
Bocil skip aja!! ntar sawan! 🤧🤧
Mobil jemputan itu membawa Reza dan Luna ke sebuah hotel yang telah Reza pesan sebelumnya, dengan lengan kekarnya ia membopong tubuh Luna menuju kamar bernuansa romantis.
"Kak, aku malu!" bisik Luna pada telinga sang suami sambil menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher pria tampan itu.
"Diamlah Luna, anggap saja tempat ini hanya milik kita berdua," Reza tersenyum.
"Kak, aku mau turun!" rengek Ibu hamil muda itu.
"Biarkan aku memanjakanmu sayang. Menurutlah," ucap pria itu sambil terus berjalan menyusuri koridor hotel, layaknya pasangan yang sedang berbulan madu.
Luna pun hanya pasrah mengikuti keinginan suaminya, meskipun sejak mereka masuk ke tempat itu, puluhan pasang mata tak henti-hentinya memperhatikan.
Tiba di sebuah kamar bertipe penthouse, Reza membuka pintu itu menggunakan lengannya. Lalu membawa sang masuk dan mengatakan tubuh Luna ke ranjang.
"Kak, kamarnya bagus sekali," ucap Luna melihat sekeliling dan mengamati jika ornamen-ornamen di tempat itu cukup mewah, dengan hiasan bunga dan lilin aromatherapy khas honeymoon.
"Sangat romantis bukan?" tanya Reza dan Luna pun mengangguk, Kapten itupun menuju ruang shower lalu membersihkan diri.
Luna berniat mengganti pakaiannya, tetapi semua baju-baju itu berada di dalam koper yang cukup berat untuk diangkat. Luna hendak mengangkat koper tersebut untuk dinaikkan ke atas bed, tetapi dengan tiba-tiba Reza datang dan meraih benda kotak itu dari tangan Luna.
"Sayang, apa yang kau lakukan? jangan mengangkatnya!" sergah Reza yang hanya menggunakan handuk pada pinggangnya. Luna terdiam sesaat saat melihat tubuh sixpack sang suami.
"Kak aku ingin mengambil pakaian untuk mandi," ucap Luna tanpa berkedip, matanya masih saja terfokus pada sesuatu kotak-kotak yang sangat menggoda itu.
"Astaga sayang, ini terlalu berat untukmu. Kau sedang hamil jika kau lupa!"
"Kak, jangan berlebihan. Aku sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri!"
"Berhenti melawanku Luna, aku akan mengambilkan bajumu dan akan memandikanmu juga!" ucap Reza mendominasi.
"Kak, jangan modus!" ucap ibu hamil itu, tetapi ia tetap tidak bisa menolak suaminya.
Reza menanggalkan semua pakaian itu satu persatu, sambil sesekali menelan salivanya karena melihat keindahan tubuh sang istri. Beberapa hari tidak melihat Luna membuat kepalanya pusing karena menahan hasr*t.
"Kak, jangan membuatku geli!" Luna menutupi bagian-bagian sensitifnya dari tangan kekar Reza.
"Sayang diamlah, aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin memandikanmu saja,"
Reza membalurkan sabun ke sukujur tubuh Laluna dengan perlahan. Ia berusaha menahan segala gelora sedang menyerangnya saat ini.
Tahan Reza! Tahan! Istrimu sedang mengandung jangan sampai kau khilaf! jika kau ingin menyerangnya setidaknya berilah dulu aba-aba! batin Reza meskipun sebenarnya ia telah merencanakan hari ini dengan begitu matang.
“Kak, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat gelisah,”
“Aku tau kau sedang menahan sesuatu,” ucap Luna saat melihat sesuatu di balik handuk yang melilit pinggang suaminya itu mengeras dan terlihat semakin tegak.
“Kau bisa melihatnya Luna?” tanya Reza sambil menaik turunkan alisnya.
“Tentu saja Kak, kau ada di depanku, bagaimana mungkin mataku tidak melihat benda ini!” ucap Luna sambil menutup matanya.
