapat menghentikan tangisannya, saat tangan berotot suaminya menggenggam erat kedua tangannya.
“Kak! Kau tak pernah sekasar ini!”
"Apa Bumi lebih lembut dariku? apa lagi saat tubuh kalian saling bertindihan tadi?" ucapan Reza semakin membuat Luna sesak nafas.
__ADS_1
“Kau yang memaksaku Luna!”
“Entah harus menggunakan bahasa apa lagi, agar kau mau mengerti!”
“Berulang kali kukatakan jaga dirimu! Jaga dirimu!”
“Tetapi, sepertinnya kalimat itu sama sekali tidak kau dengarkan!”
“Apa maksud kakak? Aku sudah sangat berhati-hati,” ucap gadis yang merasakan sakit pada pergelangan tangannya itu.
“Hati-hati kau bilang?”
“Lalu bagaimana dengan officer kemarin?”
“Bagaimana dengan staff crew office itu?”
“Bagaimana dengan Bumi yang hanya menggunakan persahabatan sebagai kedok menjeratmu?” Reza kembali membahas pria-pria yang mendekati istrinya beberapa waktu terakhir ini, Luna terdiam masih mencerna perkataan suaminya.
“Chief? Arsha? Dan Bumi? Apa kesalahan mereka Kak?”
“Kesalahannya ada padamu, kau memberikan celah bagi mereka Luna, kau memberikan harapan palsu untuk mereka!”
“Kak, tolonglah!”
“Aku percaya padamu tetapi kau yang mengikis kepercayaanku itu, beberapa kali, aku melihatmu pada cctv bridge, bagaimana kau menanggapi pria-pria itu, bagaimana kau menunjukkan senyumanmu pada mereka?”
Reza menciumi wajah istrinya, seskali dengan gigit*n dan hisa*an.
“Kak sakit!” pekik Luna, saat Reza menggig*t bibirnya.
“Kak, tanganmu terasa sangat keras dan kasar!” setiap sentuhan yang diberikan oleh Reza pada tubuhnya begitu terasa sakit seperti bukan suaminya yang sedang melakukan semua itu.
“Kak! Hentikan!” Luna menendang tubuh sixpack itu hingga berhasil melepaskan kungkungannya pada Luna. Gadis itu berlari tetapi, percuma saja bukan kapten namanya jika tidak memiliki antisipasi.
“Luna, kau sedang ingin mengujiku?”
“Kau menolakku, menolak sentuhanku, tetapi tidak dengan sentuhan Bumi!” Reza menghampiri Luna, langkah kakiknya begitu lebar hingga tak perlu berlari untuk mengejar gadis manis itu.
“Kak stop!”
“Kak!” Luna semakin kebingungan kemana lagi harus berlari.
__ADS_1
“Aku sudah tidak bisa menahannya lagi!” ada getaran dalam ucapan pria itu, yang membuat Luna semakin ketakutan.
“Kak aku takut! Ini bukan dirimu!” ucap Luna, dengan Reza yang mulai mendekatinya lagi.
“Inilah diriku yang sesungguhnya, Laluna,” Reza kembali membawa istri rampingnya itu dan membaringkannya di atas ranjang.
Beberapa kali gadis itu memberontak tetapi sang nahkoda semakin bersemangat.
“Kak please,” Luna merengek seperti biasanya, berharap untuk dilepaskan begitu saja, tapi ia salah. Sebab saat ini suaminya sedang dalam puncak amarahnya, Reza menarik paksa kemeja istrinya, beserta seluruh pakaian yang menutupi tubuh mulus itu.
Naluri kelaparannya sedang sangat tinggi, beberapa kali Luna meringis kesakitan saat sapuan dan r*masan tangan suaminya terasa kasar pada tubuhnya.
“Kak!” Luna masih saja mencoba berontak saat sang kapten sedang tenggelam dalam kulit mulusnya.
Saat itu juga pria itu melepskan seragam yang ia kenakan berserta atribut yang menempel pada tubuhnya, kini keduanya sama-sama tak mengenakan apapun.
Reza memperhatikan tubuh istrinya yang sempurna itu, begitupun dengan Luna, mungkin benar ia merasa terancam, tetapi ia juga terlena dengan pahatan sempurna di hadapannya.
“Apa yang Bumi lakukan pada tubuh ini Luna?” tanya Reza dengan suara parau,
“Tidak ada kak, dia hanya menggegam tanganku saja, sisanya kami hanya terjatuh bersama tanpa sengaja,” jelas Luna, kemudian Reza mencengkeram kedua pergelangan tangan itu dan menguncinya.
“Kau tak sengaja, tetapi dia sengaja!” Reza menelusuri leher jenjang istrinya kemudian turun ke bawah.
“Kak, Ayolah Bumi tak bersalah Kak!” mendengar Luna begitu membela pria itu membuat Reza semakin beringas, ia pun merenggangkan kedua kaki Luna,
gadis itu memejamkan matanya ia masih teringat saat dimana sensasi ngilu itu begitu menjalar hingga ke ubun-ubun.
“Kak sakit!” Luna menjerit saat sesuatu menyerang area sensitifnya, secara perlahan. Reza memperhatikan ekspresi istrinya, ada sedikit rasa kasihan pada gadis cantik itu saat air matanya keluar dengan deras.
“Jangan sebut nama itu di hadapanku Luna,” ucap Reza suara paraunya semakin terdengar nyata, sepersekian detik, dinding semp*t itu akhirnya berhasil diterobos olehnya.
Luna mendorong dengan sekuat tenaga dada bidang Reza, tetapi seperti yang kita ketahui, sudah sejauh ini tidak mungkin Reza akan menghentikannya kan genk??
“KAK.. SAKIT!” Luna terisak, menahan rasa perih dan ngilu di bawah sana, sebuah benda asing telah berhasil membuat tubuhnya seperti terbelah menjadi dua, Reza ******* bibir ranum itu, memberikan sensasi hangat pada istrinya, agar rasa sakit bisa teralihkan untuk sementara.
Pria itu mulai melakukan gerakan, pelan namun pasti, ia tau istrinya masih membutuhkan adaptasi, perlahan amarahnya pun mulai reda digantikan dengan ken**m*t*n.
Kecup*n, his*p*n dan lum*t*n ia lakukan secara bergantian, hingga Luna mulai bisa meredakan tangisannya, wajah gadis itu semakin memerah saat desa**n keluar dari mulutnya begitu saja,
Reza semakin mempercepat gerakannya, mendengar leng*han sang istri hingga ia mencapai sesuatu yang membuatnya bergetar hebat begitupun dengan tubuh yang ditindihnya.
__ADS_1
Begitulah kira-kira acara hari ini kita tutup dulu ya genk, capek mereka, author pun juga wkwk
Makasih manteman atas dukungannya buat Reza Luna ya 😍🤗🤗