I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Mulai


__ADS_3

Bumi keluar dari kabin Luna, setelah selesai meminjam telepon di kamar gadis itu, ia tak dapat menggunakan telepon di kabinnya sebab roommate atau teman sekabin pria itu sedang tidur, toleransi sangat dijunjung tinggi di dunia pesiar, sebab mereka berasal dari Negara dan suku yang berbeda-beda.


Budaya, agama, adat, bahasa yang beragam menjadikan kebiasaan masing-masing kru berbeda juga.


Luna bernafas lega, akhirnya ia bisa isirahat, bukan fisiknya yang lelah melainkan kondisi jantungnya yang terus berdegup kencang seharian ini akibat ulah suaminya, Luna merasa sejak berada di kapal, Reza sangatlah agresif dan lebih dominan ke arah mesum.


Tok


Tok


Tok


Luna mendengar suara ketukan dari luar kabinnya. Saat ia mengintip pada lubang pintu, tak ada yang tampak sebab tertutupi oleh telapak tangan.


“Sial, dia menutup lubang pintunya!” dengus Luna kesal. Gadis cantik itupun melanjutkan acara rebahannya, ia malas membuka pintu jika sang tamu tidak ingin menampakkan diri.


Ketukan pintu semakin terdenagar, semakin kencang dan Luna akhirnya kehilangan kesabaran.


“Hah! Meresahkan sekali!” ucap Luna kembali beranjak dari bed.


“Siapa sih!” ucap Luna, berharap seseorang itu mau menjawabnya. Tetapi bukannya menjawab, ketukan dari luar semakin bernada teratur dan bertubi.


“Siapa woy? Gak ngaku gue cuekin!”


“Gue…” akhirnya terdengar suara pria, dan Luna mengenalnya.


“Gue siapa?” tanya Luna pura-pura.


“Gue, Arsha ganteng!”


Luna pun segera membuka pintu itu, setelah tebakannya benar.


“Cih! Kalo ganteng kenapa lo nutupin lubang pintunya!” ucap Luna.


“Gue gak mau kegantengan gue terekspose begitu aja!”


“Ah basi! Ada apa kemari Arsha?” Luna menyebut nama staff dari crew office tersebut.


“Ini, kopi! kali aja lo ngantuk,” ucap Arsha menyodorkan satu cup cappuccino.


“Wih tau aja lo, kalo gue ngantuk,” jawab Luna masih berada di ambang pintu.


“Lo gak mau nawarin gue masuk?” tanya Arsha.


“Dih ogah! Buruan sini kopinya jadi nggak?” tanya Luna melirik kopi di tangan Arsha.


“Nih dah! Itung-itung sambutan buat kru baru,” jawab Arsha menyerahkan kopi itu kepada Luna.


“Alah modus lo Sha!” ucap Luna meraih cup itu kemudian Arsha pergi sambil menggelengkan kepalanya.


“Lo-nya juga mau dimodusin Lun!” celetuk Arsha sambil berjalan.


“Sha! Asal tau aja gue udah gak single!” teriak Luna.


“Bodoamat!” jawab Arsha sambil tertawa. Dia tak menganggap ucapan Luna adalah keseriusan.


Luna pun menutup pintu kabinnya kembali, lalu melanjutkan rebahannya, ia belum menyentuh kopi itu sama sekali dan meletakkannya di atas nakas.

__ADS_1


Dia bergegas masuk ke shower room, lalu membersihkan badannya kemudian berganti baju tidur tipis, Luna benar-benar butuh istirahat saat ini.


Tak berapa lama, ketukan pintu kembali terdengar, Ia berdecak kesal, karena istirahatnya kembali terganggu.


“Siapa?” tanya Luna masih dalam keadaan rebahan.


Tok


Tok


Ketukan masih saja terdengar, membuat Luna semakin kesal, ia tidak mengintip dari lubang pintu sebab ia yakin jika itu adalah Arsha.


