
Suasana di peraian Alaska saat itu seketika dramatis dan mengharukan, saat anggota US Coast Guard dan tim sar membantu mengevakuasi para korban, beruntungnya tidak ada satu nyawapun yang melayang.
Kapten Reza berhasil memimpin kapal raksasa itu menuju daratan terdekat, meskipun dengan kondisi badan kapal yang terkoyak, pria itupun menjalani sejumlah pemeriksaan dengan pihak berwajib. Kemudian menyusul istrinya yang telah dilarikan ke rumah sakit.
Kira-kira seperti ini kondisi kapalnya. Sumber Costa Concordia kapal berbendera Italia yang tenggelam pada tahun 2011 dan tidak ada korban jiwa.
Luna mengerjapkan matanya, perlahan terbangun saat aroma obat-obatan menyeruak menghinggapi indera penciumannya.
Samar-samar terlihat siluet seseorang bertubuhu tegap sedang berdiri di hadapannya. Dengan mata tajam, tanpa senyuman di wajahnya.
“Kak, apa kita selamat?” tanya Luna, tersadar dan melihat Reza.
“Apa yang kau pikirkan Luna?” pria itu menatap tajam sang istri, menahan gemuruh di dadanya.
“Kak, kupikir kita sedang berada di surga saat ini,” ucap Luna dengan polosnya.
“Aku tidak sedang bercanda Laluna!”
“Kak, kau sedang marah? Tapi kenapa? Dimana Arsha? Apa dia juga selamat?” Luna melihat sekeliling ruangan rumah sakit itu, yang hampir seluruhnya terisi oleh penumpang kapal yang berhasil dievakuasi.
“Aku sedang menghukumnya,” jawab Reza singkat.
“Kau tau apa yang kau dan Arsha telah lakukan adalah suatu pelanggaran, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu hari ini, kau sudah berada di kapalku selama dua hari, dan Arsha-lah yang menyembunyikanmu!”
“Kak, bukankah kita baru saja berbaikan tetapi kenapa sekarang kau malah memarahiku!” Luna memanyunkan bibirnya. Reza memeluk tubuh itu, lalu menciumi wajah Luna bertubi-tubi.
“Kau tak tau bagaimana kekhawatiranku padamu Luna, aku pun tidak bisa hidup tanpamu dan anak kita,” ucap Reza. Luna membalas pelukan itu dengan erat, akhirnya pria yang sangat ia rindukan itu kini telah kembali ke sisinya.
“Kupikir Yoshi akan menjagamu dengan benar, tetapi mengapa dia membiarkanmu pergi dari rumah dengan mudah?”
“Kak, aku kabur dari rumah saat tengah malam, setelah memesan penerbangan ke Alaska untuk menyusulmu,” terang Luna.
“Kau sangat nakal sayang!” Reza mencubit hidung mancung itu dengan gemas.
“Lalu, bagaimana kau bisa masuk ke kapal? Aku tidak mendapatkan laporan adanya kru baru datang, Arsha memasukkanmu lewat mana?”
“Lewat jalan rahasia Kak, di dekat marshalling area!” ucap Luna jujur, Reza pun membulatkan matanya tidak percaya.
“Apa? Itu sangat berbahaya Luna, kau bahkan harus menaikki tangga monyet yang curam itu kondisi hamil seperti ini?” ucap kapten itu sambil mengelus perut sang istri.
__ADS_1
“Astaga, Arsha benar-benar keterlaluan!” Reza hendak pergi dari tempat itu tetapi Luna melarangnya.
“Kak, sudahlah! Jangan menghukumnya. Arsha bahkan tidak tau jika aku sedang hamil.”
“Sayang, kenapa kau sangat ceroboh ha!”
“Aku ingin bertemu denganmu Kak, aku menyesal telah mengacuhkanmu beberapa waktu yang lalu,” ucap Luna dengan mata yang berkaca seperti akan menangis.
“Jika hari ini aku tidak bertemu denganmu, apa kita akan bisa bertemu lagi?”
“Apa maksudmu Luna? Apa kau pikir aku akan benar-benar mati?”
“Aku tidak akan meninggalkanmu sayang, kau terlalu cantik untuk menjadi seorang janda!” ucap Reza kesal, padahal saat itu ia pasrah dengan keadaan karena putus asa tidak mendapatkan maaf dari Luna.
“Kalo lo mati, gue beneran bakal nikahin Luna sama anaknya Pak Lurah!” celetuk Yoshi yang entah bagaimana bisa muncul di rumah sakit itu.
“Kak Yoshi?” Luna terperanjak kaget, ia juga merasa bersalah karena telah membohongi kakak iparnya tersebut dan semua anggota keluarganya di rumah.
“Oh, jadi udah baikan nih!” ucap Yoshi sambil melirik Reza dengan membawa map di tangannya.
