
Deburan ombak, hujan deras dan butiran salju yang turun di peraian Baltic malam itu seakan menjadi saksi bisu kegiatan penting pasangan halal tersebut.
Reza menatap istrinya yang telah terlelap di sampingnya, sisa peluh masih tampak pada kulit putih Luna, begitupun dengan sisa air mata pada sudut netranya.
Pria yang masih bertel*njang dada itu membelai wajah istrinya, dengan lembut, dengan penuh kasih sayang. Seakan sosoknya yang dewasa telah kembali begitu saja. Kapten itu tau jika mungkin Luna akan marah padanya saat gadis itu terbangun keesokan harinya.
Tetapi, ia tak perduli. Bagaikan api yang hampir padam dan menyala lagi akibat tiupan angin, begitulah perasaan Reza, dia sangat tidak menyukai jika miliknya diganggu orang lain. Bagi Reza tersenyum dan bersikap ramah pada seseorang yang menyukai kita adalah suatu bentuk pemberian harapan pada mereka.
Tidak ada yang semu dalam hidup ini, jika kau ingin menolak, maka katakan tidak, namun jika kau ingin menerimanya, maka katakan saja iya. Jangan menggantung seperti sekoci yang terpasang pada badan kapal.
Pilih putih atau hitam, jangan menjadi abu-abu.
Jangan mengambangkan keputusanmu pada suatu pilihan, karena kau bukanlah kapal di atas permukaan lautan, tidak mendarat dan tidak tenggelam, hanya mengapung mengikuti kemana nahkoda membawamu, teguhkan pilihanmu dan buatlah keputusan.
Itulah hal yang ingin dikatakan Reza pada istrinya, Luna tau jika Bumi menyukainya, begitupun dengan bosnya, juga Arsha. Tidak seharusnya Laluna terlalu akrab pada mereka semua. Tidakkah ia tau, jika jarang sekali pria tulus di atas laut? begitupun di darat, buaya di darat saja banyak, apalagi buaya di air, yang mana merupakan habitat asli mereka.
Sungguh, hari ini Luna telah mendapatkan pelajaran berharga, dan Reza telah mendapatkan pengalaman berharga, ia berharap setelah kejadian hari ini, istrinya itu lebih bisa bersikap. Meskipun menuntut haknya bukanlah suatu hukuman.
Reza POV
Aku tak seperti diriku hari ini, entah mengapa emosiku meluap begitu saja saat melihat pria itu menyatakan perasaannya pada istriku. Dan istriku pun tidak menunjukkan penolakan apapun, Luna hanya termenung, terdiam mendengar perkataan Bumi,
Hingga ingin rasanya kuhancurkan semua CCTV di area bridge ini, saat mataku menangkap Bumi menggenggam erat tangan istriku. Jika bukan kerena Charles, kapal mungkin akan berlabuh saat itu juga, di pelabuhan manapun, tanpa perencanaan apapun.
Hanya untuk menurunkan kru bernama Paku Bumi Lee,
"Capt, tunggu! jangan gegabah!" ucap Charles menghalangi langkahku untuk menghajar pebinor itu.
"Apa kau akan diam saja, saat istrimu ditikung seseorang?"
"Tidak Capt, saya akan membuangnya ke laut saat itu juga," ucap staffku itu.
"Bagus, itulah yang akan kulakukan!" aku pun melanjutkan langkahku.
"Capt, jangan kita lihat dulu tanggapan nyonya," pria itu kembali membuatku tenang. Aku pun kembali duduk.
Kulihat Luna akan melangkah keluar, tetapi tiba-tiba saja mereka terjatuh bersamaan, Bumi merengkuh tubuh istriku itu, tanganku gemetar menahan kekesalan, mungkin itu memang ketidaksengajaan, tetapi tentu Bumi juga memanfaatkan kesempatan itu bukan?
Cukup lama mereka berpandangan dalam adegan bak sinetron-sinetron percintaan basi.
Aku tak tahan lagi.
"Kapten jangan!" ucap Charles kembali menahan tubuhku saat kakiku kembali melangkah.
__ADS_1
"Menyingkir Charl!" aku mendorong tubuh pria bersetrip tiga itu.
"Capt, gunakan akal sehat anda, bagaimana jika kapal berpenumpang 1500 tamu dan 600 kru ini harus kehilangan nahkodanya!"
"Apa maksudmu!"
"Saya tidak ingin anda tertangkap dan masih penjara akibat kasus pembunuhan, meskipun napi di sini dibayar, tetapi tetap saja! saya tidak inginkan MS Eurod*m berlayar tanpa kaptennya!" ucap Charles.
"Jangan mengada-ada Charles!" aku memang geram pada Luna dan Bumi, tetapi aku lebih geram lagi pada sahabatku ini.
"Charl, menyingkir!"
"No Captain!"
"Oh, Neptunus bawa pria ini bersamamu!" aku tak tahan lagi, aku pun mendorong tubuh Charles, dan melangkah meninggalkan anjungan.