“Apaan lagi sih Arsha! Gue ngantuk!” ucap Luna. Lagipula Luna malas untuk kembali mengganti bajunya lagi, ia tak mungkin membukakan pintu untuk Arsha dalam keadaan mengundang syahwat seperti itu.


Ia lebih memilih untuk mengabaikan orang itu saja, saat ini pun sudah termasuk jam off Luna, siapapun tak berhak mengganggunya dalam urusan pekerjaan di saat jam kerjanya telah berakhir.


Tok


Tok


“Astaga, jangan bilang lo mau ngambil kopi lo balik!” dengus Luna, beranjak dari tempat tidurnya.


Ketukan semakin kencang, dan Luna pun mengintip dari lubang pintu. Betapa kagetnya ia saat mendapati pria dengan empat setrip di pundaknya sedang menunggu di balik pintu.


“Luna..” ucap pria itu, ada sedikit emosi dalam suaranya.


“I-Iya Kak,” jawab Luna. Dia ketakutan sebab sejak tadi Luna mengira bahwa Reza adalah Arsha. Beberapa kali juga ia mengucapkan nama itu di depan Reza yang sedang berdiri di depan kabin A002 itu.


“Luna, buka pintunya,” ucap Reza pelan tetapi penuh penekanan.


“Kak, aku sedang sibuk,” jawab Luna asal untuk menutupi kegugupannya.


“Iya Kak, sebentar.”


“Kak, jangan berdiri di sana atau nanti jadi gossip jika ada yang melihat!” Luna kembali mengalihkan suasana.


“Luna kau mau membuka pintunya atau tidak?” Kapten kembali memberikan Luna sebuah pilihan.


Tetapi gadis itu tetap saja tidak bergeming dan berada di tempat tanpa pergerakan apapun. Tak berapa lama kemudian


Ceklek


Pintu terbuka, sosok tegap itu pun masuk ke kabin Luna dengan mudah.


“Kak, kakak bisa masuk?’ tanya Luna terkejut, Reza tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia semakin berjalan mendekati Luna.


Gadis itu menutupi bagian dadanya yang agak terbuka sebab pakaian tidur yang ia kenakan begitu menunjukkan apa yang ada di dalamnya.


“Kak..” Luna gugup saat mata elang kebiruan itu mengintimidasi dirinya.


“Apa kau lupa jika aku memiliki kunci master?” ucap Reza dengan ekspresi dingin dan menunjukkan jika ia sedang dalam kemarahan yang tertahan.


Bagaimana mungkin ia lupa jika suaminya memiliki kunci itu, yaitu sebuah kunci yang dapat membuka semua pintu di kapal ini.


“Kak, jangan menatapku seperti itu,” ucap Luna ketika sang kapten semakin menghimpit tubuhnya ke dinding kabin.


“Kenapa Luna, bukankah aku suamimu?” Reza merengkuh kedua lengan itu. Matanya tertuju pada tubuh istrinya yang sedang mengenakan kain tipis berenda.

__ADS_1


“Kak, apa ada yang melihatmu saat kau masuk ke sini?” tanya Luna, merasa khawatir.


“Tidak!” jawab Reza.


“Kakak yakin?” Luna memajukan wajahnya pada wajah suaminya untuk mencari jawaban.


“Tidak, maksudku aku tidak perduli!” Reza semakin merengkuh lengan itu semakin kencang, kini tangannya mulai bergerak mengikuti pandangan matanya berkelana.


“Kenapa kau memakai baju seperti ini? Padahal kau tau jika kita tinggal di kabin terpisah Luna!” Reza memperhatikan istrinya dari atas hingga ke bawah, tatapan serigala yang sedang kelaparan sangat tampak begitu jelas di matanya.


“Dan, siapa pria tadi?” Reza semakin menekan tubuh ramping istrinya dan membeuat jantung Luna kembali berdebar hebat.


“Kak, itu tadi staff dari crew office,” jawab Luna.


“Lalu bagaimana dengan Bumi? Kau sengaja mengujiku atau apa Luna?” ucap Reza, semakin terbakar saat melihat pria yang tidak ia sukai itu masih mendekati istrinya. Bahkan berada dalam satu kabin dengan rentan waktu yang cukup lama.


