I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Halo gaise! Iam back


__ADS_3

Halo guys, apa kabar? sehat kan? Author minta maaf ya baru sempat Up Captain Reza. Oh it's sebentar lagi bulan Ramadhan datang kan ya? Selamat menjalankan ibadah suci puasa ya genk. Semoga puasanya berkah ya nanti. 🤗


Luna POV


Kak Reza masih menatapku dengan ekspresi yang tidak dapat kujelaskan, bagaikan seorang pencuri yang sedang tertangkap basah aku sama sekali tak dapat berkata, sorot mata pria berambut blonde itu tidak menyeramkan tetapi cukup membuat jantungku berdegup kencang, jika dalam waktu 30 menit dia masih saja menatapku seperti itu, aku bersumpah akan kabur dari kamar hotel ini menuju ruang ICU rumah sakit untuk memeriksakan keadaan jantungku.


Degh


Degh


Degh


Apa kalian bisa mendengarnya? Tidak? Baguslah, itu artinya suamiku juga tidak mendengarnya. Eh wait, apa kubilang ? Suamiku ? ya, benar Dia adalah suamiku sekarang. Kaptenku menjadi suamiku, ini sangat tidak masuk akal, tetapi lebih tidak masuk akal lagi jika aku harus berpura-pura pingsan hanya karena tatapan pria tampan bermata biru ini.


“Luna, are you okay?” Kak Reza semakin mendekat kepadaku. Aku sadar dia sedang mencoba menyadarkanku dari pikiran liar ini, tetapi entah bagaimana mataku lebih mendominasi dari pada bibirku. Bibir sialaan ini sama sekali tidak mau mengeluarkan sepatah katapun.


“Laluna, apa yang kau pikirkan?” Astaga, si mata biru ini semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku.


“Yes, Capt…” aku mengerjap-ngerjapkan mataku agar segera tersadar dari hipnotis yang kubuat sendiri.


“Apa yang kau lakaukan padaku ?” pertanyaan pemicu detak jantung itupun kembali keluar dari bibir menggodanya.


“Anu.. Kak.. mmmm..”


Kak Reza masih menunggu jawabanku, kini jarak kami hanya berkisar sepuluh centi meter. Apa  kalian tau rasanya diterkam harimau? Tetapi harimau itu sangat tampan, perasaan takut, berdebar dan ingin kabur bercampur menjadi satu tetapi tidak dengan hatiku, hati ini ingin terus dalam posisi ini.


Ah, Luna. Kau sangat munafik, ayo cium saja bibir seksi itu. Bukankah bibir itu sudah halal bagimu? Ayolah Lun, buat keputusan sekarang juga! Sebelum adegan romantic ini berakhir dalam sekejap. Sial, kenapa setan dalam diriku begitu memanfaatkan keadaan ini.  Tapi, baiklah aku akan menurutimu syaitan terkutuk, jarak kami pun semaki intim, mungkin hanya tinggal lima centi meter untuk menyatukan benda kenyal ini.


Aku memejamkan mataku, saat hembusan nafas Kak Reza mulai menyapu area wajahku. Oh Lord, hari ini aku akan melepaskan keperawanaan bibirku, maafkan aku tetapi aku sudah tak mampu lagi untuk mempertahankan kesucian benda ini. Sebab benda di hadapanku ini sangat menggoda iman gadis polos dan tak berdosa sepertiku, yang tak tau caranya berciuman, ehe.


Aku masih dalam mode memejamakan mata, bukankah adegan ciuman selalu seperti yang sering kulihat di film-film. Seharusnya jarak kami sudah tinggal tiga atau dua centi lagi, tetapi tiba-tiba saja suara Kak Reza mengejutkanku.


“Luna..”


Ah, kenapa suara ini terasa menjauh, bukankah sebelumnya kami sedang dalam mode kiss scene?


“Luna, aku akan memesan minuman sebentar.”


Aku pun membuaka mataku, astaga ternyata benar, Kak Reza sungguh menjauh dan meninggalkan adegan romantic yang hampir saja terjadi, pantas saja hembusan nafasnya tak lagi kurasa menyapu area wajahku, pantas saja aroma parfum dan minyak kayu putih yang berasal dari tubuh kekar itu menghilang, nyatanya suamiku benar-benar tidak jadi mengambil keperawanaan bibirku.

__ADS_1


Huufhh


Aku menghela nafas panjang, entah harus merasa lega atau kecewa aku tak tau harus pilih yang mana, kulihat jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi, seharusnya hari ini kami sudah harus check out dari hotel. Beberapa menit kemudian Kak Reza datang dengan dua gelas minuman, satu berwarna kuning, dan yang lain berwarna ungu.


Entah bagaimana, pikiran liarku kembali berkelana, tiba-tiba saja bayangan Kakakku muncul di kepala, aku ingat saat Mbak Ana bercerita tentang minuman ungu yang membuatnya tidak bisa berjalan dengan benar selama beberapa hari. Sungguh, aku yang masih polos ini harus ternoda dengan cerita kakakku yang penuh desahaan itu.


“Lun, kamu minum yang mana?” Kak Reza menyodorkan kedua gelas berbeda warna itu. Aku pun meraih satu gelas yang berwarna kuning.


“Aku ambil jus jeruknya ya Kak,” ucapku.


“Tapi itu jus pisang Luna,” Kak Reza tersenyum simpul, melihatku yang melongo dibuatnya.