“Nih sampah lo!” Yoshi melempar map itu ke arah suami Luna itu, Reza pun segera menangkapnya sambil tertawa.
“Thank you Yosh!” jawab Reza, sementara Luna tak mengerti dengan apa yang tak terjadi.
“Bukan apa-apa sayang,” Reza mulai terlihat gugup. Khawatir jika Luna membaca apa yang tertulis pada lembaran itu.
“Lun, mau tau nggak?” Yoshi mulai ingin membuat kekacauan.
“Yosh, jangan!” pinta Reza tetapi semakin melihat Reza memohon, justru membuat pria jahil itu semakin bersemangat untuk mengerjai.
“Apa yang sedang kakak sembunyikan dariku?” tanya Luna.
“Lun, sebenarnya--,” ucapan Yoshi terpotong saat tangan Reza membekap mulut pria tampan itu.
“Apa kak?” Luna semakin penasaran.
“Kak, kita baru saja berbaikan, apa kau ingin membuatku marah lagi?”
“Tuh Za ngaku aja deh sekarang, daripada runyem lagi urusan!” gertak Yoshi. Karena merasa takut dengan Luna, akhirnya kapten itu menunjukkan apa yang sedang ia sembunyikan.
Luna pun meraih map itu lalu membukanya.
Mata indah itu memperhatikan tulisan yang ada pada lembaran itu, lalu kemudian membuangnya sembarangan.
__ADS_1
“Apa maksud kakak ha?” Luna menuntut penjelasan dari sang suami yang kini sedang terdiam dan menundukkan kepalanya.
“Luna, maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu sedih, tetapi inilah yang selalu kulakukan setiap akan berangkat bekerja, karena aku tak tau apakah aku bisa kembali lagi ke sisimu atau tidak, aku hanya ingin meninggalkan semua yang kumiliki untuk anak dan istriku jika memang aku tak dapat kembali lagi,”
“Tapi, aku tidak mau kak!”
“Sayang, sebelum kita menikah surat wasiatku telah kutulis atas nama keluarga, tetapi setelah kita menikah bukankah itu wajar jika aku menuliskan namamu sebagai ahli warisku,” Reza masih tertunduk dan menjelaskan semuanya pada Luna.
“Bukan itu masalahnya Kak! Aku tidak keberatan dengan surat wasiatmu, tetapi kenapa kau melakukannya sekarang!”
“Seakan kau telah mempersiapkan kematianmu dengan sangat rapi! Aku tidak ingin ini kak!”
“Luna semua orang pasti akan mati,”
“Cukup kak! Aku bersumpah akan menonyor kepalamu jika kau masih saja mengatakan hal itu!”
“Tonyor saja Lun, aku akan membantumu!” celetuk Yoshi di sudut ruangan.
“Awas lu Yosh! puas kan lo sekarang?” Reza menonyor kepala kakak iparnya tersebut.
“Kak Yoshi, maafkan Luna ya, Luna telah membuat kalian semua khawatir,” ucap ibu hamil itu dengan penuh penyesalan.
“Janji ya Luna, jangan melakukannya lagi, karena aku yang harus mencarimu kemana-mana!” ucap Yoshi sambil tertawa sejak menghilangnya Luna, Ana terus saja mengomelinya dan menganggapnya tidak bisa menjaga adiknya dengan baik.
Atas ijin dari dokter akhirnya Luna, Reza dan Yoshi kembali ke Indonesia saat itu juga, dengan memastikan jika kehamilan Luna baik-baik saja tentunya.
Di dalam pesawat Reza terus mendekap tubuh istrinya itu, ia masih tak percaya jika Luna-nya telah kembali ke pelukannya lagi.
“Sayang, apa kau baik-baik saja?” tanya Reza sambil membelai perut sang istri.
“Baik-baik saja Kak, dia tidak rewel,” balas Luna membelai perutnya.
“Hai, anak Daddy terimakasih ya telah menjaga Mommy dengan sangat baik di saat Daddy tidak bersama kalian,” ucap Reza menciumi perut istrinya itu.
“Tentu saja aku kuat Dad, mommmy bahkan mengajakku untuk mengejar Daddy hingga ke kapal, mencarimu bersama Mommy seperti Rose yang sedang mencari Jack Dawson saat Titanic akan karam!” ucap Luna dengan suara yang dibuat-buat, begitu terdengar menggemaskan bagi Reza.
“Kau telah membuat jantungku berhenti berdetak saat itu sayang!” Reza mencium pipi bersemu merah itu.
“Kak, apa kita akan pulang ke rumah setelah ini?”
“Tidak, kita akan ke hotel!” ucap Reza menaikkan satu alisnya.
“Untuk apa?”
__ADS_1
“Untuk menghukumu tentu saja!”