I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Kehilangan


__ADS_3

“Dok bagaimana keadaan istri saya?” tanya Reza sambil terus menggenggam tangan Luna. Sekilas tampak kekhawatiran di wajah dokter berkewarganegaraan Filipina tersebut, melihat kondisi Luna.


“Capt, saya rasa kita membutuhkan Obgyn dari darat,”


“Obgyn? Untuk apa?” Kapten semakin ketakutan, sementara Luna sama sekali tidak sadarkan diri.


“Saya khawatir jika nyonya tengah hamil dan saat ini mengalami pendarahan,” ucap sang dokter sambil memeriksa detak jantung Luna. Sementara perawat yang lain sedang mengobati lukanya.


“Apa Dok?” bagaikan menghantamkan ujung kapal ke gunung es, fakta yang mengejutkan itu seketika membuat kapten tak dapat berkata apa-apa.


“Bagaimana mungkin itu terjadi dok?”


“Mungkin saja Capt, pada usia kehamilan yang terlalu dini, biasanya sang ibu akan jarang menyadari jika dirinya tengah mengandung."


“Dan, saya lihat dari gumpalan darah yang keluar, bisa jadi nyonya telah keguguran,” dokter itu seakan tak tega untuk menjelaskan diagnosanya pada Reza.


“Capt, Iam sorry to let you know,” ucap sang dokter saat melihat Reza tertunduk lesu mendengar pernyataaan darinya.


Reza memjamkan mataya menahan sesak di dada. Bagaimana mungkin ia kehilangan calon anaknya yang bahkan belum sempat ia ketahui keberadaannya.


“Saya akan mengirim email ke spesialis kandungan darat untuk memastikan keadaan nyonya, Capt!”


“Dok, carikan obgyn terbaik di kota ini!” ucap nahkoda tersebut, ia tak tau harus berbuat apa.


Bukankan akan sangat menyakitkan jika sebuah berita bahagia yang belum sempat kita terima dengan tiba-tiba saja berubah menjadi kabar duka.


“Sharon!” Reza mengpalkan tangannya dan memukul dinding besi infirmary tersebut.


“Kau sungguh akan membayar semua ini!” ucap Reza tak sabar ingin membalas gadis liar itu, dilihatnya sang istri lekat-lekat, Reza tak pernah menyangka jika buah cintanya dengan Luna akan datang secepat ini dan akan pergi secepat ini juga.


“Capt! Bagaimana keadaan nyonya?” Charles datang denagn tergesa-gesa.


“Dimana dia?!” tanya Reza dengan mata yang memerah, ia sangat menyesali kejadian hari ini.


Jika saja Reza lebih memperhatikan keselamatan Luna mungkin saat ini ia masih mneyandang status ‘ayah’ dari janin yang mungkin belum genap berusia satu bulan tersebut.


“Dia siapa Capt?” Charles bisa merasakan aura kemarahan Reza, meskipun ia belum mengerti tentang apa yang sedang terjadi.


“Sharon!”


“Saya mengurungnya di isolation cabin, Capt!” jawab Chrles, saat itu juga Reza meninggalkan Luna yang masih tak berdaya lalu turun ke kabin isolasi tempat Sharon ditahan.


Reza membuka pintu tersebut, sebauh kabin yang hanya bisa dibuka dari luar namun tak bisa dibuka dari dalam. Gemuruh di dadanya semakin tak terlukiskan saat ditatapnya gadis itu masih bisa tersenyum melihat kedatangannya.


“Roosevelt, aku tau kau akan kesini sayang,” ucap Sharon manja. Namun, ia tak menyadari jika dirinya sedang menggali lubang kuburnya sendiri.


Reza mencengkeram kedua pipi wanita itu dengan kuat. Membuatnya kesakitan hingga sulit bernafas.


“Aku sudah sangat sabar menghadapimu! “ cengkaraman tangan kapten itu semakin kuat membuat buku-buku jarinya memutih.

__ADS_1


“Roose! Sakit!” Sharon kesulitan untuk berbicara sebab bibirnya teremas.


“Sakit?” senyuman tersungging di bibir Reza,.


“Bagaiman jika seperti ini?” Reza menarik tangan gadis itu dan menghadapkan tubuhnya ke dinding. Dia tau itu akan menaykitkan untuk Sharon namun tak akan membunuh gadis tersebut.


“Akkh! Sakit Roose!”


“Apa kau ingin membunuhku?” ucap Sharon saat tangan yang ia gunakan untuk menarik tubuh Luna hingga terjatuh itu kini terpelintir ke belakang.


“Aku bisa saja membunuhmu! Tapi aku masih mencintai istriku!” Reza semakin kehilangan kesabaran saat mengingat bagaimana doketr mengatakan jika ia telah kehilangan anaknya.


“Aku tak setega dirimu Sharon!”


“Kau memanfaatkan rasa hormatku pada ayahmu!” ucap Reza masih dengan cengkraman pada wajah wanita itu.


“Roose! Sakit! Aku bisa mati!” Sharon menangis menahan rasa sakit saat darah keluar dari rongga mulutnya.