“Kak Bumi hanya…” Luna tak dapat meneruskan kata-katanya sebab bibir Reza sudah menempel sempurna pada bibirnya.


“Dengar, dulu aku pernah mengatakan padamu jika memang kau memiliki hubungan dengan Bumi, maka aku akan berusaha menutup mataku,” ucap Reza, sejenak melepaskan pagutan itu.


“Tapi, saat kutanyakan padamu tentang hubungan kalian berdua, kau bilang jika kalian hanya berteman,” Luna tak dapat berkata, ia hanya sibuk memperhatikan wajah tampan yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya itu.


“Dan, sekarang apa Luna? Sejak kemarin kulihat kalian terus bersama, jangan katakan ini hanya sebuah kebetulan semata,” Reza kembali melumatt bibir manis itu.


“Kak, ini hanya kebetulan, sungguh!” ucap Luna, terbata sebab posisi mereka yang masih berciuman.


“Kebetulan yang disengaja maksudmu? Hm?” Reza menatap mata Luna, menandakan ia mengharapkan sesuatu yang lebih.


Dia mulai menarik tubuh itu ke atas tempat tidur, Reza duduk di pinggiran bed dan Luna berada di pangkuannya, mereka saling berhadapan, pria bertubuh sixpack itu meletakkan kedua tangan istrinya pada lehernya, dan tangannya sendiri berada di pinggang sang istri.


“Kak, apa kau mencurigaiku?” tanya Luna, menempelkan keningnya pada kening sang kapten.


“Tidak, aku hanya kesal,” jawab Reza jujur.


“Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Bumi, kau tau siapa Bumi kan kak? Kami hanya teman, seperti yang sudah kukatakan padamu sebelumnya,”


“Tapi, aku tidak suka melihatnya terus bersamamu,” ucap Reza, kini tangannya mulai beraksi, pelan-pelan ia membuka tali pada gaun tidur istrinya, sangat lembut hingga Luna tak sadar jika keindahan tubuhnya mulai terekspose begitu saja, dan gaun yang kenakan telah terjatuh ke lantai.


“Aku mencintaimu Kak, hanya itu yang mampu kukatakan, aku tak pandai merangkai kata, apalagi untuk membuat sebuah pembelaan,”


“Benarkah?” tanya Reza, ia mulai tak mampu mengendalikan hawa nafsunya.


“Benar Kak,” Luna masih saja tidak menyadari jika kini hanya bra saja yang masih menempel pada tubuhnya. Reza membelai kulit mulus itu, dari depan hingga ke belakang tak satupun yang terlewatkan dari sentuhan tangan kekarnya.


Dia mendengarkan apa yang Luna katakana tetapi, logikanya begitu mendorongnya untuk mabuk dan terlena untuk melakukan hal selanjutnya.


“Mari membuat sebuah pembukatian,” Reza merengkuh tubuh tanpa busana itu ke atas tempat tidur.


“Apa? Sejak kapan?” Luna memegangi bagian dadanya, lalu matanya tertuju pada cermin yang terpasang di depan bed. Dia melihat tubuhhnya benar-benar polos, hanya tinggal pakaian dalam saja yang tersisa. Sementara dilihatnya sang suami masih berseragam lengkap.


“Aku benar-benar merasa seperti seorang kru yang sedang menggoda kapten!” ucap Luna masih dengan menatap pantulan dirinya di cermin, dengan kapten yang sedang menuindih tubuhnya.


“Apa yang kau katakana Laluna,” Reza terkekeh mendengar perkataan konyol istrinya.


“Kak, lihatlah, sejak kapan kau berhasil melepaskan bajuku? Kenapa kau lihai sekali!” dengus Luna sambil membelai wajah blasteran itu.


“Bukan aku yang lihai tetapi dirimulah yang sedang terlena, sayang,” ucapan Reza kembali membuat pipi berlensung itu merona.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2