I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Reza POV - Tunangan Pengganti


__ADS_3

Rasanya mataku tak bisa berkedip sedikitpun saat melihat tunangan pengganti yang disiapkan oleh keluargaku itu. Bagaimana mungkin Luna lah orangnya.


Aku kembali menatapnya lekat-lekat takut jika ini hanya halusinasi, tetapi meskipun berulang kali kucoba untuk tersadar ternyata benar itu Luna.


"Gimana Kak? Cantik kan calon tunanganmu?" ucap Ganis, adikku. Tetapi aku masih mematung menatap Laluna. Bagaimana dia bisa berada di sini dan tiba-tiba menjadi tunanganku menggantikan Sharon.


"Roosevelt, sadarlah. Jangan terlalu lama menatap putri om Pram itu, atau kau akan membuat wajahnya semakin merah." Ucap Papa, menggodaku.


Akhirnya aku pun tersadar dari lamunan.


"Baiklah, mari kita mulai acaranya every body! " Ucap mama.


"Pa, tunggu bolehkah Reza berbicara pada Luna sebentar?" kataku.


"Hey boy, bahkan kau sudah tau namanya rupanya?" tanya papa terkejut.


"Luna, apa kamu kenal sama Nak Reza?" tanya ayah Luna kepada Luna, sungguh sepertinya mereka semua sama sekali tidak tau jika kami saling mengenal satu sama lain.


"I-iya Pak, dia adalah kapten di kapal Luna magang kemarin." Ucap Luna masih dengan menundukkan kepalanya, menghindari tatapanku.


"Luna, bisakah kita bicara sebentar?" tanyaku dan Luna pun mengangguk sambil mengikutiku dari belakang meninggalkan segerombol orang-orang yang sedang terkaget-kaget itu.


***


Kami pun berjalan menuju taman di samping aula tempat acara pertunanganku yang telah dihias juga. Sungguh keluargaku telah menyiapkan segalanya dengan sangat matang.


Beberapa relasi dan rekan bisnis Papa menyapaku dan Luna, aku pun membawa Luna menjauh dari keramaian. Suasana hatiku saat itu benar-benar tak bisa kuungkapan dengan kata-kata.


"Luna, sebelumnya aku minta maaf atas segala kejadian hari ini." Ucapku sambil menatap wajahnya. Sungguh Luna terlihat sangat cantik malam ini.


"Capt, sebenarnya apa yang terjadi? bagaimana bisa tunangan anda menghilang begitu saja?" tanya Luna dengan wajah yang tak kalah gugupnya denganku.


"Dia kabur bersama kekasihnya, Luna."


"Saya, turut berduka atas musibah yang menimpa anda dan keluarga, kapten." Ucapnya sambil menepuk pundakku, astaga sentuhan tangan itu lagi-lagi membuatku terpaku selama beberapa detik.


"Tidak Lun, aku tidak sedang berduka." Ucapku, sungguh menghilangnya Sharon sama sekali tidak memberiku rasa duka sedikit pun. Dan mungkin saat ini hatiku sedikit bahagia karena ternyata tunangan pengganti itu adalah Luna.


"Tapi kapten, bagaimana mungkin kita bertunangan sedangkan anda tau hubungan kita hanya sebatas kapten dan ABK."


"Jangan khawatir Luna, anggap saja ini hanya untuk sementara setelah ini kita pikirkan lagi langkah selanjutnya." Ucapku, mencoba meyakinkannya.


"Saya masih sangat shock dengan semua ini capt. Apa anda yakin semuanya akan baik-baik saja setelah ini?" tanya Luna, sambil membetulkan rambutnya dan itu membuatku lagi-lagi kehilangan fokus.


"Ya, tentu saja. Jangan takut Lun, aku tau mungkin ini akan melukai Bumi. Tetapi, aku bisa menjelaskan padanya nanti." Ucapku.

__ADS_1


"Bumi? Ada apa dengan Bumi?"tanyanya seperti kebingungan saat aku menyinggung hubungannya dengan Bumi.


"Ya, bukankah kau berpacaran dengan Bumi?"


"Apa Capt? Saya pacaran sama Bumi? Haha, yang benar saja." Jawab Luna tertawa mungkinkah aku salah bicara.


"Iya, apa benar kau dan Bumi memiliki hubungan?" tanyaku. Tetapi bukannya menjawab Luna malah semakin tertawa terbahak-bahak.


****


"Reza, Luna, ayo acara akan segera dimulai. Jangan terlalu lama mengobrolnya" terdengar suara mama mengacaukan perbincangan kami.