“Aku tidak akan membuatmu mati. Seperti kau membuatku kehilangan anakku Sharon!”


“Kau pun telah melukai Luna dengan tangan kotormu ini!”


“Hubungan apa yang kita miliki sebenarnya ha?” Reza mengingatkan gadis itu jika sebelumnya mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain.


“Mengapa kau tiba-tiba saja hadir di hidupku!


"Aku tak pernah mengenalmu Sharon!”


“Kau pembunuh Sharon!” Reza mulai mengendurkan cengkramannya, agar gadis itu tidak pingsan. Pingsan hanya akan membuatnya terbebas dari siksaan Reza, pria itu tak rela jika itu terjadi.


“Ahh!” Sharon terhempas ke lantai, saat sang kapten melempar tubuhnya dengan kasar.


“Roose, aku sungguh jatuh cinta padamu!”


“Jika memang kau kehilangan Luna sekalipun, biarkan aku yang menggantikannya!”


“Aku tak tau jika istrimu sedang menghandung! Jika aku tau sudah dari kemarin kudorong tubuhnya ke laut!” Reza tak percaya jika gadis itu masih bisa berkata demikian meski dengan keadaannya mengenaskan.


“Kau masih berani melawanku Sharon?!”


“Baiklah jika itu yang kau mau!”


“Nyawa akan dibayar denagn nyawa!” Reza semakin kalut lalu mencekik leher wanita itu, ia sungguh melewati batasan yang selama ini digenggamnya dengan kuat.


Saat ini yang ada pada otaknya hanyalah pembalasan untuk rasa sakit dan kehilangan yang ia dan Luna rasakan.


“Uhuk!”


“Uhuk!” Sharon terbatuk akibat tangan kekar yang mencengkeram lehernya.

__ADS_1


Saat itu juga radio captain berbunyi dan memintanya untuk segera ke infirmary. Dia pun tersadar dari amarah, dan kembali mengingat istrinya.


“Luna!” ucap Reza seketika melepaskan Sharon lalu menutup kabin tersebut dan berlari menuju klinik di atas kapal.


Tiba di Infirmary.


Charles mengahmpiri Reza dan mengatakan jika obgyn dari darat sudah tiba dan sedang memriksa kondisi Luna.


“Capt, Iam sorry for you,” ucap sahabat kapten tersebut.


“Charles, akulah ayah terburuk didunia in. Aku tak bisa menyelamatkan anakku yang bahkan belum sempat kuketahui keberadaannya,” ucap Reza, aura ketegasannya sama sekali tak nampak saat ini, ia benar-benar dalam kesedihan yang nyata.


“Tidak Capt, jangan menyalahkan dirimu, ini semua adalah musibah,” Charles mencoba menguatkan Reza.


“Dan Luna, entah bagaimana caraku untuk menjelaskan padanya tentang apa yang terjadi,”


“Capt, cukup jelaskan apa adanya saja. Saya yakin nyonya akan baik-baik saja,” ucap Charles yang kemudian mengingat Sharon.


“Lalu bgaimana dengan Sharon Capt? Apa dia akan terus dikurung di sana hingga polisi datang?”


“Tidak, pindahkan dia!” ucap kapten, dengan amarah yang masih membara.


“Kemana Capt?”


“Morgue!” ucap Kapten dingin.


“Kamar mayat? Apa anda serius Capt?” Chales tak percaya jika Reza akan mengurung Sharon di kamar mayat tempat jenaza disimpan hingga tiba di pelabuhan berikutnya.


"Capt, bukankah itu terlalu kejam?" Charles bergidik ngeri, membayangkan seorang gadis harus terkurung di sebuah ruangan sepi, gelap, dan sempit dengan pencahayaan yang minim. Belum lagi jika datang gangguan dari bangsa dunia lain.


"Tidak ada jenazah di dalamnya saat ini. Aku masih baik hati Charles!"


"Tapi kan vibesnya itu loh Capt!" pria itu memejamkan matanya tak tega pada Sharon.


Mengingat dirinya sendiri saja setiap melewati Morgue akan berlari bahkan berjalan dengan cepat agar segera terlewati.


"Aku sedang ingin menyerang emosionalnya," balas Reza, terkadang siksaan mental lebih menyiksa sari pada fisik.


Tak berapa lama, seorang dokter obgyn keluar dari ruangan Luna dirawat.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Reza menghampiri wanita itu.


"Captain, istri anda akan segera sadar, kami sudah melakukan curetase untuk membersihkan sisa-sisa jaringan yang tertinggal pada rahim nyonya," ucap dokter tersebut.


"Jadi benar, istri saya tengah hamil dok?" Kapten kembali menahan sesak di dadanya.


"Yes, kapten dan sekarang sudah tidak lagi," jawab sang dokter seakan merasakan kepedihan Reza.


"Berapa usianya?"

__ADS_1


"Baru dua minggu Capt, sebenarnya kondisi janin cukup kuat tetapi benturan pada perut nyonya sangat keras,"


"I'm sorry Captain," pungkas dokter.


__ADS_2