
Luna berjalan menuju toilet wanita tersebut, dan mengantri bersama beberapa wanita yang lain sesama penumpang pesawat yang lain, namun ia sadar jika seseorang sedang mengawasinya dari luar.
Gadis itu banyak belajar dari sang ayah, jika dalam keadaan apapun, kita tidak boleh lengah, mengenai pengintaian ataupun penyerangan, semuanya bisa saja terjadi, mengingat saat keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Luna mengendap dibalik kerumunan itu, dan bersiap untuk membekap sang penjahat, namun saat itu juga seerangan datang dari arah lain.
Nyatanya Albert tidak sendirian di sini, ia membawa anak buahnya. Luna berlari merasa tenaganya tak akan mampu melawan dua orang sekaligus, bahkan banyak.
“Hey! Kau tidak akan pernah bisa kabur ipar Yoshi!” teriak Albert menyusuri koridor yang kian sepi itu, jauh dari keramaian.
“Kau terlalu percaya diri Albert!” teriak Luna, tanpa sadar ia semakin menjauh dari titik keberadaan Reza.
Ah, aku salah arah! Ini bukan jalan menuju gate-ku tadi! gumam Luna sambil terus berlari.
Hingga tibalah dia disuatu sudut yang benar-benar jauh dari keramaian, di sana hanya ada gudang dan beberapa space kosong yang baru saja dibangun jadi tak banyak orang yang mengetahui tempat itu.
“Mau lari kemana kau manis?” tanya Albert sambil mengelap air liurnya yang menetes, tergoda melihat wajah cantik Luna.
“Kau! Jangan mendekat! Aku juara satu karate tingkat provinsi jika kau tau!” ancam Luna, namun sayangnya itu tidak berguna bagi Albert, ia dengan senjata tajamnya berniat menyekap Luna dan menggunakannya sebagai umpan.
“Aku sangat takut, uh!” ejek Albert dengan mimik yang dibuat-buat.
“Jangan mendekat!” bentak Luna.
“Ah terlalu benyak bicara!” pria bertindik itupun menarik tubuh Luna dan mengarahkan pisaunya ke leher sang gadis.
Kak, tolong aku, bagaimana caranya memberitahumu jika aku sedang bersama si brengs*k ini! ucap Luna dalam hati.
“Sebentar lagi. Ayahmu dan kakak iparmu akan membayar semuanya!” Albert mulai menggiring tubuh ramping itu untuk berjalan melalu jalan khusus, ia cukup tau banyak tentang jalan tikus di bandara itu.
Namun saat Albert hendak membawa Luna keluar dari pintu emergency, dengan tiba-tiba seseorang datang.
“Koh, lepaskah dia!” ucap pria bermata sipit itu, yang seketika membuat Luna terkejut.
“Bumi?” ucap Luna.
“Adik, kita sudah mendapatkan umpan ini, ayo kita bawa dia! Siapkan mobilnya!” pinta Albert pada adiknya itu, keluar dari bangunan bandara.
“Koh, jangan!” Bumi menahan tangan sang kakak berniat melepaskan Luna.
“Adik, apa kau gila!” Albert tetap mempertahankan posisi itu dia tak ingin melepaskan buronan yang selama ini mereka incar.
“Koh, aku mohon! Luna tidak bersalah, hentikan pembalasan dendam tidak berguna ini!” pinta Bumi, para anak buah Albertpun semakin kebingungan melihat kedua bosnya saling berargumen.
“Bumi, kenapa kau membantuku? Bukankah kau juga menginginkan kehancuran keluargku selama ini!” tanya Luna, ia memperhatikan wajah sahabatnya tersebut, ada rasa kasihan di hatinya. Bumi terlihat begitu kacau dan tidak memiliki aura postuf sama sekali.
“Luna, aku—“
“Adik cepatlah siapkan mobilnya! Sebelum kita semua tertangkap!” bentak Albertus.
“Koh, kumohon! Kita harus memulai hidup yang baru. Aku lelah dengan semua ini! ayolah kita pergi saja Koh! Tinggalkan Luna di sini!” adik Albertus itu kini bersimpuh di hadapan kakaknya.
“Dasar anak bod*h! cepat berdirilah!” Albert mulai kesal pada sang adik.
“Hey kalian! Kenapa diam saja! Cepat angkat adikku ke mobil!” ucap Albert pada anak buahnya, namun Bumi menolak, ia justru menghajar para anak buah kakaknya itu.
“Astaga! Apa-apaan ini Bumi!” Albert beredecak kesal melihat sang adik yang bertindak konyol karena cinta.
“Bumi hentikan menyerang pasukan sendiri! atau aku kan menusuk gadis ini!” ancam Albert.
