
Hari itu pun tiba.
Reza dan Luna sedang dalam perjalanan menuju airport Vancouver, Canada. Yaitu sebuah homeport dimana kapal mereka berlabuh. Reza menggandeng tangan Luna dengan erat.
"Kak, jangan menggandengku, atau semua akan terbongkar," bisik Luna, ia sedikit berjinjit saat bibirnya meraih telinga suaminya, Reza jauh lebih tinggi daripada Luna.
"Luna, ini masih di area airport, tidak masalah! tidal akan ada yang tau" ucap Reza, masih dengan genggaman eratnya. Mereka memang harus menyembunyikan status hubungannya hingga tiga bulan depan, karena alasan magang Luna.
Tak berapa lama, Pramuja dan Larissa datang, mereka ikut mengantar anak dan menantunya ke bandara, mengingat akan butuh beberapa bulan lagi untuk bertemu, sehingga membuat mereka jauh-jauh datang dari Surabaya.
"Luna, Reza, apa semuanya sudah siap?" tanya Pram, pria itu masih berpostur atletis meskipun di usianya yang semakin tua.
"Sudah Pak!" jawab Luna sambil memperlihatkan kopernya.
"Ingat pesan ibu, menurut pada suami ya!" Luna mengangguk patuh. Reza terkekeh, padahal tiga bulan ini, ia dan istrinya terus saja berdebat Karena masalah kecil, untungnya Reza adalah tipikal pribadi yang dewasa.
"Nak Reza, titip Laluna ya," ucap Larissa pada menantunya.
"Tentu Bu, kalau begitu kami check in dulu," Reza melihat jam tangannya, satu jam lagi mereka juga sudah harus boarding.
Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, Reza dan Luna pun menuju tempat checking kemudian boarding.
Dari kejauhan tampak sepasang suami istri bersama kedua putra-putrinya berjalan melalui koridor bandara, mereka baru saja pulang dari Venice, Italy. Dengan tergesa-gesa Ana berlari sambil menggandeng Shian, sementara Yoshi menggendong Gwen yang tak pernah mau lepas dari ayahnya itu.
“Bapak, Ibuk!!” teriak Ana saat melihat kedua orang tuanya tengah berada di area bandara juga.
“Ana? Yoshi?” ucap Larissa tak percaya melihat anak dan menantunya sedang berlari ke arahnya.
“Hey, anak tampan, kau pulang? Kenapa kau tidak memberitahu kakek hm?”Pram menggendong anak laki-laki itu kemudian menghujaninya dengan ciuman.
“Buk, Pak, sedang apa di sini? Bukankah kami tidak memberitahu jika hari ini kami pulang?” tanya Ana.
“Iya, hari ini adikmu berangkat bekerja lagi, bersama suaminya. Makanya bapak ibu mengantarnya," balas Larissa.
“Apa?” Ana tampak shock padahal ia pulang ke Indonesia hanya ingin memberikan surpise untuk Luna, maka dari itu Pram dan Larissa pun juga tidak tahu kedatangan mereka. Yoshi tampak kelelelahan karena harus menggendong putrid gembulnya itu, kemudian Larissa meraih Gwen yang tengah tertidur itu.
__ADS_1
“Uh cucu oma sayang, kau sangat berat ya, sekarang,” ucap nenek itu.
"Kalian ini Gatsby's tadi masih bisa bertemu Luna loh!" ucap Pramuja.
“Lalu kapan Luna dan suaminya berangkat Pak, Bu?” tanya Yoshi.
“Baru saja, mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu,” ucap Pram. Saat itu juga Yoshi segera berlari menuju tempat check in. Antrean begitu panjang, dan ia juga tidak dapat melihat dimana adik iparnya itu berada.
Yoshi terus saja berlari, semakin menjauh dari Ana dan keluarganya, ia memperhatikan para calon penumpang satu-persatu, ia tahu Ana sangat ini bertemu dengan adiknya, bahkan kedatangan mereka ini sebenarnya hanya untuk Luna. Saat matanya sedang sibuk mencari, tiba-tiba saja tubuhnya menabrak seseorang,
Bugghh
“Sorry Bang, lagi buru-buru!” ucap Yoshi saat menabrak pria yang sepadan dengannya itu, yang tak lain adalah Reza.
