I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Salah Paket


__ADS_3

"Lihatlah dirimu, apa kau masih belum sadar juga Albert?” Yoshi berhadapan dengan pria yang sudah terborgol itu, sementara Reza membawa Luna pergi dari lokasi kejadian, gadis itu tampak sangat terpukul dengan kepergian Bumi yang tragis.


“Aku tidak akan pernah memaafkanmu Yoshi!” Albert mencoba melepaskan cengkaraman tangan petugas berniat untuk menyerang Yoshi.


“Kau tau siapa yang paling bersalah dalam tragedi ini?” Albert terdiam, ia masih bisa merasakan tangannya bergetar hebat sesaat setelah menusukkan pisau di tangannya itu pada tubuh adiknya.


“Bukan kau! Tapi ayahmu!”


“Bedebah itu tidak memberikan pelajaran berharga kepada anak-anaknya hingga membuatmu menjadi sosok tak berguna seperti ini!” bentak Yoshi menghampiri Albertus, memperhatikan wajah itu lekat-lekat, betapa wajah yang sangat mengingatkannya pada Nathan Lee.


“Kaupun sama Yoshi! Kau sangat egois!”


“Jika bukan karena kalian semua aku tidak akan kehilangan adikku hari ini!”


“Tutup mulutmu! Sekarang sudah saatnya kau untuk menerima semua yang sudah seharusnya kau terima!” Yoshi pun menarik tubuh itu, dan meminta ijin pada petugas untuk memberikan hukuman lain sebelum membawa Albert ke tempat rehabilitasi.


“Lepaskan! Kemana kau akan membawaku!” Albert berontak ingin melepaskan diri.


“Kau pikir aku akan membiarkanmu menjalani hukuman entengmu itu di panti rebilitasi!”


“Hentikan Yoshi! Apa yang akan kau lakukan?!” Albert mulai menangkap sesuatu jika Yoshi akan melakukan hal tak masuk akal padanya.


“Ladyboy-ladyboy itu sepertinya sedang haus kasing sayang, Albert!” ucap Yoshi tersenyum licik.


“Mereka sedang kelaparan!” bisik pria itu pada telinga Albert, membuat sang buronan bergidik ngeri.


“Tidak! Jangan Yoshi!” Albert semakin berontak, saat tau Yoshi akan membawanya ke tempat waria-waria menjajakan diri mereka, ke sebuah ruangan yang dipenuhi oleh banci.


“Nikmati harimu Albertus Lee!” Yoshi mendorong tubuh itu ke dalam ruangan.


“Tidak! Yoshi! Tolong aku!”


“Aku alergi banci!”


****


Suasana haru menghiasi acara pemakaman Bumi, pria penuh canda itu, kini telah tiada. Hembusan angin dan udara dingin bercampur butiran es, ikut mengiringi kepergian sahabat Luna itu.


Aku Bumi, terlahir ke dunia ini sebagai seorang adik yang sangat menyayangi kakakku, tetapi dia tak pernah menganggapku. Begitupun dengan Luna, aku mencintainya, dengan segenap hatiku, tetapi ia pun tak pernah menganggapnya. Kini, tiba saatnya aku pergi dari muka Bumi ini dengan tenang, karena kutahu hanya Tuhanlah menganggapku.


-Bumi-


Luna dan Reza kembali ke penginapan setelah mengikuti prosesi pemakaman Bumi, meskipun selama ini Reza begitu membenci Bumi, tetapi nahkoda itu berterimakasih pada mantan anak buahnya tersebut,


karena hari ini jika bukan karena Bumi, maka dirinyalah yang sedang dimakamkan. Luna terdiam membisu, seakan merasakan duka yang mendalam.


“Sayang, apa kita perlu ke dokter?” tanya Reza saat melihat wajah sang istri masih pucat pasi.

__ADS_1


“Tidak Kak, maafkan aku. Bukannya aku ingin membuatmu marah, tetapi aku sedih dengan kepergian Bumi,” ucap Luna jujur.


“Aku tidak akan marah sayang, akupun merasakan duka itu,” balas Reza lalu memeluk istrinya.


“Kak, maafkan Bumi, jangan membencinya lagi. Dia berbuat jahat karena ingin melindungi kakaknya saja selama ini, termasuk uang dari Sharon, uang itu digunakannya untuk membebaskan Albert dari tahanan, hikss,” Luna menangis, teringat akan kebersamaannya bersama Bumi dulu.


“Sayang, jangan menangis lagi, setidaknya kita tau satu hal hari ini. Jika kasih sayang bisa membuat seseorang menjadi buta dan rela melakukan apapun untuk orang yang disayanginya,”


“Aku tak pernah membenci Bumi, aku hanya tidak suka padanya, Itu saja. Tetapi hari ini aku sadar, jika Bumi tak seburuk yang kukira,” ucap Reza membelai rambut panjang Luna.


“Luna, jika saja hari ini aku yang terbunuh apa yang akan kau lakukan?”


“Kak, kau ini bicara apa!” Luna memandang wajah itu dan menghentikan tangisannya.