“Koh, jangan!” Bumi menghentikan perkelahiannya. Lalu berjalan menuju sang kakak.
“Bumi, katakan apa yang ada di otakmu sebenarnya?”
“Kak, aku mencintai Luna, dengan setulus hati! Jika kau mau, ambil saja nyawaku, tetapi biarkan Luna tetap hidup bersama keluarganya,” ucap Bumi, Luna pun tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Dasar Bumi sedeng! Apa pukulan dari suamiku kemarin telah membuat oatkku sedikit kongslet
__ADS_1
?” tanya Luna.
“Lun, aku mencintaimu! Dan aku tak butuh balasan!”
"Cintaku padamu tak bersyarat Luna!"
“Cih, kau hanya cinta uang Bumi! Kau telah menjual persahabatan kita demi uang! Kau menjualnya kepada Sharon!” bentak Luna masih meraskan kekecewaannya pada Bumi.
“Kau Salah Luna, aku tak seburuk itu!”
“Lalu apa yang kau lakukan padaku saat itu?”Luna semakin mengeluarkan amarahnya bahkan dengan ujung pisau yang sedikit menusuk kulitnya.
“Saat itu aku menggunakan unagku untuk menyelamatkan kakakku itu Lun,” Bumi menunjuk Albert.
“Oh, jadi si brengsek ini yang membuatmu melakukan semua itu!”
“Berhenti mengejekku!” jawab Albert semkain menekan pisaunya pada leher Luna.
“Koh! Jangan!” sekali lagi Bumi menahan tangan snag kakak, kemudian menggigitnya dengan kasar.
“Luna berlarilah! Cepat! Jangan hiraukan aku!” ucap Bumi menahan sang kakak.
“Dasar bod*h siapa yang sudi menghiraukanmu memangnya!” ucap Luna lalu berlari untuk menekan tombol emergency agar pihak Bandara tau jika telah terjadi kerusuhan di tempat ini.
“Bumi! Apa kau gil*!” bentak Albert sambil memegangi tangannya yang terluka akibat gigitan sang adik.
“Dasar kau! Jika bukan adikku, aku sudah membunuhmu saat ini juga!” sergah Albert.
“Jika bukan kakakku, akupun sudah membunuhmu dari kemarin Koh! Aku kecewa padamu! Bukan kleuarga Yoshi yang bersalah selama ini! tetapi ayah kita Koh!”
“Dan ayah Luna, dia hanya sedang menjalankan tugasnya saja! Ayah kitalah yang benra-benar bersalah!”
“Sadarlah Koh!” Bumi mencoba menyadarkan kakaknya.
“Sudah terlambat! Ayo kita pergi adri sini! Cinta hanya bisa membuatmu menjadi b*doh!”
Sayangnya pihak Hongkong terlambat untukl memberikan lapotran kepadanya.
“Luna!” Reza dengan wajah kusutnya menghampiri sang istri.
“Kak!” Luna berhambur memeluk sang suami
“Kenapa kau menon-aktifkan ponselmu!” Reza terlihat begitu marah pada sang istri, sebab dengan ponsel Luna yang mati, ia tidak akan dapat mengikuti GPS yang ia pasang pada ponsel Luna.
Namun amarahnya mereda saat kulitnya meraskan sesuatu yang hangat menetes.
“Astaga lehermu berdarah sayang!” Reza melihat noda darah yang menetes dari leher Luna di kulitnya, lalu menatap tajam ke arah Bumi dan Albert.
“Bumi!!” ucap Reza dengan geram, lalu berlari menuju kedua pria yang sedang berhadapan tersebut.
Bugh!
“Kau sungguh cari mat* rupanya!”
“Aku mneyesal tidak membuangmu ke laut saat itu juga!”
Reza memukul Bumi bertubi-tubi, baginya pria itu selalu saja bersalah dalam hal apapun.
“Kau telah melukai Luna! Kau sangat menantangku Bumi!”
Bugh
“Kak, jangan!”
“Bukan Bumi yang mekukaiku! Tapi dia kak!” tunjuk Luna pada Albert, mengetahui begitu banyak polisi dan anggita BIN mengepungnya, Albertpun berniat untuk kabur.
“Tunggu!” Reza menghampiri buronan itu kemudian menangkapnya dan memberikan pukulan-pukulan sama seperti yang diberikannya pada Bumi, membiarkan Bumi yang sudah babak belur.
__ADS_1
Sementara para polisi telah mengamankan para anak buah Albertus yang jumlahnya cukup banyak, mereka semua sangat ahli dalam penyamaran, meskipun masih ada beberapa diantaranya yang mencoba untuk kabur.