Dan Luna pun segera pergi meninggalkanku menuju ballroom. Kami berjalan bersama memecah keramaian tamu-tamu yang hadir, dengan tangan Luna berpegangan pada lenganku. Sungguh orang kan berpikiran jika kami adalah benar-benar pasangan.



Acara dimulai dan aku memasangkan cincin di jari manisnya, begitupun Luna yang juga telah memasangkan cincin pada jariku. Meskipun bisa dibilang ini hanya pura-pura tetapi entah mengapa rasanya begitu mendebarkan.


Kulihat Luna sangat tenang, bahkan dia juga beberapa kali tersenyum, mungkinkah hanya aku yang merasakan debaran itu.


"Luna, apa kau merasa biasa saja?" bisikku pada telinganya di tengah keramaian tamu dan alunan musik romantis.


"Ya, capt. Memangnya kenapa?"


"Ah, tidak. Aku hanya merasa canggung."Ucapku.


"Ya, kau benar." Sungguh bila memang ini sungguhan aku tidak akan menolaknya. Bukankah Luna cukup cantik dan muda untuk dijadikan istri.


***


Acara pun selesai dan seluruh tamu meninggalkan ballroom.


"Nak Luna, terimaksih telah bersedia menyelamatkan keluarga Vandenbergh. Terima kasih tuan dan nyonya Aditama." Ucap Ibunda Ganis itu sambil memelukku.


"Terima kasih agent Pram, nyonya Larissa dan juga Laluna, entah dengan apa aku harus membalas kebaikan kalian." Ucap papaku begitu menunjukkan rasa bahagianya.


"Tidak, jangan berlebihan Alex, yang terpenting sekarang adalah jaga kesehatanmu." Balas Pramuja, ayah Luna.


"Om, tante dan Luna, Saya juga sangat berterimakasih. Entah apa yang terjadi jika Luna tidak bersedia membantu kami hari ini." Ucapku dengan hormat, apalagi setelah aku tau bahwa Ayah Luna adalah seorang BIN.


"Jangan khawatir Nak Reza, sungguh kami ikhlas membantu." Kata Larissa, ibunda Luna.


***


Aku pun berjalan menuju keluar ruangan dengan segelas minuman di tanganku.

__ADS_1


"Kapten, apa yang harus kita lakukan setelah ini?" ucap Luna sambil menghampiriku.


"Hmm, menurutmu?" tanyaku, menggodanya. Sungguh aku tak percaya semakin dilihat, dia semakin cantik. Aku masih mengingat saat tanganku ini memegang tangan halusnya dan memasangkan cincin di jarinya.


"Apa aku bisa melepaskan cincinnya sekarang?" tanyanya.


"Ja-jangaan Luna!" teriakku, saat kulihat dia mulai menarik cincin itu dari jari manisnya.


"Kenapa kapten? bukankah acara sudah selesai?"


"Tunggu, papa pasti akan terluka jika melihatmu melepasnya. Setidaknya tunggu beberapa waktu lagi ya. Aku mohon Luna." Jawabku, sesungguhnya aku sedang mencari-cari alasan untuk mempertahankan drama ini.


"Lalu?"


"Kita ikuti dulu alurnya ya, kita tunggu kemauan papa selanjutnya."


"Maaf Luna, aku sudah sangat merepotkanmu." Ucapku, merasa bersalah padanya


"Tidak Capt, jangan bicara seperti itu."


"Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan Kapten mulai sekarang?"


"Tapi kenapa Capt? bukankah aku ABK mu?" tanya Luna dengan wajah polosnya.


"Luna, please. Kita tidak sedang berada di lingkungan kerja saat ini."


"Lalu saya harus memanggil anda apa Kapten?" lagi-lagi dia bertanya, sungguh aku sangat gemas melihatnya.


"Apapun, Kak Reza misalnya?"


"Baiklah kak Reza, kakaknya Ganis. Hehe." Jawab Luna.


"Bagaimana kau bisa mengenal Rengganis Lun?" tanyaku


"Ya, dia adalah kakak tingkatku di kampusku yang pertama sebelum aku masuk ke sekolah kedinasan." Jawabnya, astaga bahkan adikku pun lebih tua dari Luna. Semoga aku tak terlihat seperti sugar daddy saat berjalan dengannya nanti.


"Jadi kalian sudah lama saling mengenal?" tanyaku lagi.


***


"Reza, Luna kemarilah. Kita harus membicarakan tanggal pernikahan kalian." Ucap mama dari kejauhan.


"APAA?!!" teriakku dan Luna secara bersamaan.


Halo semuanya, apa kabar? terimakasih ya sudah singgah di novelku yang receh ini. Yuk mampir juga di Novel temanku.

__ADS_1


Pilihan Hati Kiara❤❤



__ADS_2