
Luna bersandar pada lengan suaminya, mereka berada dalam satu bed sejak semalaman mencoba sesuatu yang menyakitkan untuk Luna, Reza benar-benar tipikal pria yang sangat sabar, entah dewa apa yang menjadi reinkarnasinya di masa lalu.
Hingga pria sesempurna dirinya bisa bersikap sedewasa itu. Reza membelai lembut puncak kepala Luna, ia merasa lega sebab istrinya sudah berhenti menangis.
“Luna, apa kau sudah tidur?” tanya pria itu membelai pipi Luna.
“Sudah Kak,” jawab sang istri.
“Jika sudah, kenapa bisa menjawabku?” Reza tau jika istrinya itu belum benar-benar tertidur.
“Kakak yang membangunkanku,” jawab gadis itu lirih.
“Jangan tidur dulu sebelum kau menidurkanku Luna,” bisik Reza dan seketika Luna menatap suaminya.
“Me-ninabobo-kan Kak Reza maksudnya?” tanya gadis itu dengan polosnya.
“Bukan, tetapi menidurkan sesuatu yang ada di bawah sana,” ucap Reza mengarahkan tangan Luna pada bagian sensitive pria itu.
Luna tersipu, malu, lagi-lagi wajahnya memerah. Tak menyangka jika dia juga mulai menyukai hal itu.
****
Seminggu kemudian,
Keadaan kapal masih tetap sama, beberapa tamu lama telah berganti baru, namun ada beberapa yang masih tetap melanjutkan perjalanan cruise itu, Sharon tentu saja masih mengikuti Reza, dia akan melanjutkan misinya untuk memehui ambisinya itu.
Setiap hari ia selalu menggoda Reza hingga tak jarang membuatnya harus menghadapi Luna yang anarkis akibat kecemburuan, tetapi bukan Sharon namanya jika menyerah begitu saja.
Luna POV
Hari berganti, hubungan backstreetku dengan kapten masih berlanjut, sejauh ini hanya Sharon yang sudah mengetahui hubungan kami yang sebenarnya, selain itu tak ada lagi
Kak Reza begitu sibuk dengan tugasnya, membuat kami jarang bertemu, tapi hal baiknya aku tak perlu khawatir pada Sharon, sebab wanita itu tak dapat memasukki area anjungan tanpa syarat tertentu.
Seperti biasa setelah malam yang gagal itu, aku dan kak Reza hanya bertelepon, sesekali bertemu hanya untuk melepas rindun saja, program kehamilan masih jauh dari pandangan mata, sebab aku harus menyelesaikan masa trainingku yang kurang satu bulan lagi.
“Luna, dimana dirimu?” tanya Kak Reza saat meneleponku.
“Aku dari ruang training Kak, mengerjakan course,” jawabku.
“Sendiri?” tanyanya lagi,
“Iya Kak, setelah ini aku harus kembali lagi ke ruangan itu,”
“Ada berapa course?” dia sangat perdul padaku yang jarang sekali perduli padanya ini.
“Ada tiga Kak, kurang dua, kakak mau kerjakan punyaku?” aku menggodanya.
“Boleh, tapi ada imbalannya,” ia menyambutnya.
“Apa kak?”
“Tidak jadi, nanti ada yang menagis lagi,” ucapnya sambil tertawa. Kami memang belum menemukan waktu yang tepat lagi, sejak ‘saat itu’.
__ADS_1
“Kak, jangan membuatku malu,”
“Aku tidak membuatmu malu Luna, memang itulah kenyataannya,” ucap Kak Reza.
“Aku ingin ke kabinmu nanti malam tetapi, ada yang harus kukerjakan dulu, apa aku boleh datang tengah malam?” tanya Kak Reza.
Sungguh lucu, kenapa kami seperti sedang mencuri sesuatu setiap ingin bertemu.
“Boleh Kak, lihat situasi dulu,” sebenarnya akulah yang bersalah di sini, suamiku hanya menuruti keinginanku saja, aku tau ia cukup repot dengan hubungan kami yang masih belum ter-publish.
Aku pun menutup sambungan teleponnya kemudian kembali ke ruang training untuk melanjutkan tugas. Sama seperti terakhir kali aku melihatnya, suasana masih sangat sepi, hanya ada aku d ruangan itu. Kunyalakan PC dan mulai mengerjakan modul di website resmi perusahaan itu.
“Luna,” sesorang memanggilku.
“Eh Bumi, lo tumben gak ngorok!” tanyaku, tak biasanya Bumi datang ke ruang training di jam istirahat.
“Lun, ada yang pengen gue omongin,” ucapnya, raut wajah sahabatku itu begitu terlihat serius.
“Ya, ada apa?” aku pun mengikuti keseriusannya.
“Gue…” ucap Bumi terbata.
“Lo kenapa?”
“Gue..”
