I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Tanpa Judul


__ADS_3

Setibanya di Amsterdam, Reza dan Luna langsung menuju ke hotel tempat mereka menginap, menunggu jemputan sang ayah. Alexander sudah berada di tempat itu sejak beberapa hari yang lalu.


Dia begitu bahagia saat mengetahui jika menantunya itu akhirnya bersedia untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut untuk organ reproduksinya.


“Luna, apa kau tidak merasa gerah?” tanya Reza, saat sang istri meninggikan suhu AC di kamar itu menjadi lebih hangat.


“Gerah darimana Kak? Aku sedang kedinginan,” jawab Luna sambil membetulkan syal pada lehernya.


“Aku merasa kepanasan!” Reza mulai gelisah lalu memutuskan untuk keluar kamar.


“Kak, mau kemana?” tanya Luna saat sang suami baru saja melangkahkan kakinya.


“Keluar sebentar, mau ikut?” tanya Reza.


“Tidak Kak,” jawab Luna yang sedang beregelut dengan selimut tebalnya.


“Jika saja aku tidak kepanasan, aku sudah menghangatkanmu sejak tadi Luna!” goda Reza pun berlalu meninggalkan sang istri yang sedang kedinginan.


Ah dingin sekali! Jika saja aku tidak kedinginan pasti sudah ikut Kak Reza pergi jalan-jalan menikmati negeri kincir angin ini.


Reza melihat sekitar berniat untuk membeli minuman, dingin. Terapi dia mulai merasa kenehan pada dirinya. Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh Luna,


Jika saat ini suhu memang sangat dingin bahkan mencapai minus 0 derajat celcius, orang-orang sekitar sedang mengenakan jaket dan sweater lengkap dengan penutup telinga dan kepala juga sepatu boot.


Tapi tidak dengan dirinya, Reza bahkan ingin melapas pakaian itu, untuk menyejukkan badannya yang sedang dilanda hawa panas.


Reza merasa tak karuan, sementara bayangan wajah Luna semakin mengganggunya.


Hawa panas itu sangat mengganggu, dan kian menyiksa hingga berubah menjadi gair*h.


Reza pun segera kembali ke hotel dengan tergesa-gesa, entah mengapa pria itu begitu ingin menyerang istrinya saat itu juga.


“Luna!” Reza menghampiri tubuh sang istri kemudian, memeluknya.


“Kak? Kenapa?” Luna yang terkejut segera membuka selimut itu dan melihat keadaan sang suami yang acak-acakan.


“Sangat panas Luna!” ucap Reza dengan wajah yang memerah. Lunapun mengambil segelas air di atas meja dan meminumkannya pada sang kapten.


“Kak, apa yang terjadi?” Luna panik saat melihat Reza semakin gelisah, menahan gair*h yang menggelora.


“Kak, apa kau sakit?”


“Atau salah minum?” tanya gadis itu kemudian mengambil selembar flyer untuk mengipasi sang suami, tapi Reza membuang kertas tersebut dan langsung menerkam tubuh istrinya, tanpa aba-aba.


“Kak, kau sangat aneh! Seperti sedang mabuk!” ucap Luna saat Reza berusaha membuka jaket yang ia kenakan.

__ADS_1


“Tubuhmu memerah Kak, begitupun dengan matamu!” Luna panik dan ingin menyadarkan sang kapten.


“Sayang, kau sangat cantik!” ucap Reza dengan suara parau.


“Ah Kak, jangan membuatku takut!” Luna semakin membulatkan matanya, memeriksa detak jantung pria itu, seketika itu ia pun teringat saat dirinya juga pernah dalam posisi seperti Reza saat ini.


“Kak, apa kau meminum obat perangsang?” Luna mencoba menerka-nerka, sambil menyentuh sesuatu yang telah mengeras tersebut.


Reza menindih tubuh ramping itu menatap mata Luna yang juga sedang menatapnya dengan kebingunan.


“Obat perangsang apa sayang? Tidak ada obat perangsang-perangsang!” Reza mulai menelusuri lekuk tubuh itu.


“Ada yang tidak beres!” ucap Luna menutupi bagian terlarangnya. Dia terkejut saat melihat benda sang suami telah siap menyerangnya, meski masih tertutupi oleh penghalang.


“Kak tunggu! Ini tidak benar!”


“Luna, aku sudah tidak tahan lagi, ini sangat menyiksa!” ucap Reza sambil membuka pakaian bawahnya.


“Aku merindukanmu sayang,” ucap Reza lalu memulai semuanya, menciptakan desah*n dan erang*n secara bergantian, tidak perduli dengan sang istri yang masih belum mengerti.