Door
Suara tembakan terdengar saat Albert mencoba lari dari dari genggaman Reza. Yoshi pun panik.
Astaga bule tengik itu! Ternyata lebih bod*h dariku! Sudah kubilang jika Albert itu pshycho. Pshiycho mana yang takut mati ha? Tetapi masih saja ia melawannya! Ah terpaksa kali ini kau akan membantu Reza, aku tak ingin adikku menjadi janda! gumam Yoshi.
“Reza! Jangan melawannya biarkan polisi yang bertugas!”
“Gak Yosh! Gue gak mau bedebah itu kabur lagi!”
“Za, dia itu seiko! Za seiko! Alias pesikopat!” Reza tak menghiraukan ucapan Yoshi, ingatan tentang goresan luka pada leher Luna begitu membuatnya marah.
“Za! Dengerin gue! Gue bakalan nikahin Luna sama Bumi kalo lo sampek mati konyol hari ini!” ancam Yoshi, namun sahabatnya tersebut kian menjauh mengejar sang penjahat hingga tak mendengarkan ucapannya.
Para polisi dan pihak berwajib lainnya ikut mengejar Albert, Reza dan Yoshi, setelah berhasil melupumhkan para anak buah buronan kelas kakap itu, Albertus memliki gangster di wilayah Hongkong dan beberapa kota lainnya, peninggal ayahnya dulu, Nathan Lee.
“Kau yakin mau melawanku ha?” ucap Albert sambil menodongkan pisau ke arah Reza.
“Dasar pengecut! Buang senjatamu jika kau memang lelakii sejati!” bentak Reza.
“Aku memang pengecut, tetapI aku sadar aku lebih hebat darimu!” ucapan Albert membuat Reza semakin naik pitam hingga menarik tubuh itu dan memukulnya lagi dan lagi.
“Hentikan semua ini!”
“Aku bisa membunuhmu jika kau terus melawankui!” ancam Reza meminta pria itu untuk menyerahkan diri.
“Aku yang akan membunuhmu kebih dulu Captain!” ucap Albert dengan mengarahkan sebilah pisau di tangannya ke tubuh Reza.
Sling
Pisau menganyun kencang, bersiap menerjang target membuat semua netra yang memandang terpaku bersiap melihat pertunjukkan memilukan berakhirnya seorang Roosevelt Vandenbergh.
JLEBB
Albert menancapkan pisau itu pada bagian perut sang kapten. Semua orang panik, terutama Luna.
“Kakak!” Luna histeris, melihat tubuh suaminya terdiam tak bergerak terpaku dnegan apa yang sedang menimpa dirinya.
Tetapi diluar dugaan ternyata bukan Reza yang sedang terluka.
“Bumi?!” ucap Reza, pria itu menangkap tubuh limbung Bumi yang baru saja melindunginya, menjadi tameng saat pisau sang kakak yang akan merobek perut Reza dan menggantikannya dengan tubuhnya yang memang sudah tak berdaya akibat pukulan dari Reza sebelumnya.
“Kau melindungiku? Tapi, kenapa?” Reza tak kuasa menhan haru, diletakkannya kepala Bumi pada pahanya.
“Captain!” ucap Bumi lirih, dengan darah yang terus mengucur dari dadanya, serangan Albertus tak sengaja mengenai jantung Bumi Dan membunuh adiknya itu.
"Aku melakukan ini bukan untukmu, tetapi untuk Luna!" suara Bumi mulai melemah, Reza memejamkan matanya menahan perasaan pilu, ia telah melakukan kesalahan hari ini dan mungkin hari-hari sebelumnya.
"Kenapa kau menyelamatkanku Bumi?"
"Karena, jika kau mati. Maka Lunapun akan mati Capt!" senyuman itu tersungging manis di wajah pucat Bumi.
"Aku lebih baik mati, daripada harus melihat cintaku mati!"
Luna berlari menghampiri Reza, dengan buliran bening yang terus mengalir.
"Bumi, apa yang kau lakukan!"
"Kau itu bodoh atau apa?!" meskipun sebenarnya Luna sangat bersyukur ternyata suaminya tidak terluka sedikitpun.
"Cintaku padamu tak bersyarat Luna, sahabatku... "
Bumi memejamkan matanya perlahan tubuh putih itu menjadi dingin.
Albertus mematung dan terlihat kacau, melihat sang adik tergolek lemah akibat perbuatannya, entah tawa atau tangisan begitu tak dapat terbaca siapapun yang melihat pria sakit jiwa itu.
__ADS_1
"Adik, kenapa????" teriakan dan tangisan Albert menggema di tempat itu, petugaspun membekuk Albert, namun Yoshi meminta ijin pada Pram untuk bertemu dengan musuh bebuyutannya itu.