“Ah, benarkah? Gak apa-apa Kak, aku suka pisang,hehe,” demi Dewa, dari sekian banyak buah kenapa harus jus pisang yang Kak Reza pilih, dan yang berwarna ungu itu mungkinkah itu jus terong? Astaga, apa-apaan ini.


“Kau ingin mencoba minumanku?” tanya Kak Reza menawarkan si ungu itu.


“Tidak Kak, aku lebih suka punyaku.”


“Tampakanya kau sangat menyukai pisang ya Luna?” Kak Reza memandangi gelasku yang hampir kosong.


Aku pun hanya mengangguk, karena tak tau harus merespon apa.


“Ini V8 juice, atau mix sayuran dan buah, ada buah naga, bit, mentimun, wortel, totalnya ada 8 macam. Awalnya aku tidak menyukainya tetapi, temanku di kapal dulu sangat menyukai jus ini Luna, aku pun mulai tertarik untuk mencobanya. Apa kau mau? Ini bagus untuk stamina.” Entah mengapa Kak Reza sangat mirip dengan kakakku yang juga pecinta jus buah dan sayur.


“Tidak usah Kak, bukankah kita harus segera check out setelah ini?” ucapku sambil memperhatikan jam.


“Kau benar Lun, aku akan mandi dulu. Dan….”


Kalimat Kak Reza menggantung,


“Dan…?” aku pun mempertanyakannya.


“Dan terimakasih telah merawatku semalam, kau telah menghangatkan tubuhku yang kedinginan. Terimakasih Luna,” ucapan Kak Reza berhasil membuatku blushing. Kupandangi tubuh sixpack itu memasukki shower, hati kecilku berbisik, akhirnya Kak Reza mengetahui kebenarannya, siapapun yang memberitahunya aku akan berterima kasih seumur hidupku karena dia telah menyelamatkanku dari serangan jantung bertubi.


 


****  


Kami sedang dalam perjalanan ke rumah Kak Reza dengan menggunakan mobil jemputan. Aku duduk di sebelahnya sambil sesekali melirik wajah tegas tetapi kalem itu, sungguh dilihat dari sisi manapun suamiku ini tetap saja tampan, terkadang aku berkhayal, apakah aku sedang bermimpi atau apa, bisa-bisanya itik buruk rupa sepertiku bisa bersanding dengan angsa bulu emas sepertinya, untung saja ibu memilihkan MUA yang bagus di hari pernikahanku kemarin, karena jika tidak maka perbedaan di antara wajah bulenya dan wajah medokku akan sangat kentara.

__ADS_1


“Kak..” tanpa sadar kata itu terucap begitu saja.


“Ya Luna, ada apa?” asataga, dia menanggapi celetukanku yang tak sengaja kuucap itu.


“Tidak ada apa-apa Kak.”


“Katakan, apa kau perlu sesuatu? “


“Tidak Kak, aku hanya salah ucap,” ingin kumenonyor kepalaku sendiri saat ini.


“Katakan Luna, apa yang kau butuhkan?”


“Apa kau ingin ke toilet? Atau kau ingin es krim? Snack? Permen? Atau apa?” Senyuman pemicu detak jantung itu kembali menyerangku.


“Kak, apa aku terlihat seperti anak-anak? Ababil? Atau apa? Mengapa kau menanyakan hal itu padaku?” ucapku spontan, yang benar saja. Apa aku terlihat seperti bocah tengil yang tak betah berada di dalam mobil sehingga memerlukan sogokan es krim untuk membuatku agar tetap duduk tenang. Tapi, jika ia benar ingin membelikanku es krim, tentu aku tak akan menolaknya.


“Jika aku menanyakan apa terjadi sesuatu di antara kita semalam, apa itu tidak akan membuatmu malu?” Kak Reza menaikkan satu alisnya.


“Aku masih merasakan sentuhan tanganmu di sekujur tubuhku Luna, apa kau yakin hanya menyentuhku saja semalam?”


“Tidak memainkan sesuatu? Atau bermain sesuatu?”


Astaga, apa-apaan ini. Aku menyesal telah menyanggah tawaran es krim tadi, jika ujungnya dia akan memeberiku pertanyaan seperti ini.


“Apa mksud kakak?”


“Apa kau tidak tergoda sama sekali denganku Luna? Apa kau yakin jantungmu bekerja dengan normal saat kulitmu menyentuh area-area teralarang?” raut wajah kalem itu seketika berubah menjadi jahil. Aku masih tak menyangka jika seorang kapten sepertinya bisa berkata demikian padaku, tidakkah ia ingat jika aku adalah bawahannya.


“Kau istriku Luna, jangan berharap aku akan memperlakukanmu layaknya ABK-ku seperti sebelumnya.”


“Oh my Gosh!” aku menutup mulutku yang menganga rapat-rapat, dia Nahkodaku yang dingin itu kini mulai menunjukkan sisi lain dari dirinya, mungkinkah dia yang telah berubah ataukah aku yang memang belum mengenalnya dengan benar.


“Pak, berhenti di Alfinmart atau Indahmart ya,” ucap Kak Reza, kepada supir kami.


“Untuk apa Den?”


“Beli es krim untuk istriku!”


“What??” aku menelan kasar salivaku, sejak kapan Kak Reza bisa mendengar suara hati. Dan kata ‘istriku’ itu, bisakah dia mengulanginya sekali lagi agar aku bisa merecordnya dengan ponselku.

__ADS_1


 


__ADS_2