“Apa kau akan sesedih ini?” Reza menggoda sang istri.


“Atau kau akan menikah lagi?”


“Kak, aku akan menikah lagi dan pria tua yang kaya raya lalu kuambil semua hartanya untuk menemukan teknologi canggih untuk menghidupkanmu lagi!”


“Hahaha, apakah ada teknologi seperti itu?” Reza tertawa.


“Tentu saja tidak ada! Kau membuatku kesal kak!”


“Aku tidak bisa hidup tanpamu tau!” Luna menciumi wajah tampan itu bertubi-tubi, ia sangat bersyukur karena Reza terselamatkan hari ini.


“Apa kau sedang memancingku Luna?” Reza mngecup bibir yang sejak tadi menghujani wajahnya dengan ciuman itu.


“Ya sayang, aku sudah memesan penerbangan baru,” Reza menunjukkan dua lembar tiket executive di tangannya.


“Kapan kita akan berangkat Kak?” Luna terlihat sangat bersemangat.


“Setelah ini,” ucap Reza mulai menggerayangi tubuh sang istri.


“Kak, pesawatnya akan berangkat pukul tujuh! Dan ini sudah jam tiga!” ucap Luna sambil melihat jamnya.


“Masih ada waktu satu jam lagi sebelum check in sayang,” ucap Reza mulai terlarut dalam permainan.


Reza merengkuh tubuh itu namun tiba-tiba saja seseorang membuka pintu.


“Kak Yoshi!” Luna segera terbangun dan membetulkan kancing bajunya.


“Wah! Tutup pintunya dong Gaes! Untung anak-anak gue gak ikut kemari coba kalo ikut! Bisa kena sawan dobel!” ucap Yoshi sambil tertawa terbahak.


“Bales dendam lo Yosh?!” Reza berdecak kesal sebab ia lupa jika makhluk menyebalkan itu masih ada di tempat ini.


“Lu lupa kalo gue masih di sini!”

__ADS_1


“Ngapain sih lu Yosh? bukannya langsung pulang! Ganggu orang aja!”


“Ini mau pamitan oncom!” ucap Yoshi sambil memberikan sesuatu untuk Luna.


“Ini vitamin dari kakakmu Lun,” Yoshi menyerahkan sebuah botol dalam kemasan kotak.


“Oh vitamin apa ini Kak?” tanya Luna belum membuka botol itu.


“Kurang tau sih, coba nanti tanya sama Ana ya!”


“Gue balik dulu!” Yoshi menepuk pundak Reza.


“Iya pergi sono! Jauh-jauh!” kata Reza.


“Inget, kunci pintunya jangan lupa! Apa perlu gue yang ngunci dari luar? Haha?”


Yoshi pun meninggalkan kota Hongkong bersama Pram, menuju Jakarta. Ana berlari saat melihat sang sumai tiba, sejak kepergian Reza, Luna dan disusul oleh Yoshi dan Pram, ia tidak dapat menenangkan hatinya sama sekali.


“Mas, kau tak apa-apa kan?” Ana memeriksa seluruh bagian tubuh Yoshi, tetapi pria itu hanya tersenyum tanpa memberikan jawabannya, berada jauh dari Ana sangat menyiksa baginya meskipun hanya dua hari.


“Mas, bagaimana dengan Luna dan Reza?”


“Dan kau, sepertinya kau baik-baik saja. Tetapi aku tidak tau bagian dalam tubuhmu, apa kau menyembunyikan luka itu?” Ana masih saja sibuk bertanya, dan menggerayangi tubuh sang suami.


“Aku baik-baik saja. Tapi sepertinya kau yang tak akan baik-baik saja setelah ini,” bisik Yoshi pada telinga sang istri.


“Mama mengirimkan paket herbal itu kemarin dan terbawa olehku ke Hongkong saat sedang buru-buru !” ucap Yoshi.


“Paket apa?” Ana tidak mengerti tetapi ia ingat jika kemarin ia menitipkan vitamin untuk Luna lewat Yoshi.


“Bubuk hijau itu sayang,” ucap yoshi sambil menaik-turunkan alis tebalnya.


“Ah si hijau itu! Bukankah itu ada di tasmu kemarin. Dan paket untuk Luna dariku, apa kau sudah memberikannya?”


Yoshi mulai menunjukkan kepanikan, sepertinya ia telah melakukan kesalahan hari ini.


“Sayang paketnya tertukar! Bukan vitamin darimu yang kuberikan pada Luna tetapi bubuk hijau dari mama itu!”


“Apa??!”


“Obat perangsang itu kau berikan pada Luna?”


“Astaga Mas, kenpa bisa begitu! Kau tau kan, Luna itu sangat ceroboh! Dia biasa meminum dan memakan sesuatu tanpa membaca labelnya!”


"Ah aku akan menelepon Luna sekarang juga!" Ana panik lalu meraih ponselnya.


"Jangan sayang," ucap Yoshi menahan Ana.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Biarkan saja!" Yoshi tersenyum smirk.


__ADS_2