“Haha kau bisa menyentuhnya jika kau mau sayang!” jawab Reza sambil menatap mata indah yang sedikit mengintip itu.
__ADS_1
“Aku pun tau jika sejak tadi kau sangat tergoda olehku bukan?” Luna memukul dada bidang itu dengan gemas,
“Kak, ayolah aku sudah bosan dengan pembahasan ini!” pinta Luna lalu beranjak dari bath tub dan meraih bathrobe untuk menutupi tubuhnya.
“Sayang, tunggu! Apa kau tidak mau mencoba melakukannya di kamar mandi?” goda pria itu sambil mengikuti sang istri.
Luna segera menuju ke ruang ganti dan memakai pakaian yang telah disiapkan oleh suminya. Dia memoleskan sedikit riasan pada wajahnya yang akhir-akhir ini terlihat pucat, ia bahkan sempat jatuh sakit saat hubungannya dengan Reza merenggang saat itu.
“Sayang, kenapa mengganti baju di ruangan ini? apa kau masih malu padaku Luna? Ayolah jangan terlalu kaku, aku bisa memakaikan bajumu,” Reza masuk ke ruangan itu sambil memeluk pinggang sang istri. Memperhatiakn pantulan tubuh mereka pada cermin.
“Kak, apa aku terlihat sangat gemuk sekarang?” tanya Luna.
“Tidak, kau seksi Luna!”
“Dasar gombal!“Luna mengacak rambut yang tertata rapi itu, Reza pun memanyunkan bibirnya.
“Kenapa kau selalu menganggap perkataanku sebagai sebuah gombalan? Aku berkata jujur sayang!” ucap Reza sambil menarik reseleting pada gaun sang istri, menurunkannya secara perlahan hingga reseleting itu terbuka seluruhnya tanpa Luna sadari.
“Kak, aku baru saja memakainya kenapa kau melepaskannya lagi!” Luna menahan gaun yang hampir terjatuh ke lantai tersebut.
“Siapa yang menyuruhmu memakai baju Luna?” Reza menarik tubuh itu dan merebahkannya pada sofa.
“Aku risih kak!” Luna berontak saat dagu kapten yang mulai ditumbuhi bulu itu menyapu bagian dadanya.
“Risih atau geli hm?” tanya Reza semakin melancarkan aksinya mengeksplore kulit mulus Luna yang lebih dari satu bulan ini tidak ia rasakan sama sekali.
“Kak, pelan-pelan,” bisik Luna sambil menggigit bibir bawahnya.
“Baby, apa Daddy boleh mengunjungimu? Ini mungkin akan sedikit menimbulkan guncangan, tetapi daddy janji akan pelan-pelan,” ucap pria yang sudah dikuasai oleh nafsv tersebut.
Luna memejamkan matanya, sambil berusaha mengimbangi gerakan Reza, sesekali lenguhan terdengar dari bibir tipis itu, membuat Reza semakin bergairaah. Tangan halusnya mencengkram permukaan sofa fancy itu saat sang suami sedikit menaikkan ritme gerakannya.
Reza semakin terbuai dengan kwnikmatan itu, keringat mulai keluar menetes dan mengalir di setiap lekukan maskulin pada dada dan perut seksinya, Luna meraba dada bidang itu kemudian mengalungkan kedua tangannya pada leher sang nahkoda.
Sepersekian menit kemudian
“Sayang, aku sangat merindukanmu,” ucap Reza di tengah-tengan permainan.
“Kak, aku juga sangat merindukanmu, tetapi aku mulai lelah, pinggulku pegal kak!” ucap Luna begitu jujur, matanya terus terpejam saat hentakan yang semakin dalam dilakuakan oleh Reza, sementara pria itu hanya tersenyum melihat sang istri lagi-lagi mengginggit bibir bawahnya dengan sensual.
