
Luna menatap suaminya dengan tatapan tajam, awalnya ia bersikap biasa saja, dan berpikir positif jika gelang ini hanyalah milik teman Reza yang tertinggal atau apa, tetapi ekspresi Reza begitu membuat Luna semakin penasaran akan sesuatu yang terkandung di dalam gelang berlian itu.
“Kak, kenapa hanya diam? Punya siapa ini?” tanya gadis itu mendekatkan dirinya pada Reza.
“Sayang ini –“ Reza gugup harus menjawab apa, ia takut salah bicara dan membuat keadaan yang mulai membaik ini menjadi rusuh kembali.
“Ini apa?” Luna menaikkan intonasinya, membuat sang suami memjamkan mata, baru kali ini ada seeorang yang berani berteriak padanya.
“Sayang, tenangkan dirimu, jangan salah paham dulu,” ucap Reza menarik tubuh itu untuk duduk di atas bed.
“Aku tidak ingin salah paham Kak! Tetapi gesture-mu menunjukkan adanya sesuatu yang kau sembunyikan dariku!”
“Luna, mari bicara baik-baik, kau tak perlu se-emosi ini sayang,” pinta Reza tetapi Luna justru menepis sentuhan tangannya.
Reza mengikuti Luna yang berjalan ke arah balkon, sambil merangkai kata yang tepat untuk menjinakkan istrinya itu.
“Berapa gadis yang pernah singgah di hidupmu Kak? Mungkin aku terlalu kekanak-kanakan tetapi aku tau jika sebagian orang tak akan mampu melupakan masa lalunya dengan mudah, siapa gadis itu kak? Tidak mungkin kau membelikan gelang semahal ini untuk seseorang yang tidak spesial!”
“Luna, aku akan mengatakannya tetapi berjanjilah untuk tidak marah padaku, karena sejujurnya ini hanyalah masa lalu!” pinta Reza.
“Sebaiknya kau jujur padaku Kak, meskipun itu hanya masa lalu, tetapi salahkah aku jika aku ingin mengetahui masa lalu sumaiku sendiri?”
“Baiklah,” Reza menghela nafas panjang sambil menatap gelang itu.
“Gelang ini, aku pernah memberikannya pada temanku, saat aku akan melanjutkan pendikdikanku dulu, tetapi dia menolaknya, lalu akupun mengambilnya kembali,” ucap Reza dengan tubuh bergetar, menahan rasa perih itu kembali.
“Apa dia begitu spesial di hatimu Kak?” tanya Luna, ia bisa menangkap kesedihan di wajah Reza.
“ Apa kakak pernah jatuh hati padanya? Atau bahkan mencintainya?” sergah Luna meskipun pertanyaan itu juga membuat hatinya terasa sakit.
“Luna, sebaiknya kita tidak perlu membahasanya, kita harus ke bandara sekarang!” Reza menarik tangan halus itu, namun Luna tetap bertahan.
“Kak, kita tidak akan pulang sebelum kau menceritakan semuanya padaku!” Luna bersikeras untuk mendapatkan jawaban dari Reza.
“Lun, aku pernah menyimpan perasaan padanya, tetapi percayalah kini perasaan itu telah menghilang setelah kehadiranmu dalam hidupku!” ucap Reza sambil menggenggam tangan sang istri.
“Aku sungguh menganggapnya hanya teman, tidak lebih!”
“Kenapa dia tidak memilihmu kak?”
“Karena dia memiliki orang lain di hatinya, yang sejak lama ia cintai, lagipula aku tak pernah mengatakan perasaanku padanya sayang!”
“Ayolah kita lupakan masalah ini!”
“Kak, kau menyembunyikan hal seperti ini dariku? Bahkan setelah aku menceritakan semua kehidupan yang kulalui padamu! ini tidak adil!" Luna menahan rasa sakit itu, entah mengapa hatinya terasa nyeri saat sang suami mengatakan pernah mencintai wanita selain dirinya.
“Siapa gadis itu kak?” tanya Luna dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
“Apakah dia yang menyebabkan bekas sayatan pada urat nadimu ini?” Luna memegang bekas luka Padang pergelangan tangan Reza.
“Apakah dia yang membuatmu terpuruk dalam beberapa tahun itu?” Luna tak dapat menahan air matanya, perasaan cemburu begitu membuatnya terselimuti emosi.
Sedangkan Reza hanya terdiam, membisu ingin rasanya ia memutar waktu dan menghindari pertemuannya dengan Ana dulu jika memang Luna-lah yang telah ditakdirkan untuknya.
“Katakan Kak!” Luna mendorong tubuh itu.
“Siapa dia?”
Reza kembali menahan perih di hatinya, ia tak ingin menyakiti Luna dengan kejujuran yang akan ia ungkapkan.
“A-ana!”
“Lanthana, Luna!” ucap Reza tak berani menatap mata indah yang sejak tadi telah berair.
“Mbak Ana?” bibir Luna bergetar tak percaya, ia berharap telinganya salah mendengar.