“Kenapa Bum? Mau pinjem duit?”
“Stok indomie lo habis?”
“Gak Lun,"
“Terus apa?”
“Lo dikejar-kejar pare lagi?” pare adalah sebutan untuk kru pria dari Filipina.
“Bukan, please Lun, gue mau jujur sama lo,” pria itu tampak berkeringat.
“Yaa udinn jujur aja! Dari tadi kenapa gak ngomong-ngomong sih!”
“Gue suka sama lo Lun,” Bumi menghembuskan nafasnya dan menyeka keringat di dahinya.
“Apa? Coba ulangi lagi, apa gue gak salah denger,” tiba-tiba saja Bumi menggenggam tanganku.
Aku pun terperanjat seketika. Berfikir mungkin saja ini hanya prank. Mengingat kegilaan pria itu selama ini.
“Bum, lo nge-prank gue?” tanyaku. Pria itu menggelengkan kepalanya.
“Nggak Lun, gue serius,” ucapnya lagi masih dengan tangan yang menggenggam erat tanganku. Astaga, apa-apaan ini, jika sampai Kak Reza tau, matilah diri ini.
“Bum, lo gila apa gimana!”
“Udah ah ini bukan april mop! Becanda lo gak lucu!” ucapku, melepaskan genggaman tangan Bumi. Tapi, sialnya malah tubuh ini terjatuh dan menimpa tubuhnya.
__ADS_1
“Oh my Gosh!” ucapku
“Lun, biarkan seperti ini dulu,” ucap sahabat gilaku itu. Aku segera beranjak, tetapi malah terjatuh lagi, karena kaki ini tersandung kaki Bumi.
Bumi masih dalam posisi diam saja, inginku menghajarnya jika tidak ingat ini ruang training. Seseorang membuka pintu ruangan.
Ceklek
Sepatunya, derap langkahnya begitu kukenal, bahkan bayangan tubuhnya saat menutupi cahaya lampu pun aku begitu mengenalnya, sudah pasti tamatlah riwayatku kali ini.
Luna POV End
“Kalian?” ucap Reza saat melihat istrinya bersama Bumi di ruang training. Tangannya gemetar, sorot matanya begitu tajam sangat terlihat jelas, kapten itu sedang menahan emosi.
“Kak..” Luna seketika bangun dari lantai dimana dia terjatuh bersama Bumi. Bumi pun ikut berdiri dan memasang wajah tak bersalah.
“Aku sudah cukup sabar melihatmu terus mengganggu istriku selama ini,” ucap Reza menarik kerah seragam Paku Bumi.
“Capt, saya minta maaf. Saya mencintai Luna, sejak dulu,” Bumi mengatakan hal yang selama ini sangat tidak terduga oleh Luna maupun Reza.
“Kau tau status hubunganku dan Luna?” tanya Reza masih belum melepaskan cengkraman itu.
Bumi mengangguk pelan.
“Kau tau dia istriku?”
"Iya Capt," jawab pria keturunan etnis Tionghoa itu.
Sementara Luna hanya terdiam ia masih tak dapat mempercayai apa yang sedang terjadi. Kemarahan tampak jelas di wajah Reza, tetapi entah bagaimana pria itu begitu lihai dalam mengatur emosinya.
“Tau Capt,” jawab Bumi. Semakin membuat Luna membulatkan matanya akibat shock.
“Lalu mengapa kau masih mengganggunya?” Reza mulai kehilangan kendali, wajahnya memerah, cengkaraman tangannya semakin kuat, hingga menampakkan otot kekarnya.
“Saya, mencintai istri anda Captain!”
“Biarkan Luna yang memilih,” Bumi semakin memancing emosi nahkoda itu.
Bughh
Kemarahan tak terbendung lagi, kemalanganpun menimpa Bumi.
Reza memukul pria itu, hingga tersungkur ke lantai. Luna mnejerit ketakutan, suaminya memang hanya memberikan satu pukulan tetapi berhasil membuat Bumi pingsan.
“Charles, urus dia!” ucap kapten itu, pada staffnya.
Reza dan Charles adalah teman baik, Reza menganggap pria itu sebagai sahabatnya, dan perihal pernikhannya dengan Luna pun, Charles juga telah mengetahuinya.
Charles membawa Bumi keluar dari ruangan itu, dengan sangat berhati-hati, sebab akan menjadi masalah jika kru lain melihatnya. Jangan tanyakan lagi, bagaimana Luna, dia masih tertunduk tak berani menatap suaminya.
"Kak.. "
"Aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Luna terbata.
__ADS_1
"Jelaskan saja, tapi tidak dengan kata-kata," ucap Kapten itu, lalu menarik tangan istrinya menjawa gadis itu melewati koridor rahasia, dimana tak ada kru lain yang tau jalur itu. Sebuah jalur rahasia menuju kabin kapten.