“Aku masih belum lelah Luna, lagipula anggap saja kau sedang dihukum saat ini,”
“Kak, ini bukan hukuman!” ucap Luna.
“Kau benar sayang! Bukankah ini terlalu nikmat jika dianggap sebagai sebuah hukuman?”
“Kak, sungguh! Pinggulku sangat pegal saat ini!” pekik Luna tetapi sang suami masih saja belum ingin mneghentikan aksinya, seperti sedang meminum air setelah satu bulan penuh berada di gurun pasir dan menahan dahaga.
“Kau yang memegang kendali sekarang sayang!” Reza merengkuh tubuh ramping itu kemudian meletakkannya di atas tubuhnya.
Luna mulai bergerak dengan panduan dari sang suami. Reza mencengkeram pinggang itu, sesekali memejamkan matanya saat terjangan kenik*tan itu melanda.
Tidak berebeda jauh dengan Reza, gadis itupun merasakan hal sama, hingga tiba saatnya tubuhnya bergetar hebat, Reza pun menyadari itu lalu segera membalik posisi, tak ingin membuat sang istri terlalu lelah, sepersekian detik gerakan semakin cepat tetapi teratur Reza tau, ada janin yang tidak boleh ia ganggu.
__ADS_1
“Kak!” teriakan dan lenguhan bercampur menjadi satu dari bibir Laluna saat ia sadar sesuatu sedang keluar dan membanjiri rongga rahimnya.
Pria itupun memeluk tubuh lemah Luna sesaat setelah keduanya mencapai puncak, entah sudah berapa kali ibu hamil itu mengalami pelepasan.
Reza tersenyum sambil menciumi wajah serta perut sang istri, dan peluh menetes membasahi kulit putihnya.
“Nak, maafkan daddy ya, tetapi mommy-lah yang memaksa daddy hari ini,” ucap Reza sambil membelai perut Luna yang terlihat semakin menonjol itu.
“Kak! Apa yang kau katakan!” Luna menonyor kepala Reza sambil tertawa.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. Reza pun segera bangkit, lalu melihat siapa yang datang sebelum ia mengenakan pakaian dan hanya melilitkan handuk pada pinggangnya seperti semula.
“Roose, kenapa tidak pulang? Dan malah menginap di sini. Mana Luna?” tanya Alexander di depan pintu.
“Papa ada di sini? Sendiri?” Reza terlihat terkejut mendapati ayahnya berada di tempat itu.
“Sama akulah Kak!” ucap Ganis di belakang Alex.
“Sama mama juga!” Rosita Dewi pun ikut mengerjai Reza.
“Astaga kalian semua sedang apa di sini?!” Reza kelabakan, Luna pasti akan sangat malu jika melihat seluruh keluarganya ada di tempat itu.
“Za, tau gitu gue ikutan check in sama Ana, mumpung anak-anak lagi dibawa omanya ke London!” celetuk Yoshi yang tiba-tiba muncul begitu saja, seperti biasa pria itu tak pernah terdeteksi kehadirannya.
“Elo juga di sini Yosh!” Reza membulatkan matanya.
“Bukan gue aja! Tuh pasukan juga ikut!” Yoshi menunjuk Pramuja, Larissa dan Lanthana, dan mereka semuanya melambaikan tangan pada Reza.
“Astaga!”
Reza lansgung menutup pintu itu dan meminta Luna untuk segera mengenakan pakaiannya.
“Sayang, cepat pakai pakaianmu!” sergah Reza membantu sang istri berdiri lalu membawanya ke ruang ganti. Luna pun tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, ia masih ingin bersantai dan tidur-tiduran karena tubuhnya yang sangat kelelahan.
Seksi gak sih kapten kita ini gaes? 😂
Aduh mau dong jadi dasinya 😂
Bumil cantik, makeup-an dulu sebelum --
Yoshi datang dan berkata : Gue gak sendiri Za, gue bawa pasukan!
Ana : Reza, kamu apain adik aku!! 🤣🤣
__ADS_1