
"Roose, apa kau keberatan jika melakukannya?" tanya Alex pada putranya sambil melanjutkan olah raga mereka pagi itu.
"Pa, lalu bagaimana dengan Luna?" Reza tampak berpikir, ia tak mungkin menuruti permintaan Kuppens, meskipun itu hanyalah untuk sebuah drama.
"Kau harus meminta ijin kepada Luna dulu, jika memang tidak diijinkan ya sudah. Tidak perlu melakukannya,"
"Luna pasti tidak akan bisa menerimanya Pa!" Reza pun duduk di bangku taman dengan sang ayah yang masih berdiri.
Kuppens meminta Reza untuk bertunangan dengan Sharon, sebagai permintaan terakhir gadis itu, sebab menurut dokter usia gadis itu tidak akan lama lagi.
"Reza akan memikirkannya Pa, tetapi untuk saat ini Luna tidak perlu tau dulu, karena kondisi kesehatannya sedang tidak stabil," ungkap Reza.
"Papa terserah padamu saja Roosevelt, kau sudah dewasa, kau tau apa yang harus kau lakukan, jika memang rasa kesalmu pada Sharon masih ada, kau bisa melakukannya demi om Kuppens," ucap Alex, ia tak ingin memaksa anaknya demi sahabatnya.
***
Dua minggu kemudian
"Sayang, aku harus ke kota A bersama papa," ucap Reza saat Luna sedang memakan sarapannya, akhir-akhir ini gadis itu memiliki nafsu makan yang meningkat.
"Kak, apa aku boleh ikut?" Luna tak ingin berjauhan dengan Reza mengingat kebersamaan mereka hanya tinggal beberapa hari lagi.
"Umm, perjalanannya cukup jauh. Memakan waktu lebih dari empat jam, apa kau yakin?" tanya Reza dengan raut wajah gugupnya, berharap Luna tetap berada di rumah.
"Tapi, apa kakak akan segera pulang?"
"Ya sayang, hanya sebentar. Nanti malam aku pasti sudah berada di rumah lagi, jaga dirimu ya," pesan Reza lalu meninggalkan rumah itu.
Luna menatap kepergian suaminya dengan nanar, seperti ada yang mengganjal di hatinya tetapi ia mencoba untuk mengabaikan perasaan itu.
Sepanjang perjalanan Reza terus memikirkan istrinya, rasa bersalahpun kian menggerogoti kapten itu, saat ia terpaksa harus membohongi istrinya tersebut demi memenuhi permintaan terakhir Sharon.
Maafkan aku Luna, aku berjanji akan segera pulang sayang, gumam Reza sambil menatap fotonya dan Luna pada layar ponsel.
"Roose, apa kau yakin?" tanya Alex sambil mengemudi.
"Apa yang bisa Reza lakukan pa? Om Kuppens bahkan telah bersimpuh di kakiku kemarin," Reza terlihat frustasi, ia telah beberapa kali menolak permintaan pria itu, tetapi rasa belas kasihan telah mengalahkan pendiriannya.
"Baiklah, semoga tidak akan ada masalah setelah ini ya!" balas sang ayah.
Tiba di kediaman Kuppens
"Daddy, apa dia sudah datang?" Sharon berlari ke arah ayahnya yang telah menunggu kedatangan Reza dan Alex.
"Ya sayang, itu mereka!" ucap Kuppens sambil membelai rambut Sharon yang sudah mulai rontok akibat kemoterapi.
__ADS_1
"Ah astaga, Rooseveltku masih saja tampan sama seperti saat terakhir kali aku melihatnya!" gadis dengan balutan dress putih itu tak dapat menyembunyikan rasa harunya.
Meskipun ia tau jika Reza hanya melakukan semua itu atas dasar belas kasihan kepada dirinya dan ayahnya tetapi Sharon tetap mengganggapnya sebagai sebuah ketulusan dari seorang Reza.
"Selamat datang Roosevelt! Alexander!" sapa Kuppens sambil berjabat tangan.
"Hai Kupp, lama tidak bertemu!" ucap Alex.
"Bagaimana kabar kalian Om dan Roosevelt?" tanya Sharon memandang Reza tanpa berkedip.
"Baik! Dan kau?" Reza menjawab pertanyaan gadis itu dengan nada dingin.
"Aku tak baik Roose! tetapi merasa lebih baik saat melihat dirimu hari ini!" ucap Sharon dengan bahagia.
Kuppens mengajak Reza berbicara empat mata tanpa Sharon dan Alex, agar ia lebih leluasa untuk membujuk pria itu.
"Roose, sebelumnya om minta maaf padamu, om tau ini sangat merepotkanmu. Tetapi om tak punya pilihan lain."
"Sharon ingin agar kau bertunangan dengannya sama seperti acara kalian yang dulu tertunda dan dibatalkan. Apa kau sungguh bersedia?" tanya Kuppens, menunjukkan kesedihannya, ia begitu berharap pada Reza.
"Om, saya tau mungkin semua ini tidaklah benar, terlebih saya telah menikah dan memiliki istri, tetapi demi om saya akan melakukannya," jawab Reza meskipun dengan hati yang berontak.
"Om akan berterimakasih kepadamu seumur hidup om, Nak!" Kuppens memeluk pria itu dengan erat.
"Roose, terimakasih!"