“Dih abang-abang, emang tukang baso!” balas Reza, seketika Yoshi pun melihatnya dengan terkejut.
“Wah si cacing di sini rupanya?haha,” ucapnya tertawa, ia sama sekali tak menyangka akan bertemu dengan Reza setealh sekian tahun lamanya.
“Apa kabar lu? Chief tengik!”
“Lu sendirian Yosh?” tanya Reza melihat sekeliling.
“Jangan bilang lo lagi nyariin bini gue Za!”
“HAHAHA, tau aja lo Yosh!” Reza hanya bercanda, jujur saja ia memang ingin bertemu dengan Ana tetapi, hanya sebagai teman, Reza sudah cukup bangkit dari keterpurukan ditambah lagi, sekarang ia telah menikah dan mencintai Luna.
“Gue hajar lo ntar! Cacing!” Yoshi berpura-pura kesal.
“Gue udah bukan strip cacing lagi Yosh! Coba cek aja beranda efleet, gambar siapa di sono!” ucap Reza, mengejek, ia pun menatap jamnya dan sebentar lagi pesawat akan berangkat.
“Apaan maksud Lo Za?”
“Eh gue pamit dulu ya! Bini gue lagi nungguin di pesawat!”
Reza pun berlalu, tadinya ia hanya keluar lagi dari pesawat untuk memeriksa tag pada luggagenya. Tak disangka ia bertemu dengan Yoshi, yang tanpa ia ketahui sekarang telah menjadi kakak iparnya, begitupun dengan Yoshi, ai sama sekali tida tau jika Reza telah menikah dengan adik iparnya.
__ADS_1
“Za lo udah nikah?!” teriak Yoshi.
“Udah!” Reza masih sempat menjawabnya.
“Sama siapa woy? Emang ada betina yang mau sama lo?” teriakan Yoshi mengundang perhatian seluruh penghuni bandara.
“Yang jelas bukan sama JENNY!!” pria blasteran itu kian menjauh tetapi ia masih sempat menanggapi pertanyaan Yoshi.
Dalam perjalanan menuju pesawat Reza tersenyum, ia merasa jiwanya telah kembali, bahkan entah bagaimana sisi kakunya meleleh saat ia bertemu dengan Yoshi, di dalam pesawat dilihatnya, istri kecilnya itu tengah tertidur, sebelum akhirnya pesawat itu take off.
****
“Mas, dari mana saja?” tanya Ana, yang sejak tadi menunggunya.
“Mencari Luna sayang, tetapi malah ketemu si songong,”
“Songong? Siapa?”
“Ah, sudalahlah tidak penting, ayo kita pulang,”ajak Yoshi menggandeng tangan istrinya, menyusul kedua orang tuanya yang tengah mendahului mereka bersama cucu-cucunya.
Merekapun berjalan menuju pintu exit dan dijemput oleh David.
“Selamat datang kembali Tuan dan Nyonya,” ucap David, sekaligus menyapa Pram dan Larissa.
“Hai David, apa kabar? Bagaimana kabar Dianna?” tanya Ana.
“Dian sedang berada di Bali, nyonya,” ucap David.
“Ah, baguslah,” itu berarti David dan Dianna telah berbaikan dengan orang tuanya di Bali, meskipun awalnya sempat terjadi perselisihan karena perbedaan keyakinan.
Shian dan Gwen masih bersama kakek dan neneknya, sementara para nanny berada di mobil lain, setibanya di mansions, Ana meminta kedua orang tuanya untuk beristirahat di kamar tamu, sebab Annelis, ibu mertua Ana sedang berada di London.
“An, anak-anak akan tidur di kamar kami ya,” ucap Larissa. Sekilas tersirat senyuman pada wajah Yoshi.
“Jangan Buk, Gwen masih sering menangis di malam hari,” Ana tak ingin putrinya mengganggu istirahat orang tuanya.
__ADS_1
“Ah tidak apa-apa, kan ada bapak, Gwen kan nurut sama kakeknya,” ucap Pram, lalu mengedipkan matanya pada Yoshi. Yoshi pun tersenyum, ia malu sebab ayah mertuanya ternyata tau apa yang sedang ia pikirkan.