"Capt, tunggu!" Charles berlari mengikutiku.
"Jika kau terus menggaggu, maka kaulah yang akan kubuang ke laut!" seketika pria itu bersikap normal kembali.
"Capt, saya ada di pihak anda!" ucapnya tegas. Menyebalkan.
"Dengar, kau yang akan mengurus Bumi setelah ini, dan bawa radio juga telepon genggamku bersamamu!" ucapku sambil tetap berjalan menyusuri koridor lantai dasar, menuju training room.
"Hari ini kapal ini milikmu sepenuhnya!"
"Aku akan membawa nyonya ke surga!" dengusku kesal, bukannya mengerti maksudku tetapi pria dewasa itu masih saja membutuhkan penjelasan.
Ceklek
Rasanya mata ini memanas, sepanas dadaku, melihat adegan yang kulihat di anjungan tadi masih belum berakhir.
"Kalian?" aku langsung menarik tubuh pria itu dan memukulnya hingga membuatnya terjatuh dan tersungkur ke lantai. Luna panik dan menjerit tampak jelas ia sangat ketakutan.
Akhirnya amarah dan hawa nafs* bercampur menjadi satu saat aku membawa istriku ke Kabin, melalui koridor khusus.
Luna menangis, memohon dan merengek agar aku menghentikan naluri kelelakianku, tentu saja itu tidak mungkin. Aku tidak akan menahan diri lagi kali ini.
Tubunya bergetar, begitupun dengan tubuhku. Tak hanya sekali, tetapi berulang kali, Dia benar-benar membawaku ke surga malam ini. Berharap benih yang tertanam akan menjadi kabar gembira untuk semua orang di rumah.
Reza POV End
Luna POV
__ADS_1
Jangan tanyakan lagi, bagaimana rasanya saat kau harus membawa suamimu ke surga untuk pertama kalinya, jujur saja bagiku itu sakit sebab dia melakannnya dengan penuh emosi.
Kesal sekalilah pokoknya genkkk!! 😅
Saat kau mengharapkan malam pertama yang manis dan romantis, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Aku lelah, bahkan pinggangku seperti ingin memisahkan diri dari badanku sendiri.
Benar kata Mbak Ana, sama sepertinya, kakiku sangat sulit untuk digunakan berjalan, akupun tertidur, terlelap, tidak perduli lagi akan apa yang dilakukan suamiku setelah itu, mataku benar-benar ingin terpejam merasakan tubuh yang remuk redam.
Luna POV End.
Melihat istrinya yang menggeliat, dan menguap meregangkan kedua tangan mulusnya ke atas tanpa selimut membuat Reza kembali mengulangi kegiatan semalam.
Diapun masuk ke dalam selimut istrinya dan kembali menghujani Luna dengan ciuman, menyadari seseorang mengganggu tidurnya, gadis itupun terbangun.
"Kak, aku lelah sekali!"
"Jangan mengulanginya jika kau masih belum sadar!" ucap Luna sambil memejamkan matanya.
"Aku selalu sadar sayang," ucap Reza semakin menuruti has*atnya.
Luna mend*sah menerima rangsan*an dari tubuh sixpact itu, gadis itu sudah bukan gadis lagi saat ini. Dia telah sepenuhnya menjadi seorang istri.
Beberapa kali pelepa*an kembali terjadi, diapun memejamkan matanya setiap kali sesuatu yang hangat memenuhi rahimnya. Masih ada rasa kesal di hati istri kapten itu, tetapi rasa lelah dan nikma* seakan mampu mengalihkannya.
Reza melenguh saat mencapai puncaknya, kembali rambut mowhaknya menjadi sasaran Luna saat pria itu mempercepat dan memperdalam gerakannya, jika tubuh istrinya penuh dengan tanda cinta darinya, maka tubuh Reza penuh dengan cakaran kuku jari lentik Laluna.
Malam panjang terlalui, menjelang pagi. Drama kembali terjadi saat dua insan itu sudah kambali memiliki kesadaran penuh.
"Biarkan aku melihatnya Luna!" ucap Reza, mencoba membalikkan tubuh Luna yang memunggunginya.
"Tidak mau!" ucap Luna yang masih kesal itu. Tetapi Reza masih saja bersikukuh memaksa.
"Lihat sebentar saja, aku ingin memeriksanya!"
"Tidak Mau! periksa saja punya kakak sendiri!"
"Punyaku tidak sakit sayang!"
"Punyaku juga tidak sakit!" jawab Luna ketus.
"Jika tidak sakit, maka biarkah aku melihatnya,"
(Astaga perkara lihat-melihat doang ribut 😪)
__ADS_1
"Tidak kak! kau telah merobeknya!" Luna menarik selimut dan menutupi wajahnya.
"Aku ingin melihat robekannya jika begitu," Reza masih ingin mengerjai gadis itu. Baginya saat ini dinding yang sempat membatasi dirinya dan Luna telah roboh dan istrinya telah menjadi miliknya sepenuhnya.