Tidak biasanya Reza seperti itu, biasanya jika pria itu sedang menginginkannya ia akan meminta secara baik-baik pada Luna, berbasa-basi dulu, atau hanya sekedar membuat gombalan ala Roosevelt Vandenberg.


Satu jam berlalu


Tiga


Empat jam berlalu,


Kegiatan masih berlangsung, Reza mulai menunjukkan tanda-tanda akan mencapai puncaknya, sedangkan Luna, sejak tadi ia cukup tersiksa dengan pinggangnya yang seakan ingin terlepas dari tempatnya.


“Luna!” Reza mempercepat gerakan itu hingga tubuhnya bergertar hebat, dipeluknya sang istri dengan penuh kasih sayang.


“Terimakasih sayang,” ucap pria itu, mulai tersadar.


“Luna, apa kau baik-baik saja?” tanya Reza melihat sang istri sedang meringis saat akan bangkit dari tempat tidur.


“Iya Kak, aku tidak apa-apa. Tapi ada yang aneh dengan dirimu,” ucap Luna.


“Apa sayang?”


“Apa aku lebih perkasa dari biasanya?” Reza terkekeh, membuat Luna malu dan tidak jadi mengungkapakan unek-uneknya.


“Aku tidak tau kak, sudahlah sebaiknya tidak usah membahasnya lagi,” ucap Luna dengan wajah yang memerah lalu, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sejujurnya ia tak dapat melupakan kegiatan panas yang baru saja selesai itu.


“Luna, mau kemana? Kau belum menyelesaikan ucapanmu!” sergah Reza, ia sangat suka melihat istrinya tersipu seperti itu.

__ADS_1


"Aku haus Kak," ucap Luna kemudian mengambil sebuah botol dari dalam tas ranselnya.


Luna meneguk minuman itu, yaitu jus yang telah dicampur dengan vitamin dari kakaknya.


Apa ini, bukankah aku telah mengisinya dengan penuh hari ini, tetapi mengapa hanya tinggal setengah? gumam Luna


"Kak, apa kau meminum jus ini? mengapa isinya tinggal setengah?"


"Ya sayang,rasanya lumayan juga!" jawab Reza, tanpa merasa curiga atau apa.


Luna pun meminum ramuan yang dipikirnya hanya jus buah tersebut. Tanpa tau apa yang sebenarnya terkandung dalam sebotol minuman berwarna hijau itu.


Wah vitamin ini cukup segar, meskipun rasanya sedikit aneh, Luna bermonolog lalu kembali meminumnya hingga habis tak bersisa.


Beberapa menit kemudian


"Kak!!"


"Kakak!" Luna panik bukan kepalang.


"Kenapa Sayang?" tanya Reza, mendapati sang istri mengacak rambutnya.


"Panas sekali rasanya! Dan gatal!" Luna panik, ini bukan pertama kalinya ia merasa seperti itu.


"Sungguh sayang?" Reza merangkup wajah memerah itu, sepertinya keadaan yang menimpa dirinya beberapa waktu lalu, kini tengah menyerang istrinya juga.


"Kak, aku yakin ada yang tidak beres pada kita!"


"Iya tapi apa, memangnya apa yang sudah kita makan atau minum hari ini?" Reza tampak berfikir lalu matanya tertuju pada botol kosong milik istrinya tersebut.


"Luna! itu jawabannya!" Reza meraih benda itu, lalu menunjukkannya pada sang istri.


"Kak, aku hanya mengisinya dengan jus dan sedikit vitamin dari kak Yoshi kemarin," ucap Luna jujur.


"Itu dia jawabannya, vitamin dari Yoshi!" tebak Reza yakin, kemudian mendial nomor Yoshi.


"Kak, nanti saja! aku sudah tidak tahan!" rengek Luna, ia sungguh tidak dapat menyembunyikan keinginannya itu, meskipun sebenarnya merasa sangat malu pada Reza.


"Dengan senang hati Laluna!" balas Reza, membiarkan sang istri melakukan apapun pada tubuh kekar itu sesuka hatinya.


Di tempat lain, seorang pria sedang menunggu putra dan menantunya di lobby hotel.


"Ini sudah lebih dari enam jam, seharusnya Reza dan Luna sudah berada di sini," ucap Alexander sambil menatap jam tangannya.


Haruskah aku menyusul dan memeriksa ke kamar mereka? gumam Alex bersiap menanyakan kamar Reza dan Luna pada resepsionis.

__ADS_1


__ADS_2