"Kau telah memenuhi permintaanku. Meskipun ini hanyalah sebuah sandiwara. Tetapi aku sangat bahagia dan tetap akan menganggapnya sebagai sesuatu yang nyata hingga waktu menjemputku!" ucap Sharon, dengan wajah yang semakin memucat meskipun tertutupi dengan riasan sekalipun.
"Tak perlu berterimakasih Sharon, cukup jalani sisa usiamu dengan sebaik mungkin, itu saja!" jawab kapten itu tanpa menatap wajah Sharon.
"Aku tau kau sangat mencintai Luna, Roose! tetapi bisakah kau tersenyum padaku hanya untuk kali ini saja?"
"Setidaknya saat fotografer sedang mengambil gambar kita, bisakah kau tunjukkan senyuman termanismu untukku?" pinta Sharon.
Acara dimulai dan tamu mulai berdatangan, suasana pesta itu tampak glamour dan didatangi oleh beberapa wartawan. Kuppens adalah pengusaha terkenal di kota itu dan masyarakat banyak mengenal dirinya.
Reza memasangkan cincin cantik itu di jari manis Sharon, tetapi yang tampak di mata Reza justru bayangan wajah Luna.
"Terimakasih Roose! inilah yang seharusnya terjadi jika saat itu aku tidak bertindak bodoh meninggalkan acara pertunangan kita untuk mengikuti kekasihku!" ucap Sharon dengan mata berbinar menatap wajah Reza.
Kemudian Sharon memasangkan cincin itu pada jari manis Reza yang sebelumnya telah memakai cincin pernikahannya dengan Luna.
Reza melepaskan cincin kawinnya itu untuk sementara, dan kembali memakainya lagi saat acara itu telah usai.
Suara tepukan tangan di pesta itu begitu meriah diiringi dengan lantunan musik romantis, beberapa wartawan mengambil foto Reza dan Sharon dan menayangkannya pada media sosial sejumlah stasiun TV lokal.
__ADS_1
Di Rumah Keluarga Vandenberg
Luna sedang sibuk dengan rasa sakit di kepalanya, disertai rasa mual yang kian menjadi-jadi. Nafsu makannya memang bertambah akhir-akhir ini. Namun ia terus saja memuntahkannya setelah makan.
Beberapa kali Reza ingin membawa Luna untuk pergi ke dokter, karena beranggapan istrinya itu tengah hamil, tetapi Luna selalu menolaknya, ia terlalu pesimis dengan hasilnya yang mungkin akan sama saja seperti sebelum-sebelumnya.
"Sayang, apa kita ke dokter saja sekarang?" tanya sang Ibu mertua.
"Iya Lun! lo lemes banget loh!" ucap Ganis sambil membalurkan minyak kayu putih di sekujur tubuh Luna.
"Tidak usah Nis, tunggu kakakmu pulang saja!" jawab Luna.
"Eh apa kita coba tespek aja yuk!"
"Siapa tau akan jadi surprise pas Kak Reza pulang nanti!" usul Ganis, IA begitu berharap Luna hamil.
Setelah dibujuk oleh Ganis dan ibunya akhirnya Lunapun bersedia untuk melakukan tes kehamilan itu dengan tespack.
"Gimana Lun?" tanya Ganis saat melihat sang kakak ipar keluar dari kamar mandi dengan membawa tespek yang telah digunakan.
Luna berjalan menghampiri Ganis, dengan mata berkaca-kaca tak sabar untuk menunjukkan dua garis itu pada sang adik ipar.
"Nis, aku hamil!" ucap Luna dengan buliran air mata yang menetes pada pipinya, ia sungguh tak dapat mengungkapkan rasa haru itu. Tak menyangka jika Tuhan akan mengabulkan permintaannya dan Reza saat itu juga.
"Oh God!!"
"Serius Lun? Ah akhirnya!!" Ganis bersorak dan mengambil tespek pada tangan Luna lalu melihatnya lekat-lekat.
"Yess! baby shower! mama cepatlah lihat ini!" teriak Ganis memanggil nama ibunya yang sedang berada di dapur untuk membuatkan minuman untuk Luna.
Ganis memeluk tubuh sahabatnya itu dengan penuh kasih sayang, dan kemudian meraih ponselnya untuk menelepon sang kakak.
Namun saat tampilan ponsel itu menampilkan tayangan breaking news, mata Ganis seketika membulat sempurna, melihat foto sang kakak ada di halaman pertama.
"Nis, ada apa?" tanya Luna.
"Ganis?" Luna pun melihat apa yang sedang dilihat oleh sahabatnya tersebut.
"No Lun! jangan lihat ini!" gadis itu begitu tekejut dengan apa yang baru saja dilihatnya, ia harus memeriksanya lebih detail lagi dan memastikan kebenarannya sebelum Luna melihat berita itu.
"Ganis, ada apa?" Luna semakin penasaran dengan apa yang adik iparnya sembunyikan, dengan sigap Ibu hamil itu merebut ponsel Rengganis.
"Kak Reza?" Luna terpaku, terdiam dan memperhatikan foto suaminya yang sedang tersenyum lebar bersama Sharon, dengan menunjukkan cincin indah pada masing-masing jari mereka.
Wah, apa yang akan terjadi ya Gaiss setelah ini?? Apakah Luna akan memaafkan Reza? Atau justru pergi meninggalkan pria itu bersama anaknya? 😫😫
__ADS_1