Reza mengangguk, pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Apa Kak? Kau sungguh pernah mencintai Mbak Ana? Kakakku?”
“Ya, Luna! Aku mengakuinya!” Luna memukul dada bidang itu, untuk mengungkapakn keterkejutan sekaligus kemarahannya.
“Jadi Mbak Ana menolakmu, karena Kak Yoshi?” Luna tau jika tentu saja Yoshi tak akan melepaskan Ana begitu saja saat itu.
“Aku, Ana dan Yoshi, kini kami semua berteman bahkan bersaudara, jadi lupakan masa lalu! Karena aku hanya mencintaimu!” Reza memeluk tubuh itu meskipun tanpa balasan dari Luna.
“Tidak Kak!”
“Masa lalu tidak semudah itu untuk dilupakan! Bagaimana bisa aku menikah dengan seorang pria yang juga pernah mencintai kakakku sedalam itu!”
“Kenapa Kak? Kenapa harus kakakku yang menjadi masa lalumu!” ucap Luna menggebu-gebu.
“Sayang semuanya telah berlalu, kau istriku! Dan Ana adalah kakak iparku! Apa masalahnya?”
“Masalahnya, aku tidak tau apakah kau masih menyimpan rasa pada kakakku atau tidak kak!” Luna berlari masuk ke kamarnya, ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Reza.
“Tidak Luna! Sungguh perasaan itu telah hilang sejak lama, terlebih saat aku melihatmu saat pertama kali kita bertemu!”
“Haruskah aku menelepon Ana untuk mengkonfirmasi semuanya? Jika kami memang tidak pernah memiliki hubungan apapun!”
“Asal kau tau Luna, aku tak pernah mengatakan kata cinta pada siapapun kecuali padamu!” Luna masih saja menangis, menganggap Reza selama ini telah tidak jujur padanya.
“Apa Mbak Ana tau kalau kakak pernah menyukainya?”
“Aku tidak yakin Luna, tetapi apapun itu semuanya telah berlalu, Ana mencintai Yoshi dan Aku mencintaimu! Itu saja, jangan berpikiran macam-macam!” pria itu hampir saja berputus asa untuk menyakinkan sang istri, baginya Luna begitu berarti bahkan perasaannya pada Luna melebihi perasaannya pada Ana dahulu.
__ADS_1
“Sayang ayolah, jangan seperti ini! aku bisa gila jika kau terus merajuk!” Reza memeluk tubuh itu dari belakang, karena Luna memunggunginya.
“Siapa lagi yang pernah hadir hidupmu Kak?”
“Tidak ada lagi sayang, aku bersumpah!”
“Jika hari ini aku tidak menemukan gelang ini, kau tak akan berkata jujur padaklu bukan!”
“Aku bukan tidak mau jujur padamu, aku hanya menganggapanya sebagai masa lalu! Satu hal yang perlu kau ketahui Luna,”
“Apa kak?”
“Kapal mungkin akan sering berlabuh pada beberapa pelabuhan yang dilaluinya, tetapi tidak dengan hatiku, karena kaulah pelabuhan terakhir untuk hati dan hidupku!” ucap Reza menatap mata Luna intens.
“Gombal!” Luna menonyor kepala berambut blonde itu.
“Aku sedang tidak ingin digombali olehmu Kak! Dasar kapten tengik! aku benci padamu!”
“Aku berkata jujur Luna, jangkarku telah berkarat di dasar hatimu, sehingga begitu sulit untuk kutarik kembali!” ucap Reza sambil menciumi leher Luna dari belakang.
“Hentikan Roosevelt!”
"Kita sedang dalam mode serius!"
“Aku belum memaafkanmu!” ucap Luna tetapi Reza semakin ingin memakannya,
“Kau terlihat sangat menggoda saat sedang marah-marah sayang!” Reza mengalihkan kemarahan Luna meskipun itu hanya bersifat sementara, lagipula akhir-akhir ini istrinya memang tampak menggoda.
“Lihat saja saat kita tiba di Indonesia besok, aku akan mempertanyakan semua ini pada Mbak Ana!”
“Aku sungguh tidak bisa lagi, memegang perkataanmu Kak!” ucap Luna, ada sedikit perasaan kecewa pada kakaknya karena telah menyembunyikan hal seperti ini darinya tetapi Luna tau, jika Ana pasti punya alasan tertentu untuk melakukaannya.
Sebaliknya gadis itu masih sangat kesal pada Reza, pria yang saat ini sedang sibuk menelusuri leher jenjangnya.
“Kak! Jangan menggigitnya!” pekik Luna saat sang kapten sibuk dengan aksinya pada kulit Luna.
Tok
Tok
Pintu diketuk dari luar.
“Roosevelt! Luna!”
“Papa sudah menunggu kalian sejak dua jam yang lalu!”
“Apa yang sedang kalian lakukan! Ayo pulang! Nanti kwalahan lagi!” ucap Alexander berdiri di depan pintu kamar itu.
__ADS_1